Jumat, 04 Desember 2015

Waspada dengan penipuan "PESTA ISI ULANG TRI"

Assalamualaikum pembaca yang budiman.

Sinta mau sedikit share nih mengenai penipuan yang mengatasnamakan Tri.

Belakangan ini Sinta sering mendapatkan SMS dari nomor telepon asing (maksudnya nomor telepon biasa, +62xxxxxxxxxx bukannya nomor khusus yang biasanya cuma empat atau lima digit saja).

Kurang lebih isi SMSnya begini "Selamat anda telah memenangkan hadiah dalam program pesta isi ulang tri! Pihak tri mencoba menghubungi anda namun tidak dapat diangkat bla bla bla" dan segala macam kebohongan lainnya. Pikirku, orang ini ga tau siksa neraka ya?

Saya akan mencoba melampirkan bukti screenshot dari blognya (logikanya, perusahaan besar tidak mungkin menggunakan blogger sebagai portal informasi mereka, kan?)

Mohon di klik untuk memperjelas gambar.
Gambar diperoleh dari www.pesta-tri3care.blogspot.com. Sayangnya, si pelaku tidak hanya menggunakan satu akun blogger saja. Pokoknya untuk semua pembaca-apapun undian yang mengatasnamakan Tri dan link blog yang terdapat di SMS tersebut tidak usah ditanggapi saja.

 Isinya omong kosong semua, sampai-sampai mengatasnamakan pejabat dan juga pihak lain yang sama sekali tak memiliki keterikatan dengan hal ini.

Editannya ketara sekali. Percaya deh, sekarang ini udah banyak aplikasi yang dapat disalahgunakan oleh orang-orang jahat yang dimanfaatkan oleh mereka untuk menipu calon korbannya.

Logikanya begini...
1. Perusahaan besar ga mungkin memakai blogger sebagai portal informasi mereka
2. Mereka juga ga mungkin minta pihak ketiga (pelanggan) untuk memberi informasi bahwa seseorang memenangi undian berhadiah.

Pokoknya banyak bohongnya deh.
Sinta pernah dapat setidaknya selusin SMS berisikan nada yang sama.

Karena kesal, Sinta langsung telepon nomor yang dirujuk dan yang terjadi adalah...

Penipu: (Suara bapak-bapak di usia 40/50an. Berat) "Halo selamat si-"
Sinta   : (menyindir) "Selamat siang gundulmu! Cepet tobat, napa? Nipu mulu sana-sini. Belom pernah ngerasain panasnya neraka, Pak?"

(tuut tuut, telepon terputus).


Hahaha...maafkan Sinta yang childish ya...habis Sinta ga tahan untuk ga memberi pelajaran buat si penipu. Semoga dia cepet tobat deh. Kan kasihan keluarganya yang dikasih makan uang haram :')

Sekian! Selalu waspada, gunakan feeling. Berpikir logis sebelum bertindak :)

Semoga kita semua selalu berada di dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Wassalamualaikum.

Candy shi women de xiaomao!

Judul dalam Bahasa Mandarin diatas berarti 'Candy adalah kitten milik kami'.



Aku belum pernah cerita tentang Candy ya. Hehehe...

Alkisah karena Sinta dan adiknya, Satria menginginkan seekor kucing untuk dipelihara, maka mereka berdua pun bekerja keras supaya keinginan tersebut dapat terealisasikan.

Setelah beberapa bulan, kami pun dapat uang untuk mengadopsi anak kucing tersebut. Aku tahu dalam agamaku yang namanya memperjualbelikan kucing itu tidak boleh. Jadi mau bagaimana lagi?

Setelah menghimpun informasi dari internet dan janjian dengan penjual kitten tersebut, berangkatlah Sinta dan Bang Bastian menuju lokasi.

"Rumahnya yang ini kan mbak?"tanya Bang Bastian, menunjukkan rumah gedongan bergaya minimalis di depan kami.

"Feelingku bilang sih bukan, mas"kataku datar. Benar saja, tak lama kemudian seorang pemuda keluar dari rumah lain-yang lokasinya ada di dekat rumah yang kami bicarakan.

"Silahkan masuk, mas...mbak"

Aku dan Bang Bastian saling lirik. Masnya ini mahasiswa. Dan ini kosannya.

Dia menunjukkan kamarnya. Aku dengan polosnya masih bertanya-tanya di dalam hati, mana ya anak kucingnya? 
Begitu pintu kamarnya dibuka...
Aku dan Bang Bastian berusaha keras untuk tidak kaget.

Luas kamarnya sekitar 4x3m. Dan yang bikin kamu sweat drop adalah adanya dua kandang kucing besar dua lantai yang ada di masing-masing sudut kamar tersebut.

Aku...
Speechless.

Kondisinya sedikit lebih baik daripada kitten terakhir yang aku lihat di pasar hewan.

Aku menggendong Candy, si kecil red tabby itu lalu 'memamitkan' dia pada orangtua dan adik-adiknya.

"Papa, Mama, dan adek-adek...Candy pamit ya...kalian sehat-sehat ya"kataku sambil menghadapkan kitten manis itu pada keluarganya. Masnya cuma bisa cengoh dan Bang Bastian menahan malu. Sodara gue rada sengklek! Pasti dia berpikir begitu.

Besoknya, aku langsung bawa Candy ke dokter untuk diperiksa kalau-kalau dia punya penyakit. Dan benar saja, di telinganya ada kutu telinga (karena jarang dibersihkan oleh owner sebelumnya). Dengan malu aku menjelaskan ke dokter kalau kami baru saja mengadopsinya.

Begitu sampai rumah Candy senang sekali karena bisa bermain dengan leluasa dan tidak terhalang lagi oleh sangkar besi yang setiap hari mengukungnya.

Candy selalu buang air di litter box yang sudah disediakan. Ia juga suka berburu dan bermain kejar-kejaran dengan kami.

Kalau solat, Candy suka duduk di samping dekat sajadah dan sama sekali tidak mengganggu.

Candy memang manis dan pintar!

Happy Birthday, Liam!

Hari ini, 4 Desember, William sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-20.

Tadi malam Rowena mau mengirimkan voicenote berisikan ucapan selamat ulang tahun, sama seperti yang biasa ia lakukan pada Bedivere, Saraswati, dan juga teman-temannya yang lainnya. Kemudian gadis itu membatalkan niatnya, ingat betul pada fakta bahwa saat itu anak ini sudah tak mau berteman dengannya.

"Rowena yang bodoh,"tawa gadis itu hambar. "Betul kata Bedivere. Kamu terlalu baik"

Lebih baik ia fokus saja pada kehidupannya yang sekarang ini. Kehilangan seorang teman memang menyakitkan, tapi mau ga mau Rowena harus bangkit dan move on.

Jas Merah: Penyerbuan Belanda di Kota Solo

Aku jadi teringat cerita kakekku mengenai penyerbuan Belanda ke Kota Solo. Kakek bercerita mengenai hal ini saat aku dan Bastian masih SMP.

"Surakarta, puluhan tahun lalu, saat negeri ini masih muda,"Kakek memulai.

"Pasukan Belanda tiba-tiba datang menyerbu-situasi kacau balau saat itu. Banyak warga sipil yang terbunuh di dekat sini. Eyangkung (Kakek-B. Jawa) waktu itu masih kecil..."begitu yang dikatakan beliau saat memulai cerita. Mata kelabunya menerawang, mengingat masa-masa kelam itu.

"Anak-anak yang lebih tua, yang tergabung dalam Korps Tentara Pelajar langsung bertindak, termasuk Masnya eyang"

Aku, Satria, dan Bastian mendengarkan baik-baik. Wajah kami tegang.

Beliau tertawa getir, lalu berkata, "Eyang tertangkap waktu itu, bersama dengan beberapa anak lainnya"

Kami bertiga sweat drop. Kok bisa?
Lalu kami ingat dengan reputasi kakek kami yang semasa kecilnya suka berpetualang dengan kawan-kawannya keliling daerah Solo.

Wajah kami bertiga langsung pucat. Apa yang kiranya tentara musuh lakukan pada anak kecil?

"Lalu...apa yang mereka lakukan?"tanya Bastian.

"Mereka menyuruh kakek untuk menyuci tank"

Kami bertiga langsung sweat drop.
Iya sih kesannya sepele, tapi tetap saja.
Mereka menganggap pribumi sebagai warga kelas dua.

"Kenapa eyang ga berontak?"protesku kesal.

"Namanya juga anak kecil"

Aku dan Bastian bertukar pandang. Karena jika kami ada pada situasi seperti itu, setidaknya kami akan memberontak. Bodoh sih kesannya, dan kami pasti bakal babak belur karena dihajar. Luka bisa sembuh. Hanya saja, kami tidak mau harga diri bangsa kami diinjak-injak seperti itu.

"Setelah itu?"

"Londo (orang Belanda) itu memberi kakek roti dan susu yang baru mereka konsumsi sebagian"

"Loh! Kalau diracun gimana? Kalo haram gimana? Kalo ada penyakitnya gimana?"lagi, dengan kesal aku memprotes.

Kakek tertawa getir. "Zaman dulu, roti dan susu itu barang mewah, Sinta. Engga seperti zaman sekarang ini, dimana kamu bisa makan roti dan susu setiap hari"

Beliau lalu melanjutkan, "Tentara Belandanya baik pada kami. Justru yang keji adalah londo ireng"

"Londo ireng? Maksudnya?"tanya Bastian, awam dengan istilah itu.

"Anggota KNIL. Disebut demikian oleh masyarakat karena warna kulitnya"terang Kakek.

"Rasis,"sindir Satria, singkat dan tajam.

"Jangan salah, mereka sama kejamnya, le"kata Kakek.

Kami bertiga bersyukur sekali karena hidup di masa damai. Kakek berpesan kepada kami bertiga untuk menghargai jasa-jasa pahlawan di zaman dulu dengam bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, supaya dapat membangun dan memajukan bangsa ini.

Tidak terasa, aku mulai menangis. Karena aku merasa masih suka malas kalau belajar, apalagi kalau mata pelajarannya tidak aku sukai (terutama yang BANYAK hapalannya. Aku lebih suka mata pelajaran eksak saat SMP).

"Oh ya, lalu bagaimana dengan Kakek?"maksudku adalah kakak dari kakekku yang merupakan anggota TP.

"Alhamdulillah mas baik-baik saja"kata Kakek, jawaban yang singkat dan padat. Beliau menjawab sambil tersenyum.

Kamis, 03 Desember 2015

Jalan yang Bercabang

"H-2"

Begitu bunyi poster yang terpampang di layar gawai Rowena. Gadis itu tersenyum jahil, lalu mengirimnya ke Liam. Ia sengaja melakukannya karena sebentar lagi dia berulang tahun.

Buat kalian yang masih saja bertanya siapa Liam dan apa hubungannya dengan Rowena.

Liam adalah mantan teman sekelas Rowena saat SMA dulu, mereka pernah sekelas waktu kelas X. Mereka berdua cukup akrab.

Tapi akhir-akhir ini Liam jadi dingin-sangat dingin, tepatnya.
Karena terpisahkan oleh jarak, kedua sahabat ini biasanya saling berkomunikasi menggunakan pesan singkat, sosial media, dan videocall. Namun seiring berjalannya waktu, frekuensinya semakin berkurang.

Rowena selalu berusaha menginisiasi percakapan, tapi balasan yang dia peroleh tidak mengenakkan hatinya.

Kata-kata panjang yang biasa Liam ketikkan mengandung keceriaan dan juga keramahan. Namun beberapa bulan belakangan jumlah kata yang ia gunakan semakin menyusut dan keceriaan serta keramahan seakan telah sirna dari dalamnya.

"Liam jadi dingin sekali ya..."kata Rowena. "Ya sudah kalau dia memang ga mau temenan sama aku lagi"

Jadi yang Rowena lakukan adalah berkata bahwa ia sangat menyesal karena telah menngganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol, becandaan jayus, dan diskusi-diskusi ga penting selama setahun belakangan. Ia juga minta maaf apabila ada suatu hal yang secara tidak sengaja ia lakukan dan sudah menyakiti perasaan Liam selama setahun belakangan ini.

Rowena menarik napas panjang.
Pesan sudah terkirim.

Mau tau apa yang selanjutnya dia lakukan?
Memblokir semua akun milik Liam. Kedengaran childish, memang. Pikir Rowena, dengan demikian akan lebih mudah baginya untuk tidak mengganggu Liam lagi.

Dia tentu saja sedih karena sudah kehilangan salah satu teman baiknya. 

Besok adalah hari ulang tahunnya.

Tadinya dia mau ngucapin, mendoakan, sekaligus mengucapkan perpisahan.

Tapi karena Liam mendadak berubah jadi Ice King, yang wajib dilakukan ya mundur teratur.

Buat apa berjuang keras selama satu bulan kalau ga ada hasil?

Karena toh pada akhirnya, ikatan persahabatan yang terjalin selama empat tahun itu akhirnya putus juga.

Rabu, 02 Desember 2015

Jika kiranya kamu sudah tidak menemukan lagi secercah sinar mentari dalam suatu tempat, aku yakin kamu akan meninggalkannya.

Gelap dan juga dingin di saat yang sama-siapa yang menyukai tempat seperti itu?

Tempat yang tadinya hangat-kamu sangat akrab dengan tempat ini sampai-sampai apabila kamu memejamkan matamu, maka kamu dapat menggambarkan dengan persis perabot-perabot yang ada di dalamnya.

Kini menjadi tempat yang paling kamu hindari. Siapa yang betah berdiam diri dalam ruangan sedingin itu? Jika kamu cerdas, tentunya kamu beranjak sesegera mungkin jika tidak ingin sakit karenanya.

Minggu, 29 November 2015

Catatan Penulis

Aku ga nyangka sama sekali kalo Julian nulis yang kayak gitu, karena kemarin aku langsung copy-paste aja tanpa baca isi pesan itu terlebih dahulu ._.

Julian emang agak aneh dari sananya, jadi harap maklum ya :p

Informasi dalam pesan itu yang kalian rasa tidak penting ga usah diambil, ya hahaha

Jumat, 27 November 2015

Titipan Bajul

Bajul nitip sesuatu buat kalian yang keren dan luar biasa, pembaca Sinta's Memories of The Past!

Oh? Siapa Bajul?

Bajul itu kependekan dari Bang Julian. Dalam Bahasa Jawa, Bajul artinya buaya. Tapi bukan berarti Julian buaya darat juga, cuma aku iseng aja manggil dia bajul. Habis dia maksa aku supaya manggil dia abang -,- (kok malah curcol).

Oke, cekidot (check this out) everyone...

Hai. 

Selamat pagi/siang/malam.

Sinta pasti pernah cerita tentang aku sama kalian semua.
Aku akuin aku emang suka usil sama dia, sama halnya dengan temannya itu, Fiona. Ga tau ya, saat pertama ngeliat dia, bawaannya pengen usil aja. Mukanya kayak anak kecil soalnya (dengan mata besar dan pipi tembemnya itu). Ditambah lagi sama sifatnya yang childish haha :p

Terima kasih sekali buat kalian yang baik dan menceriakan hari-hari Sinta. Aku cuma bisa menjaga ikatan persahabatan ini lewat sosial media saja. Semenjak lulus SMA, kami jarang bertemu. (Biasanya ketemuan bareng ama temen-temen yang lainnya).

Aku bertemu dengannya saat lomba, lama berselang. Begitu berkenalan, rasanya langsung klik seolah-olah kami pernah bertemu sebelumnya.

Buat sahabat-sahabat Sinta:

Aku tahu dia agak gila, aneh, usil, mutungan kalo diusilin berlebihan, dan lain-lain. Itulah dia. Terima kasih karena sudah menjaga dan juga membuat hari-harinya berwarna.
Dia jujur, si Sinta itu. Terlalu baik juga. Saat mau berkenalan dengannya aku sendiri sempat enggan karena wajah dinginnya itu. Butuh waktu buatnya untuk membuka diri. Kalau dia mulai ngerasa nyaman sama kamu, maka dia bakal ngebuka dirinya.
Tapi, kalau kamu pernah nyakitin dirinya dan berharap bisa balikan lagi sama dia, jangan mimpi deh karena segala sesuatunya ga akan pernah sama lagi secara instan. Dia pemaaf, hanya butuh waktu supaya dia bisa melupakan apa yang pernah kamu lakuin ke dia. 
Dia juga asyik dan bullyable (hahaha :p).
Dia bener-bener tulus kalo nolong elu pade. Dia sayang banget sama sahabat-sahabatnya, nganggep kalian semua salah satu anugerah dari Yang Kuasa.
Makanya aku pernah nasihatin dia, if you love too much, you'll hurt so much. 

Buat mereka yang naksir Sinta (opsional. Kalo ada):

Sinta berpegang teguh sama agamanya, makanya itu dia ga mau pacaran (kadang aku suka keterlaluan ngejek dia jones abadi juga sih-lebih karena sikap dinginnya pada orang tak dikenal).
Kalo aku boleh jujur, dia bego. Iya, bego. Retard. 
Dia ga bakal paham soal-soal beginian dan bakal ngabisin waktu lumayan lama di internet untuk mencari informasi mengenai hal apa yang harus dilakukan (payah, kan?). Dia bakal tanya sama temen-temen ceweknya untuk minta nasihat mereka.
Selain itu, saking retardnya dia, dia sampe ga tau apa yang harus dilakuin.
Sekali lagi kalo aku boleh bilang, sejatinya dia agak fobia sama yang namanya relationship. Dia takut setengah mati kalo ternyata dia cuma dimainin aja.
(Awas ya kalo kalian berani mainin Sinta >:-D B-) )
Si konyol itu diem-diem ternyata banyak disukain sama temen-temen di kampusku, yang juga kenal sama dia. Dunia itu sempit, deh. Ga nyangka kalo si Ice Queen ini punya banyak temen di setiap pengkolan (eh).

Kadang sampe nangis terharu begitu aku tau adek Sinta masih ada yang suka. Hahahaha.

Aku cuma bisa ngejaga dan ngawasin dia dari jauh untuk saat ini. 

Terima kasih banyak buat kalian semua yang udah mewarnai hidup Sinta dan mengajarinya banyak hal. Karena hidup dan pengalaman lah yang mengajarinya untuk lebih bijaksana lagi kedepannya.

Julian Alexander S.

Analogi Hubungan

Aku suka sama analogi ini...

Kalau kamu mecahin piring, bisa ga kamu memperbaikinya?

Tergantung sama tingkat kerusakannya sih.

Bisa diperbaiki, tapi apakah bentuk piring itu akan sama seperti sedia kala?

Tentunya tidak kan?

Bahkan kamu masih bisa melihat retakan yang ada di permukaannya.

Sama halnya dengan hubungan.

Kamu bisa memperbaikinya, tapi segala sesuatu tak akan pernah bisa sama seperti sedia kala.

Kamis, 26 November 2015

Teruntuk sahabatku

Dear sahabat,

Let's begin a whole new start.

Maafkan aku.

Jangan kira aku ga peka ya :) :p

Aku tau kok kalau kamu agak tidak suka padaku karena suatu hal dan ini sudah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Aku saja yang pura-pura tidak tahu dan menganggap segalanya berjalan seperti biasa. Tapi aku tetap mengamatimu loh. Aku berpikir apakah gerangan yang membuatmu ga suka sama aku.

Mungkin aku terlalu jujur dalam bercerita, tapi apa yang aku kisahkan adalah fakta. Bukan karangan, bukan pula realitas kedua. Bukan juga kisah orang lain. Aku sendiri yang mengalaminya.
Prinsipku, hanya penghianat yang membohongi dirinya sendiri dan orang lain :"). Itu yang mereka ajarkan padaku, agar aku menjadi ksatria yang jujur.
Janji deh aku ga akan cerita lagi. Apabila dirasa mengganggu, lupakan saja, oke? :) lagian ga penting juga :D
Aku menganggapmu sama seperti sahabat-sahabatku yang lainnya, tapi kupikir ceritaku ini sangat mengganggumu :")

Mungkin aku terlalu bodoh dalam hal mengenai relationship dan saat ada yang mendekatiku, aku langsung memberondongmu dengan lusinan chat tidak penting. Maaf sekali, sahabat. Aku benar-benar clueless dalam hal satu ini. Aku menganggapmu seperti kakakku sendiri, jadi kalau ada apa-apa aku selalu meminta pendapat dan nasihatmu :")

Atau karena aku dekat dengan orang yang kamu suka, sahabat? :(

Maafkan aku.
Kamu bisa cek di akun facebook aku kok. Temanku kebanyakan cowok. Tapi semua cowok itu juga sering nganggep aku cowok. Jadi mereka sering playfully mukul tanganku, ngejailin aku kalo tim favoritku kalah, bilang aku cowok banget-bahkan kalo main bola atau futsal bareng mereka ga akan segan-segan buat ngetackle aku :) kalau main kasti, anak-anak cowok itu juga ga segan-segan ngelempar bola kasti keras-keras ke punggungku. Tapi sekali aku terjatuh, merekalah yang pertama kali mengulurkan tangannya.
Jangan khawatir, sahabat. Lagian ga ada yang suka sama aku kok :"). Di tulisan beberapa bulan lalu aku bilang aku suka sama katingku, disini suka dalam artian respek :")
Kalau kamu mau, aku bisa ngepromisiin kamu :D hehehe (sama yang kamu suka, bukan sama katingku :p)

Sama-sama maaf ya :")
Sama-sama minta maaf dan memaafkan :)
Let's begin a whole new start, dimana aku ga akan ngelakuin hal-hal yang aku pikir tidak disukai olehmu.

Salam hangat dari sahabatmu,

Sinta Alexandria.

Rabu, 25 November 2015

"..."
Sinta sedang berpikir keras. Ia mencoba berpikir logis dan menghubungkan petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan.
"..."
Ia ingat betul nasihat Julian, "Ojo cepet katresnan karo wong liyo nduk" yang dibalasnya dengan "ora lah".
Semakin lama ia berpikir, semakin panas kepalanya.
"Yang seperti ini ga ada di buku! Aku ga paham"katanya lelah sambil nangis bombay. Kalau dia mesin, udah berasap kali ya. Hahaha xD

*flashback, beberapa hari lalu*

Julian: Inget ya, kita nunggu kamu loh.
Sinta : Aku tau.
Julian: It means no relationship, no wasting time!
Sinta : Iya iya aku tau. Oh. Hahahaha. Relationship? Itu engga mungkin, Julian. Tenang aja.
Julian : TAPI YA GA GITU JUGA KALI, SINTA -,-
Sinta : Emang ga ada kok, Julian. Makanya aku kebal kalo kamu ledekin jones -,-
Julian : ...
Sinta: Julian ada benernya kok.
Julian : .... (emotikon cemas)
Sinta : Hehehe. Tenang aja ya. Pokoknya aku bakal sesegera mungkin ketemuan sama kalian. Oh iya, aku tanya dong kalau *nyebut sesuatu*
Julian : Minta penjelasan lengkap, Ta.
Sinta : *njelasin secara gamblang*
Julian : Oh itu? Ga usah kamu pikirin, deh. Apalagi kalo udah beda jauh sama awalnya.
Sinta : Oh gitu ya? (Pasang muka ala herp)
Julian : Tau ah, itu nasehat gue. Jaga diri, jaga hati lo.
Sinta : Kayak Obito Uchiha, gue kan ga punya hati bang :v
Julian : Sintaaaaa -,-

Kontak batin (?): Saat dua hati saling bicara

Sinta sedang mengetik sesuatu di netbook hingga akhirnya gambaran mengenai kenangan masa lalu muncul: Seorang wanita dengan rambut disasak yang sedang bicara dengan dua orang anak.

"Oh, Bude bakal berkunjung beberapa hari lagi nih ke rumah. Harus siap-siap"

Terakhir kali Bude dan Pakde berkunjung ke Solo itu enam bulan yang lalu. Mama baru bilang 45 menit sebelum beliau bertiga datang. Ketiganya orang-orang sibuk.

*flashback*
"Sinta, bentar lagi kita sampe loh"kata mama saya dari ujung telepon
"Kita? Emang siapa aja ma?"
"Keponakan-keponakannya eyang kakung"
"Eeeh?"
Aku menatap ngeri pada kondisi rumah yang ibarat kapal pecah. Buru-buru aku ngambil sapu dan alat kebersihan lainnya. "Udah sampe dimana nih, Ma?"
"Manahan"
"Eeeh! Iya baik!"

Aku punya waktu 45 menit untuk bersihkan rumah seluas ini. Cucok. Kesampean kok kalo aku ngebut kerjanya.
Challenge Accepted!
"Uwaaa!"
Jadi aku nyapu sambil bersin-bersin karena debu halus yang banyak. Padahal udah pake masker. Setelah selesai, barulah menyiapkan cangkir dan menjerang teh, disambi ngepel.
Sinta selesai tepat pada waktunya begitu seseorang membunyikan klakson mobilnya.
"Aku datang!"
Langsung deh sprint ke garasi dan buka pagar besi yang beratnya naudzubillah.
'Hosh...hosh...'

"Uwaa...Mbak Sinta makin tinggi aja ya"
"Hehehe iya bude~"
"Rumahnya bersih banget! Kok Sinta menggeh-menggeh?"tanya Pakde.
"Habis dirodi, Pakde"jawabku tanpa dosa.
Beliau bertiga tertawa.
"Wuah, keponakan Pakde yang ini sudah besar ya"
Lagi-lagi pipiku yang dijembel. Sedih.
"Iyalah pakde masa saya kecil terus"kataku.
"Pakde Budhi mana?"tanya ketiganya.
"Ada di kamar beliau. Mari silahkan masuk"
***
''Sinta lanjut dimana sekarang?"
*dijawab oleh ayah*
Pakde-pakdeku memandangku dengan tatapan kaget dan tidak percaya seolah-olah mengatakan 'tapi kamu kan cewek!'
Lah passion aku disitu, panggilan jiwa. Ahahaha *shot*
-Abaikan-
***
Benar saja, dua hari kemudian beliau datang.
Trah aku punya kebiasaan ngasih 'surprise' aka kunjungan tak terduga kalau ada anggota keluarga besar kami yang sakit.
Tapi untungnya aku punya waktu 2 hari untuk membersihkan semuanya. Hehe.
***
Kalian pernah engga sih kepikiran seseorang-entah itu keluarga, teman, atau bahkan orang yang tidak kamu kenal sekalipun-dan beberapa hari kemudian, ada kabar mengenai orang yang kamu pikirkan tadi, entah baik ataupun buruk?
Kalau baik, biasanya seperti kunjungan, penghargaan atas prestasi...
Kalau buruk...biasanya tentang sakit atau kematian-aku bakal punya feeling engga enak dan ngerasa ga nyaman secara mendadak.

Tapi Ayu-chan atau Bundo Alex misalnya, bilang kalo kamu kepikiran seseorang terus-padahal kamunya engga ada niatan sama sekali buat mikirin dia-berarti kamu lagi dipikirin sama orang yang ada dalam pikiranmu. (Masa iya sih?)
Kataku, "Ceileh mak...abdi mah jones. Saha yang mau mikirin abdi. 'Teu aya. Ahahaha~"
Biasanya kalo aku ngomong kayak gitu, aku bakal langsung diomelin sama mereka berdua.

Tapi menurutku mereka ada benernya juga sih.
Ga tau kenapa, kalo mendadak kangen sama suatu hal/beberapa orang bawaannya jadi kepikiran. Tapi karena kepikirannya sampai berlarut-larut, sampai-sampai mereka yang dipikirkan pun bakalan sms/telepon kamu saat itu juga :v

Wuoh, the power of kontak batin :"v

Patut dicoba lah hahaha =D

Selasa, 24 November 2015

Kenalkan Julian! Sohibku yang Usil. Partner-in-crime buat siapa aja yang suka jailin Sinta

Namanya Julian. Pemuda berambut jabrik berwajah separo sangar separo cengoh ini lebih tua 10 bulan dari aku. Hobinya usil. Tapi paling seru lagi kalo ngusilin dia. Ekspresi cengohnya bakal buat kamu tertawa terpingkal-pingkal.

Saat sekolah dulu kami berbeda jurusan. Namun hal itu engga berpengaruh sama pertemanan kami.

Dia itu anak yang ngetok-ngetokin kaca mobil ayahku buat ngebangunin aku pas aku lagi enak-enak tidur di dini hari (waktu itu kebetulan kami mengikuti lomba yang sama dan aku tertidur pulas karena lelah melaju dari luar kota [lelah belajar juga sih sebenernya]).

"Nduuk tangi nduuk...kowe nganti kapan ameh tepar terus...nganti ba'da kucing?" (Nak bangun nak...kamu sampai kapan mau tidur terus...sampe lebaran kucing?)
Dengan enggan aku berbalik dan langsung terduduk kaget!
Si konyol itu nempelin mukanya ke kaca mobil. Hari sudah mulai terang-ya aku kaget lah ngeliat mukanya yang ditempel rata begitu!
Aaaa!

Ayahku dan ayah Julian yang sedang mengobrol di luar jadi ikut tertawa. Kan malu banget! Awas ya!

Jadi deh seharian aku diledek dia -,-

Ajaib deh, pas lomba itu aku kenal deket sama banyak peserta dari berbagai daerah. Saat itu presentasi akan dimulai, tapi Julian nowhere to be seen. Ni anak ngerjain nih!
Jadi aku nanyain temen-temenku kesana kemari sambil nunjukkin dp BBMnya dia.
"Ada yang ngeliat mas-mas cengoh ini engga?"

Berkat petunjuk dari seorang mas-mas, akhirnya aku nemuin dia.
Lagi tidur di musholla.
"Masya allah ini bocah tidurnya lelap banget lagi"kataku pada diri sendiri. Aku udah ngguncang pelan pundaknya, tapi masih aja tidur.
Sebersit ide usil muncul dalam benakku. Kenapa engga dicipratin air aja?

Jadi aku nuang sedikit air minum dari botolku ke jemariku, lalu mulai nyipratin muka sangar-tapi-cengoh Julian.
"Bangun bro woy bangun woy banguun!"ujarku ribut. Bener-bener ga elit.

"Elu napa kaga belajar sih bentar lagi maju juga. Seenggaknya lu bangun dan siap-siap"omelku. Ngeliat ekspresinya yang baru bangun tidur malah membuatku tambah geli. "Rupa kamu bakal mengurangi nilaimu-ada ilernya tuh ahahaha"tawaku.

"Pinjem sisir, Sinta"
"Kayak gue pernah sisiran aja"

Dia memasang wajah bete. Dia inget kalo tadi ngeliat Sinta pas benerin iket rambut sisirannya cuma pake jari. Sementara di sekolah? Dia sisiran pas berangkat sekolah aja, padahal rambutnya panjang sepundak.

***
"Nih, madu buat elu"katanya datar sambil memberiku sesuatu.
"Anjas ini kan yang barusan elu minum. Ogah bekas elu"tawaku. "Beracun"
"Sini buat aku aja,"sahut salah seorang kawan kami. Ditenggaknya madu itu.
Aku yang ngeliatin cuma bisa facepalm.

***
Pokoknya emosi sama mentalku udah kebal gegara sering diusilin sama dia (misal, dipanggil Most Awesome Jomblo of The Week lah, kayak cowok lah, pipi bakpao, apapun itu). Mungkin dia anak tunggal kali ya jadinya bahagia banget gitu kalo ada anak yang sampe jengkel gara-gara dia
Yang jadi target keusilan bukan cuma aku aja, tapi juga temen-temennya yang lain.

***
(Di lain kesempatan...)
"Eh, elu kenapa Sinta?"
"Ga mau cerita"kataku sambil menekuk muka, lalu berbalik.
"Hahaha mukanya ruwet amat. Nanti mau kayak Mak Lampir tuanya? Micek dulu gih"
Grr!
Micek itu bahasa jawa kasar untuk tidur.
Biasanya anak-anak cowok ngomongnya kayak gitu.
Oh iya aku lupa. Buat Julian, aku ini masuk dalem kategori sohib cowoknya -,-
"Bodo,"kataku geram. "Jangan ganggu mulu napa. Liat muka elu aja udah bikin gue pusing"
"Mpok, galak amat jadi orang"tawanya. "Mungkin ini bisa buat lo tidur nyenyak"
Dia nyerahin amplop cokelat ke aku, terus pamit. Mau makan malam sama ayahnya, katanya.
"Salam buat babe elu, Juli"
Dia tidak repot-repot berbalik. Hanya melambaikan tangannya saja.

"Isinya apa ya?"
Langsung deh pikiran negatif datang. Julian kan jail banget! Jailnya nyaingin Fiona!
Tanganku gemetar membuka bungkusan itu. Setelah terbuka, aku pun merogoh isinya.
"Foto?"
Aku pun mulai mengeceknya.
"!"

Itu adalah kumpulan foto saat kami menjadi juara di final. Bagaimana dia bisa dapet foto sebanyak ini?
Foto saat masa karantina, foto aku yang tidur ngiler pas belajar di hall, foto kami berlima (berlima, tiga yang lainnya adalah rekan seperjuangan kami), dan lainnya. Btw dia dapet foto sebanyak ini dari mana ya?

Ini lagi mama usil banget, sama kayak Fiona. Pake acara bilang mau besanan sama orangtuanya si Julian. Aku sama ayahku menolak mentah-mentah.
Me: Mum! Like, he IS my best friend! I won't marry him! (Beside due to some other reason we can't marry each other tho)
Dad: No. Just no. It's too early for her to talk about marriage.

Fiona: Anak KMB yang Usiil banget!

ACHTUNG! Tulisan ini dibuat atas perspektif Sinta Alexandria N. Semacam 'secondhand reality', ceunah. Sok atuh Bang dan Akak sekalian monggo dibaca :)

Seperti biasa, anak-anak KMB sedang berdiskusi riang di spot favorit mereka. Semuanya hadir minus Adhi, Rahadian, Putri, dan Jana.

Mereka sudah datang ke kampus namun ternyata kelas hari ini ditiadakan.

"Ayo rek bahas rencana kita lagi,"ajak Zaki. "Ayo, ayo!"seru anak-anak antusias.
"Di list dulu deh lokasi mana aja yang mau kita datangi"
"Toko Oen Malang!"seru Sinta dan Ayu kompak.
"Alun-Alun Kota Batu!"
"Wisata alam dong..."
"Museum angkut!"

"Budget total sekitar berapaan guys?"tanya Yusuf Iskandar.
"Perkiraanku, 700k. Termasuk untuk pengeluaran tak terduga,"jawabku.

"Kalau pakai travel dari sini sih aku juga ga masalah. 7 jamnya ini loh rek, Solo-Malang. Yakin engga pegel? Kalo pake kereta lebih leluasa, walau biayanya 120k"

*flashback beberapa hari lalu*
Ide main bareng ke Malang nampaknya telah menaikkan mood anak-anak KMB.
Semuanya membahas dengan seru.
"Yah...sayang ya Jana sama Putri balik ke Ciamis sama Jakarta..."
"Iya nih"
"Guys, kalian ga ada niatan main ke West Java gitu?"tanyaku dengan mata berbinar ceria. "Asyik loh~"
"Pokoknya aku mau ke Jawa Timur,"kata Adhi. Suaranya teredam soalnya dia sedang menelungkupkan kepalanya ke atas meja
"Just sayin' tho"kataku.
*end of flashback*

Jiit
Sinta yang dari tadi mengamati anak-anak yang hadir mulai menyipitkan matanya.
Dari tadi si Dika modusin Fiona mulu nih wah bahaya.

Dika mulai nanya dan bicara hal ga penting.
Nanyain letak persis dari kediaman Fiona, bilang kalau dia bisa berkunjung kalau kebetulan lewat. Seperti biasa, Fiona tidak mau memberitahukannya. Aku pun mengacungkan kedua jempolku. Ketika digoda oleh anak-anak yang lain, Dika berdalih. "Kan makin banyak teman makin baik. Bisa buat mampir jadinya"
"Ya, habis itu nembung sama Pak Bambang sekalian"tawa anak-anak. Nembung disini maksudnya adalah lamaran.

"Si Sin ini usil banget yaa!"seru Fiona geli.
"Wee"aku menjulurkan lidah, ngeledek dia.

*flashback, beberapa hari yang lalu*
Entah kenapa, pembicaraan mengarah 'kesitu' (baca: relationship).
Kali ini, anak-anak KMB ada semua.
Mulai deh Fiona si usil bersabda, "Wahai kawan semua, kalian ga tau kan kalo gini-gini Si Sin banyak yang ngefans"
"Bokis, gaes. Hoax. Impossible"sanggahku dengan datar.
Tapi dia ga tinggal diam.
"Bahkan sampe ada yang-"
Aku ngebekep mulutnya. Ni anak bahaya ya, kalo ngomong seenaknya juga, ga liat situasi. Bisa habis diledekin nanti aku sama anak-anak lainnya.
"Kirain Sinta jomblo"
"Emang. Jomblo kan varokah"tukasku dingin, engga tertarik dengan pembicaraan.
"Biar jomblo banyak yang ngefans"
"Itu mustahil,"kataku datar.
Tapi Fiona terus saja gigih ngejahilin aku.

Tapi sejahil-jahilnya Fiona, dia mah ga ada apa-apanya dibanding Julian.

Rowena's Precious Gifts

Rowena senang bukan kepalang karena ia menerima paketan dari teman-temannya di Misty Mountains Academy. Kira-kira isinya apa ya? Kok bungkusnya besar sekali. Mungkin barang-barangku yang ketinggalan disana, pikirnya polos.

Dia baru saja mau membuka paketan itu saat smartphonenya berdering.

"Hm? Siapa ya?"

Nama Liam muncul dalam layar monitor itu.
Tumben ngechat. Kirain udah lupa ama ane :v pikir Rowena. William (Liam for short) adalah orang yang Rowena kenal sejak SMA lalu. Mereka berdua berkawan akrab.

"Hn?"
Alih-alih kalimat, ternyata yang dikirim adalah voicenote. Mungkin Liam mau melanjutkan kelas conversation onlinenya?

Rowena menaikkan bahunya, lalu memutar VN itu.

Deg!

Alih-alih bahasa asing, yang didengarnya adalah lagu.
"L-liam ga salah kirim, kan?" ●_●

Wajahnya sudah ngeblush parah. Coba saja suruh dia bicara dia bakal tergagap deh.

Ia mendengarkan nyanyian itu baik-baik. Tak salah lagi, itu memang suaranya.
Rowena merasakan kalau pipinya mulai memanas. Selanjutnya, ia mengucapkan terima kasih pada Liam atas kiriman lagunya. Bilang padanya kalau ia menyanyikan lagu itu dengan bagus dan ia menyukai kiriman lagu tersebut. Segitupun sampai salah ngetik terus. Aaa! Clueless, I don't know what to do! .///.

Dia dengan gugup mengalihkan perhatiannya dengan membuka bungkusan besar itu.

Tapi yang ia temukan di dalamnya adalah setumpuk surat dengan amplop berbeda-beda dan buku-buku. Tapi kenapa kardusnya harus besar juga, pikirnya geli.

"Oi, Rowena...aku yakin tadi denger ada suara cowok nyanyi dari kamarmu,"kata seseorang.
"Eh!"
Christopher bersandar di ambang pintu. Automaton itu nyengir lebar.
"Dari siapa?"
"B-bukan urusanmu!"
Christoph tertawa. Ia mulai memindai smartphone Rowena dan membaca isinya.

"Oh, William, ya. Aku punya data pemuda itu,"katanya sambil meneliti data di layar monitornya. "Hehehe. Suaranya bagus juga. Rowena beruntung-"

Duagh!
Rowena berhasil melempar buku paling besar yang ia temui di kardusnya tepat ke kaki Christoph.

"B-bisa aja dia salah kirim!"
"Tapi dia kan ngirimnya ke kamu!"
"Jangan berdebat sama aku deh! Siapa tau yang dikirim bukan cuma aku-diem Chris!"
Automaton itu tertawa. Ia suka sekali menjahili masternya.
"Hm buku apa ini? Dasar-Dasar..."
Rowena bergerak secepat yang ia bisa dan meraih buku itu. "Bukan buku apa-apa. Udah sana pergi jauh-jauh"usirnya sebal.

Gadis itu beranjak ke ambang jendela. Dari mansionnya, ia bisa melihat siluet dari Misty Mountains nun jauh di barat sana. Bulan sabit seolah sedang tersenyum kepada gadis itu dan bintang-bintang bersinar dengan indah malam ini.

Seulas senyum menghiasi wajah Rowena yang masih merona.

"Liam...teman-teman...terima kasih banyak atas kadonya.
Aku sangat menyukainya,"bisiknya lembut kepada malam

Minggu, 22 November 2015

Karena Perpisahan bukanlah Akhir dari Segalanya

Gadis itu tersenyum bahagia, rona merah mulai nampak di pipinya.
"Ayo berjanji, Rowena. Aku cuma menceritakan hal ini padamu"
Rowena mengangguk lalu mengaitkan kelingking mungilnya di jari kelingking Bedivere. Seketika itu juga Rowena merasakan kehangatan di dalam hatinya.
"Tentu,"katanya. Ada binar dalam matanya. "Aku berjanji"ia tersenyum bahagia.

Lokomotif uap mulai berbunyi. Pemuda itu mengecek arlojinya. "Sudah waktunya untuk kembali"
Rowena mengangguk. "Kalau sudah sampai, jangan lupa bagikan kue kering buatanku ya. Tolong sampaikan salam hangatku untuk semuanya,"katanya penuh sayang.

"Tentu,"katanya. Pemuda itu menjabat tangan si gadis. "Cepatlah kembali. Semuanya juga merindukanmu"

"He-em!"deham Rowena sambil mengangguk. Matanya menunjukkan tekad berapi-api. "Hati-hati di jalan, Bedivere"

Bedivere tertawa kecil melihat ekspresi childish gadis itu. Dia pun menepuk-nepuk kepalanya.

"Jaga dirimu baik-baik, oke. Sampai jumpa"

Rowena melambaikan tangannya hingga kereta uap itu menghilang di belokan. Ia menggenggam surat dari Bedivere erat-erat.

Aku akan mengirim surat pada kalian semua, setidaknya sekali dalam seminggu!
Aku juga akan mengirimkan hadiah-hadiah untuk kalian.

Ia tersenyum, lalu beranjak meninggalkan stasiun.

Sampai jumpa.
Sampai ketemu lagi.

Sabtu, 21 November 2015

Trip with KMB!

Karena terlalu excited mengenai acara jalan-jalan bareng kami yang insya allah diadakan dua bulan mendatang, hal ini pun sampai terbawa mimpi.

Ceritanya, anak-anak KMB lagi piknik di hutan. Ada empat tenda yang mengitari api unggun. Tapi mimpi ini rasanya real banget...

"Waah, asyik banget kayak di novel-novel petualangan yang aku baca!"ujarku ceria, sambil nempelin kedua telapak tangan di pipi.
"YAY KITA MAIN BARENG!"ujarku. "Wahahaha untung Zaki udah sedia sweater sama jaket tebel"kataku sambil ngacungin jempol ke Zaki. "Dan Dika ga perlu kzl karena tempat wisatanya rame"tawaku geli.

Semuanya menyenangi tempat itu. Jana dan Ayu mulai bernyanyi diiringi dengan suara gitar yang dimainkan oleh Dika, sementara Zaki, Putri, Yusuf mengiringi nyanyian mereka. Fiona sama Sinta ngecekin gallery hp, nyariin orbs yang ketangkep kamera (gaje banget, asli). Rahadian mojok sambil nyusun gundam (jangan tanya, namanya juga mimpi), Adhi baca novel Pramoedya Ananta Toer. Menir main harmonika, ngiringin Dika ngegitar dan Aulia lagi ngebakar marshmallow.

Tebak mereka nyanyi apa?
Nyanyi lagu yang mereka kirimin di VN, saat mereka lagi pada hectic nugas di malam hari xD hahaha.

Jika dirasa momennya bagus, Fiona dan Sinta bakal mondar-mandir sambil mengabadikan momen tersebut, habis itu ngecek orbs lagi.

Udaranya segar dan taburan bintang nan gemerlapan menghiasi hamparan langit yang luas: sebuah malam yang sempurna. Cuacanya bagus, pokoknya sempurna banget deh!

"Fiona sama Sinta sini gabung!"ajak Ayu.
"Enggak ah suara ane jelek, ni Fiona aja yang nyanyi. Suaranya bagus loh-ayo open request!"

Langsung ada yang nyeletuk, "Singlenya Adele yang terbaru, Fiona"

Engga usah repot-repot nengok deh.
Engga perlu ngapalin suaranya juga.
Karena kalian tahu siapa yang request :v
*divacok*
***
"Malem ini makan apa gaes?"
"Makan mi aja,"jawabku dan Ayu kompak. Kita memang bawa mie lumayan banyak.
"Mie maning, mie maning"kata Menir.
"Masih untung, Tong (entong-red). Daripada kalong bakar"kata Sinta dengan mata berkaca-kaca *lebay*. Karena dipercaya daging kalong dapat menyembuhkan asma.
"Ga ada yang bawa krupuk ya?"
"Haha...krupuk? Nih marshmallow..."tawa Aulia sambil memberi marshmallownya.

Asyik banget...solat bareng dengan Zaki sebagai imamnya, diskusi keagamaan dan hal-hal yang berkaitan dengan isu terkini...daaw~

"Eh...eh...udah jam berapa ini? Ayo gek ndang bobok, cah..."kata Ayu. "Yuk absen dulu yuk..."
Dan kami pun diabsen satu-satu.

*mimpi selanjutnya engga ingat*

Namun sayang ini hanya mimpi :"v

Tetap Waspada!

Guys...buat siapa saja nih, pesan saya.
Untuk semuanya.

Jangan pernah percaya sama orang yang belum kamu kenal sama sekali!
Jangankan orang asing. Mereka yang kamu kenal aja belum tentu dapat dipercaya -.-


Jangan ngasal minjemin sertifikat sama ID Card kamu juga! (Intinya jangan minjemin surat-surat berharga, uang, atau perhiasan!)

Sering banget orang-orang asing datang ke rumah sini karena ulah seseorang (si pelaku!). Beragam : Mulai dari penegak hukum, pihak bank, sampai korban penipuan dari si pelaku.
"Mas,"kataku lelah. "Ini rumah almarhum kakek saya, bukan rumah dia. Mas salah alamat. Siapa yang ngerujuk alamat sini?"

Sebuah pertanyaan retoris, yang aku sendiri sebenernya udah tau jawabannya.

"Bapak *menyebutkan nama*"
Aku mengepalkan tanganku. Ngeselin banget sih tu orang?

"Dilaporkan saja ke pihak berwajib, Pak"saranku.
"Boleh kami masuk sebentar untuk menjelaskan kronologi kami, Mbak? Kami datang jauh-jauh dari *menyebutkan nama tempat*. Kami mau menyelesaikan ini dengan cara kekeluargaan"
"Baik"

Aku dan keluargaku ga ada hubungan sama sekali dengan masalah ini. Karena kasihan beliau berdua udah usaha dateng jauh-jauh, makanya aku persilahkan mampir. Seenggaknya ada informasi penting yang dapat berguna buat mereka.

"First of all, we have nothing to do with him, Pak. Rumah ini, adalah rumah almarhum kakek saya. Dan rumah dibalik tembok pemisah itu, adalah rumahnya. Selalu saja ada orang yang mencarinya, saya sendiri sampe capek pak njelasin ke semua orang kalau rumahnya itu yang sebelah sana. Bukan sini"tegasku.

Lalu kedua bapak itu menjelaskan kronologi kejadiannya.
Pelaku merupakan orang baik dan taat agama, kata beliau. "Itu mah kedok, Pak. Bapak bisa lihat kok dari wajah dia: gampangnya sih, mukanya bragajul apa kagak. Dari wajah bisa keliatan gimana aslinya orang itu"

"Ya namanya kami juga orang awam, Mbak. Kami tertipu dengan kebaikan dan juga ketaatannya. Bapak *nyebut nama* sudah tinggal di rumah saya sejak empat bulan lalu"

"Hmm..." (jadi inget sesuatu)
Aku menanyakan keberadaan si pelaku dan njelasin kalo banyak orang yang salah alamat hingga datang ke tempat yang salah.
Keterangan yang kudapatkan dari informan-yang notabene adalah orang dekat si pelaku saat melayat ke pemakaman kakekku adalah "ga tau pergi kemana lagi. Ceritanya panjang"
Ga tau apa pura-pura gatau, nih? -,-

"Lompatin aja pagernya, Pak. Saya yakin keluarga pelaku (yang sama-sama liars-nya) ada di dalam"kataku sebal. "Bapak sekalian bisa berunding dengan mereka"

"Bapak bisa melaporkan dia ke pihak berwajib, Pak. Kan ada alat pelacak sinyal"terangku. "Jadi nanti bisa ketauan lokasinya dimana"
"Tapi jangan percaya sama so-called pelacak sinyal yang dijual di internet, Pak. Itu sama-sama ga dapet dipercaya"

"Baiklah, Mbak...terima kasih atas informasinya. Kami pamit dulu"
"Yang sabar ya, Pak. Semoga pelakunya cepat tertangkap dan bapak diberi kekuatan oleh Allah dalam menghadapi cobaan ini"
"Terima kasih, Mbak. Mari"

Kasian kedua bapak itu jauh-jauh dateng kemari.
Tadi aku berusaha ngecek wifinya (wifi di kediaman pelaku-red), siapa tau mereka lupa matiin. Kudengar Macbook bisa dijadiin hotspot Wi-Fi, dan aku pernah liat mereka pake itu (pake Macbook-red). Logikanya, kalo nyala, berarti mereka dirumah. Oh, emang ga ada ternyata.

Gyah, hectic deh...

Kan bener.
Selang setengah jam, WiFi mereka kedeteksi sama hpku.

Tetep waspada ya gaes...

Jumat, 20 November 2015

I remember this words :')

Aku masih inget kata-kata ini hehehe. Pengalaman berkesan pokoknya :')

-SINTA SEMANGAT YA KAMU BISYA BISYA POKOKNYA LAH MUWACH *diberondong sms ama temen-temen*
-Aku percaya kamu bisa :)
-Oh begitu ya. Sukses ya :)
-Cuma kelompok ini aja yang prosentase kelulusannya hampir 100%
-Ayo dimakan gaes jangan diliatin aja hahaha
-Loh, boleh becanda kok toh ga ada yang ngelarang.
-YASS! MAKANAN LAGI!
-Ada acara apa ya mbak?
-Spaneng amat hahaha
-Kalian-semangat ya!
-Mbak, pinjem Tip-Ex.
-Pokoknya mau celpi ama mamas unyu *Sinta mendadak mual*
-Pak...mobilnya engga boleh masuk- *mengabaikan perintah like a boss*
-Raka, sekarang jam berapa ya?
-Tetap semangat guys, kalian bisa!
-Mbak, tempat sampahnya sebelah situ.
-Mbak, dari mana?
-Gaspol bro!
-Ada yang tau contoh hukum avogadro dalam kehidupan sehari-hari?
-Kalian ga usah ketawa-ketawa ya!
-Nanti kamu tau sendiri
-Aku kasian sama masnya
-Aku pernah salah masuk di Nusakambangan ._.
-Hyaa! Rasakan-rasakan-rasakan! *nginjek-injek kelabang*
-Lin, entar lu dibales di akhirat loh :v
-Cangcimen cangcimen yuk gaes sambil nunggu kita kongkow bareng sambil ngemil.
-Sinta, ke kosku aja yuk sambil belajar bareng
-Masa makan disitu sih!
-Tadi ada orang SKSD yang nanya-nanyain aku...
-Aku tadi ketiduran di Mushola
-Ada yang mau madu? (Padahal madunya udah diminum separo ama dia)
-Mbak, tolong pegangin pintu kamar mandinya ya (FYI itu daun pintu WC udah lepas dari engselnya)
-Dafuq gue kebelet boker
-Kok Berlin lama banget ya
-Aku rapopo
-Sampai ketemu di sana.
-Kok kamu ada disini?
-Yay kita ketemu lagi! Jadi trio rempong (?) Ahahaha
-Kamu naturalisasi dek?
-Kamu blasteran?
-Ajarin kita bahasa kasar (baca: umpatan) dari daerahmu :p
-Oh gitu ya...engga boleh belajar bahasa kasar? Betul kata orang ya kalau orang-orang dari tempatmu halus.
-Solo itu mananya Jogja ya?
-Solo? Solok, maksudnya?
-Kemarikan botolmu *diisiin air*
-Nah, tadi kan udah dipijitin, sekarang pijitin temenmu~
-Rambutmu tebel dek
-*nyebut sekolah Sinta*
-Apa cuma gue disini yang nyium menyan dari tadi?
-Kamvret!
-Kamu ga kenapa-napa kan?
-Kamu makan sama siapa?
-Sini abang bantu
-Nanti abang ajak jalan
-Kamu ga tau apa itu jalan bareng?
-Hati-hati
-Ayo, jalan sama aku. Aku bakal bantu kamu.
Sini, pegang tasku ya(teman yang pengertian :") )
-Abang mirip Bisma Sm*sh, kan?
-Dek, coba jalan maju mundur
-Coba renang di Bengawan Solo, biar greget.
-Jangan pegang-pengang tangan adeknya! Modus aja kalian ini.
-Yuk Sinta! (mendadak dari belakang ada dua temen cowok yang gandeng tangan) sfx: drap, drap, drap
-Badannya besar gini kok! Me: -,- (((besar)))
-Kamu cantik begini juga!
-Siapa yang ngestyle rambut kamu? ._.
-Yuk sini Sinta, sama Mia :) :D (anak ini baeeeek banget *terharu*)
-Jangan menyerah sebelum berperang!
-Mata kamu biasa aja! Me: Mata saya memang seperti ini, Pak *ngomong dengan nada datar dan wajah expressionless*
-Enggak usah takut dek. Me: Aku ga takut kok.
-Orang yang mengabaikan cita-citanya adalah penghianat bagi dirinya sendiri!
-Ih manis ada lesung pipitnya~
-Hah? Delapan belas? Kirain umurnya 16...
-Yah sayang ulang tahunnya udah lewat
-Saya suka semangat dan mental baja kamu
-Ngga selfie dulu, mbak?
-Sampai ketemu disana. Kami tunggu loh!

Sampai jumpa. Sampai ketemu di masa depan, Inshaa Allah :)

Kamis, 19 November 2015

Meet the KMB: Another Version of Knights of The Round Table. Hehehe.

Halo kawan-kawan semua! Selamat malam :)

Alhamdulillah...tidak terasa semester tiga sebentar lagi akan selesai. Hehehe.

Tau engga? *wajah merona bahagia*
Akhirnya aku berani untuk menginisiasi acara kumpul bareng sama anak-anak KMB! Yay! (Reader: Apaan sih Sinta...bahagia buat elu mah sederhana aja ya...)

Sebelumnya
Apa sih KMB itu?
Seperti yang kalian ketahui, KMB adalah singkatan dari Konferensi Meja Bundar, sama seperti singkatan yang dipakai untuk konferensi mengenai kedaulatan Indonesia di Den Haag. 

Tapi kenapa meja bundar?

Kalian tahu, kan kalau hutan FISIP dan Taman Helipadnya kini sudah dilengkapi pula dengan meja bundar lengkap dengan colokan listrik untuk mengisi baterai laptop atau hp. Kami (Sinta dkk) sering kumpul bareng di spot satu ini. Bisa dibilang ini adalah spot favorit kami setelah perpustakaan pusat. Di musim hujan begini udara akan terasa segar, terlebih kalau pagi hari. Cuma nyamuk kebonnya aja yang ga nahan. Hehehe. Sama kayak Round Table-nya King Arthur ya. Hehehe. Jadi, mejanya sengaja dibuat bundar supaya semuanya memiliki kedudukan yang sama.

Kalian juga inget kan dengan hobi anehku, yaitu mengamati sifat orang dari gerak-gerik dan cara dia berinteraksi sama orang lain? *nyembunyiin wajah dibalik telapak tangan*. Nanti aku bakal menimbang, 
"Wah anak ini jiwa korsanya tinggi"
"Bahaya kalau cerita rahasia sama anak itu, bisa-bisa sekampung ngerti lagi"
"Aku mau temenan sama mereka! Kita sama-sama suka sejarah, politik, budaya, dan hankam. Kayaknya kalo diajak diskusi bakal asyik nih"
"Waduh, yang satu itu cuma datang kalau ada butuhnya aja. Harus jaga jarak dan membatasi interaksi nih..." 
"Dari kemaren dia nyanyiin lagu To The Beginning-nya Kalafina. Fans Fate/Zero nih. Hehe"
"Wah! Dia juga fansnya Bayern Munich! Asyik!"
Kurang lebih seperti itu. Dan biasanya aku akan mulai memberanikan dan membuka diri (?) untuk mendekati teman-teman yang minatnya sama denganku.

Tapi, kalau mau nyapa duluan, malunya setengah mati!
(Readers: Kenapa harus malu?)
Like, kebanyakan dari mereka cowok! You know, I have a kind of issue with boys T..T
(Tumbuh besar bersama Satria dan Bastian membuatku rada tomboy. Aku suka main bola, main game (GTA, Perang, warcraft, dll), nonton F1/Bola/MotoGP) gitu deh. Jadi kalo ada anak cowok ngomong apa, aku nyambung-nyambung aja (kecuali yang jorok loh ya -,-). Makanya temenku kebanyakan cowok (walau yang cewek juga ga kalah banyaknya). Cuma masalahnya untuk membuat ikatan itu sendiri yang susah. I'm terribly awkward and shy when I started to befriend them all >///<

Ok. Saatnya membahas anggota KMB!

1. Sinta Alexandria: Ceria, childish, kalau ngomong cepet, diem-diem baperan dan susah move on sama masa lalunya (bukan pacar loh  ya). Itulah ciri utama pemilik blog Sinta's Memories of The Past. Kesan pertamanya dingin, sulit dideketin, tertutup. Coba aja kalo kamu udah kenal deket sama dia. Yang ada malu-maluin. Tapi kayaknya keceriaan dan sifat childishnya itu cuma kedok untuk menutupi rahasianya deh :v *dideathglare readers*. Sering banget dipanggil 'bro' sama temen-temen cowoknya (emang aku segitu miripnya ama cowo? -,-).

2. Ayu Kirana: Mature, motherly, tipe kakak cewek sejati lah! Dia punya suara yang bagus dan aktif dalam kegiatan karang taruna di daerahnya. Paling suka deh kalau dengerin Ayu nyanyi keroncong. Suaranya bagus banget. Sinta sama Ayu suka main ke pameran militer dan main ke toko buku bareng-sambil becanda gaje. Sama-sama suka buat meme juga. Seorang catlovers. Dan kalo ngelawak lucu banget xD sampe sakit perut. Ibu Jenderal kita di masa depan. Aamiin yaa rabbal alamiin. Ayu bisa 'merasakan' kehadiran makhluk lain dan engga suka sama cerita seram.

3. Fiona: Misterius, usil, dan jahil! Kayaknya sih dia diem tapi dia itu sebenernya lagi mengamati kamu loh. Hati-hati ya kalau kamu mau curcol sama dia. Sifat usilnya yang ga ketulungan itu hampir saja ngebuat Sinta kalang kabut untuk menutupi rahasia tersebut. Untung aja teman-teman lebih percaya sama aku wkwkwk. Dia rajiin banget. Sayang banget sama kakak perempuannya. Dia bisa ngelihat yang engga nampak wkwkwk. Jadi suka bertukar cerita misteri sama dia. Dia ga suka masang fotonya sendiri buat dijadiin profile picture :p

4. Aulia: Paling suka sama guyonan sarkastisnya Aulia, bawaannya pengen ketawa terus. Dia juga suka ngoleksi meme dan nonton Warkop DKI bareng Ayu. Keduanya teman satu sekolah semasa SMA. Aulia punya pacar yang sekampus sama dia.

5. Putri dan sohibnya, Jana, bener-bener hitz badaiii pokoknya hahaha. Aku dan mereka berdua sama-sama penutur Bahasa Sunda dalam kelompok ini hihihi. Putri selalu up to date soal fashion. Kalau kamu mau konsultasi gimana cara dandan yang baik, sama Putri aja. *ngacungin jempol* terbaik :D

6. Jana (baca: Yana), sohibnya Putri. Dara dari tanah Pasundan ini punya suara emas. Becandanya kocak pokoknya xD dia suka nyanyi bareng sama temen-temennya juga :D sama-sama hitz badaii pokoknya mah. Nun di Bumi Siliwangi sana, ia dan keluarganya membuka rumah makan bakso. Anak-anak KMB kudu nyoba nih. Hehehe

7. Rahadian, yang kuudere (dingin diawal, terbuka (hangat) di belakang), tsundere (sok-sokan galak dan ngomong pedes di depan, tapi dalem hati sebenernya perhatian), dan (katanya) sedikit yandere (um...gimana jelasinnya ya...semacam psiko gitu deh-dan engga terima kalo apa yang dia sukain dideketin orang lain-serem juga yak :"v) hmm...kompleks amat. Entah karena dia ini emang gitu dari sananya apa gimana. Seorang otaku sejati yang ngefans berat ama Miku, Gundam (gunpla atau entah apa-saya 'buta' dalam istilah-istilah ini), dan Saitama One Punch Man. Bawaannya baper mulu. Ga tau kenapa. Baper lagi pas habis nonton Angel Beats! Hahaha. Kalo ngomong pedes banget -,- (aku sih udah kebal sama yang beginian). Suka ngejailin anggota kelas Ilkom A dalam bentuk meme.

8. Menir. Kawan kami ini merupakan perantau dari Lampung. Sampai sekarang pun masih suka promosi tentang tempat wisata dan juga makanan apa aja yang khas dari sana. Dia juga sering bercerita mengenai rumah, hutan-hutan, dan juga sekolahnya disana. Bersama dengan Kiki, dia jago bawa acara. Menir ini salah satu ahli ITnya kelas kami. Hehehe. Bersama dengan Fandi, mereka berdua adalah anggota kelas kami yang sering dijadikan meme.

9. Yusuf I. ( 'I' stands for Iskandar). Beda lagi sama temenku yang satunya, Yusuf aka Ucup. Yusuf yang ini dari Wonogiri. Dia ahli nabuh gamelan loh. Bersama dengan Menir, keduanya seering banget kena keusilan teman-teman cowok KMB. Hahaha.

10. Zakaria alias Zaki. Pemuda dari Malang ini antusias sekali saat kami mengungkapkan usulan untuk wisata bareng ke Jawa Timur. Dengan sigap dia langsung ngasih saran tempat mana-mana aja yang patut dikunjungi. Seorang pembawa acara yang lihai, sama seperti Menir. Anaknya asyik hahaha. Sama seperti Rahadian, dia juga penggemar anime.

11. Dika. Sering banget ngepromosiin isi ulang galon sama laundry sepatu, pokoknya diantara kita semua, dia yang jiwa wirausahanya paling tinggi. Dika berasal dari Pantai Utara sana. Tadi kami semua ketawa saat Dika dan Menir mulai bicara pakai bahasa ngapak. Sampai sekarang pun aku ga ngerti arti lain selain 'rika', 'kepriben', dan beberapa kosa kata lainnya. Pokoknya bahasa ngapak itu unik.

12. Adhi. Kalau dilihat-lihat, namanya mirip dengan seloka kejaksaan. Hihihi. Di kelas bisa dibilang dia yang paling rajin baca koran. Kalau buat tugas, pasti yang lengkap pakai kutipan dan sebagainya dia sama Rahadian. Kesannya kuudere, sama kayak Rahadian juga. Tapi sebenernya engga kok. Adhi dan Zaki suka ngerjain sudoku yang ada di koran Kompas.

Nah, sekian daftar kawan-kawan dekat dan sahabat-sahabat saya di kelas Ilmu Komunikasi A. Asyik itu kalo udah ketemu, kumpul, dan cerita bareng sama mereka. Hihihi.
Sebetulnya Sinta masih mau nulis banyak u,u
Namun berhubung karena identitas saya sudah diketahui, rasanya cukup sekian aja deh ngomongnya.

Yang saya jabarkan di atas adalah perspektif saya.
Percaya deh, kalau kalian ketemu sama mereka, kalian pasti juga bakalan jadi teman dekat-bahkan sahabat :D

(A/N: Geting nyanding! Trisno jalaran soko kulina! *dihajar massa*)

Anak-anak KMB mah moodbooster, emang. Ngingetin aku ama keluarga keduaku nun jauh disana. Hehehe.
Sukses bareng-bareng ya guys. Semoga kita semua berhasil meraih impian yang diinginkan selama ini. Aamiin yaa rabbal alamin.

Kalo mau komen, silahkan yaa *nyengir lebar*

Btw ada yang ngirim screenshot blog ini ke salah satu anak *merinding dangdut*. Nampaknya saya harus lebih berhati-hati *lirik kanan-kiri* *ngebenerin cengdem*

Ja ne! Sekian :D

Senin, 09 November 2015

Notice me, Senpai!: Your Senpai is your nii-san.

Alhamdulillah...aku senang sekali karena keinginanku untuk bisa satu kampus dengan salah satu sepupuku dan sekelas dengan teman dari luar negeri bisa terwujud.

Namun ada satu masalah.

Ekspektasi: Bisa sekampus dengan kakak/adik sepupumu (selanjutnya disebut nii-san) membuatmu bisa belajar bersama dengannya. Kamu pun bisa mengunjunginya dan menolongnya apabila ia butuh bantuan-mengingat dia merupakan perantau di kotamu (plus karena kamu udah janji sama orang tua dia alias paman dan bibimu untuk selalu menjaga dan mengawasinya). Asyik lagi, kamu bisa dapat informasi penting misalnya model ujian yang akan diujikan seperti apa dan tempat hang out asyik di sekitar kampus. Plus, kalian juga bakalan lebih deket karena sealmamater dan seprodi, cuma beda angkatan aja.

REALITA: Nii-san malu tiap kali disapa sama kamu. Apalagi kalau kamu nyapa dia di depan teman-teman sekelasnya. Paling pol yang nyapa balik cuma pacarnya, yang anehnya justru lebih deket sama kamu.

Mungkin karena warna kulitku yang cokelat gelap karena terbakar matahari? Aku sering ikut latihan, Kak jadi mau engga mau warna kulitku cokelat begini :)

Atau karena dandananku?
Maaf...saya cuma numpang lahir saja di kota yang sama dengan nii-san, hanya saja saya memang tidak pandai berdandan. Ditambah lagi saya tidak suka pakai pakaian dan hijab yang ribet. Saya lebih suka yang sederhana karena lebih efisien waktu.

Atau karena wajahku?
Aku emang jarang pake make up, nii-san. Kalaupun pake itupun tipis jadinya tidak kentara. Tapi setidaknya aku selalu tersenyum kalau ada nii-san dan teman-teman yang aku kenal. (Yah walaupun nii-san selalu pura-pura tidak melihatku).

Atau karena kekayaanku?
Aku sendiri sih belum punya penghasilan (buat perkecualian sih beasiswa yang pernah diberikan untuk saya. Hehehe). Yang berpenghasilan kan Ayah dan Ibu saya :)

Aku mah apa atuh, yang saat ini cuma punya kepintaran (kata mereka) dan tekad baja :")

Kadang yang sulit adalah menjawab pertanyaan Paman dan Bibi saat acara keluarga. "Gimana kalo Sinta ketemu sama Mas di kampus?"
Paman dan Bibi begitu baik. Beliau berdua tidak peduli akan hal-hal yang aku sebutkan diatas. Beliau semua bangga padaku, just the way I am, terlebih atas prestasi yang aku raih. Aku cuma tersenyum sambil menggeleng."Maaf sebelumnya. Coba saja paman dan bibi tanyakan pada orangnya"
Mereka orang tua. Tentunya mereka paham betul gestur dan ekspresi yang aku berikan saat menjawab seperti itu.

Makanya aku suka males banget kalo disuruh liburan ke rumah grandparents dari pihak ayah. Like, my grannies aktif di beragam organisasi-jadi beliau berdua jarang ada di rumah. Sementara itu di rumah ada banyak orang sih, tapi pada asyik sendiri (cousins aku, maksudnya). Yang deket sama aku cuma Amelia aja.

Ayu sampe bilang, "Sekali lagi kamu BERUSAHA nyapa mas sepupumu, gue tampol loe"
Itu karena Ayu sendiri juga kesal dengan perilaku onii-san, juga kesal dengan perilakuku yang terus saja ngeyel.

Yah, ga tau deh.
Pokoknya aku udah nyapa duluan kok.
Lain kali kalau paman dan bibi bertanya, aku jawab jujur aja.
Inilah realita.
Karena seperti kata Dumbledore, kebenaran itu indah dan mengerikan. Dan oleh karenanya harus diperlakukan dengan hati-hati.

Catatan:

Senpai: Senior
nii-san: Kakak laki-laki

Jumat, 06 November 2015

Hobi Aneh(?) Sinta \(^o^)/

Nama: Sinta Alexandria N.
Hobi  : mengamati (hobi macam apa ini? xD)

Sinta suka sekali mengamati aktivitas teman-temannya saat kelas sedang berlangsung. Ada yang rajin mencatat, ada yang ngelamun, ada yang sms-an sama pacarnya (jadi dia ngetik sms di laci meja, tapi kepalanya fokus ama pengajar. Pro banget nih *grin*), ada yang kirim-kiriman surat sama sohibnya, ada yang tidur, ada yang ngerjain tugas buat pelajaran selanjutnya, ada juga yang iseng. Macem-macem deh!

Saat itu jam kosong dan kami sekelas mendapat tugas yang harus selesai hari itu juga.

'Hm? Anak itu rajin banget, kayak abang, babe, ama pakde gue waktu sekolah. Hahaha. Kasarannya, kayak beliau-beliau ini ga pernah muda,'pikir gadis itu.
Deg!
Anak itu menoleh. Sepasang mata tajam balas menatap mata Sinta, yang sedang tersenyum sendirian.

Sinta yang ketangkep basah cuma bisa manggut-manggut sambil ngatupin kedua tangannya di depan dada. Maafkeun saya bang T..T Sinta cuma penasaran.

Langsung deh Sinta menganalisa.
"Hm..."
"Courteous? Checklist! Dia ga apatis kayak yang lainnya. Rajin? Iya. Kalo jam kosong sering ke masjid juga. He always got straight A's too. Anaknya dingin dan sulit didekati-jangan-jangan dia abang aku yang jadi time traveller supaya bisa ngawasin aku? Ealah Herp, Herp...ga mungkin lah!"

Lagi, sepasang mata tajam itu mengawasi Sinta.
'Uwa! Ampun! Ih vego vanget sih ane sampe ga sadar kalo ngeliatin dia T..T'
Dalam waktu sepersekian detik Sinta langsung mengalihkan pandangannya. "Dasar baka!"

"Dasar vvibu,"kata Rahadian, yang mendengar umpatan Sinta barusan.
"Elu juga,"timpal Sinta.
***
Saat istirahat...

Anak tadi langsung menghampiri Sinta, yang sedang makan bekal sama teman-temannya.

"Kamu bisa ga sih engga ngawasin aku? Risih tau"
Anak-anak perempuan yang lain pada terkesiap. Dasar ice king!

Sinta menundukkan kepalanya. "Maaf ya...soalnya aku pikir kamu mirip sama kakakku, yang sedang menempuh studi di negara seberang. Soalnya sifat kalian mirip. Maaf kalau aku ganggu-lagian aku ga ngamatin kamu aja, tapi semua temen-temen di kelas ini juga

Misalnya aja, Ayu yang belakangan ini sering pakai cincin batu giok ke sekolah. Terus Rahadian yang suka banget nyanyi Senbonzakura-nya Hatsune Miku. Lalu ada Reza yang jalannya agak pincang tapi entah kenapa...mungkin cedera sehabis tanding futsal antarkelas kemarin"

Anak-anak di dalam kelas terdiam. Sinta jeli banget sih?
"Lain kali kalo nyari tempat duduk ga usah deket-deket sama aku. Cari yang jauh sekalian"katanya, masih dengan nada datar yang sama.

"Itu karena ga ada bangku lain yang kesisa kecuali di deket kamu,"timpal Sinta. Dia mulai kesal. "Engga liat apa kalo anak-anak cewek suka duduk sebarisan ama geng mereka, dan anak cowok pun demikian? Tenang aja, aku juga ga naksir sama siapa-siapa. Tadinya aku mau temenan sama kamu soalnya kita sama-sama suka klub sepakbola ama baca novel berseri yang sama. Kalo kamu ga suka ya udah sih, maaf ya udah bikin kamu engga nyaman"Sinta membungkuk, pamit pada teman-temannya, lalu pergi keluar sambil membawa bekalnya.
Dia kalo udah kzl kok childish ya jatuhnya?

Sinta cuma mau berteman. Semua yang ada di kelas itu adalah temannya kecuali pemuda bermata tajam itu.
Pikir Sinta, kalau ga mau dan susah diajak berteman, lebih baik ga usah aja. Cukup sebagai acquaintance aja.

Lagian susah juga sih. Kalau kita menolong dan 100% murni nolong tanpa pamrih nanti dikira naksir -,- padahal sama yang cewek juga gitu. Kalo mau senyum apa nyapa duluan, nanti pada mikir yang engga-engga juga! Ya udah mendingan cuek bebek (walaupun ini sulit diterapkan, apalagi kalo temen-temenmu sakit dan you're worried to death and pengen kasih tau ramuan apa aja yang harus mereka racik untuk menyembuhkan sakit tersebut).

Itulah hobi aneh yang suka Sinta lakuin di kelas. Hehehe.
Kalo kamu?

Jumat, 23 Oktober 2015

Street Vendor's Unexpected Message!

Assalamualaikum, semuanya! Pada kangen sama tulisan Sinta ya? (elah kayak lu ada yang ngangenin aja). Sinta akan menceritakan suatu pengalaman unik yang terjadi beberapa hari lalu.

Sepulang kuliah, tepatnya di dekat Gedung BI Solo, Sinta mampir sebentar ke pinggiran jalan untuk membeli pisang yang dijajakan di pinggir jalan oleh seorang kakek tua. Sinta ingin memberikan pisang itu untuk mama yang sedang sakit stroke. Karena buah tersebut dianjurkan untuk dikonsumsi bagi mereka yang terkena penyakit tersebut.

Penjualnya sudah tua, seorang kakek di usianya yang sudah mencapai 94 tahun. Beliau bilang bahwa beliau berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Kakek sudah sepuh seperti ini tapi masih tetap semangat ya untuk bekerja keras, pikirku kala itu. Beliau membawa usungan-sebuah bilah bambu dengan keranjang dari anyaman bambu yang ditali di ujung-ujungnya. Nampaknya belaiu sedang beristirahat sejenak di bawah teduhnya bayangan gedung itu.

Begitu Sinta pamit akan pulang, Kakek itu berkata dalam Bahasa Jawa halus (krama). "Tunggu sebentar, Mbak. Saya mau bilang sesuatu"

(author's note: Sinta bukan orang asli Solo dan keluarga Sinta bicara dalam banyak bahasa-Indonesia, Jawa, Sunda, Minang (kadang-kadang), dan Inggris. Yang Sinta ketahui hanyalah Bahasa Jawa ngoko. Kan konyol namanya kalau kamu ngomong pake Bahasa Jawa ngoko ke orang yang lebih tua! Hahaha. Jadi aku jawabnya pake Bahasa Indonesia. Sinta mengerti Bahasa Jawa krama, tapi kalo disuruh ngomong engga bisa).

"Ada apa ya, Kek?"
Beliau lalu bercerita begini, "Saya kasihan sama salah satu anggota keluarga besar mbak. Beliau sedang sakit keras dan sendirian di rumahnya, tidak ada yang merawat. Hampir kepaten obor, Mbak (tali silaturahmi/persaudaraannya hampir putus. Kurang lebih begitu). Tolong ditengok. Kasihan"
Sinta cuma bisa mengerutkan dahi sembari berpikir siapa ya kira-kira?

Melihat ekspresi Sinta, kakek tua itu tertawa sembari menampilkan gigi-giginya yang sudah ompong.
"Terserah Mbak mau percaya atau tidak. Lagipula saya kan cuma kakek-kakek yang jualan pisang di pinggir jalan"

Aku cuma manggut-manggut sambil bilang, "Saya percaya kok, Kek. Coba nanti saya tanyakan kepada sesepuh di trah saya. Terima kasih banyak atas informasinya. Kakek sehat-sehat ya! Semoga dagangannya laku semua. Aamiin. Sinta pamit dulu"

Karena penasaran, aku langsung menelepon adiknya almarhum kakekku untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut.

"Iya, Mbak. Eyang belum sempet nengok. Mbak Sinta tau dari siapa?"
Jawabku polos, "Kakek Penjual Pisang"
"Eeh?!"terdengar suara heran nenek di ujung telepon.

Yang diceritakan oleh kakek tersebut adalah salah seorang kerabat jauh Sinta. Beliau juga sakit stroke. Semoga beliau cepat sembuh. Dulu mama berobat ke Hortus Medicus yang terletak di Tawangmangu. Selain itu, Sinta dan Ayah juga kerap memberikan terapi akupresur untuk Mama. Alhamdulillah sudah baikan sekarang-asal tidak kepanasan dan kecapean.

Aku menceritakan tentang hal itu ke semua anggota trahku.
"Kok bisa ya eyang/pakde/bude/om/tante/mas/mbak?"tanyaku.

Mungkin pesan yang diberikan dengan perantara kakek tua itu. Sebagai pengingat supaya kami semua lebih mempererat  tali silaturahmi.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Panggilan Jiwa?

Aku belum pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya!

Selama ini ia hanya tutup mulut-seolah-olah ingin supaya kisah itu hanya diketahui oleh dia dan Tuhan hingga ajal menjemputnya kelak.

Wanita itu bercerita dengan bersemangat-aku mulai membayangkan adegan dari kisah yang ia ceritakan: sebuah petualangan yang seru tapi juga mencekam di saat yang bersamaan.

Dia bercerita mengenai banyak hal-sambil tertawa-bahkan di saat yang menurutku mendebarkan. Ia pun memberikan nasihat untuk kami semua selaku generasi muda.

Semua memandangnya dengan beragam ekspresi: takut, bersemangat, kaget, dan tidak percaya.

Panggilan jiwa, katanya.
Panggilan jiwa? ulangku.
Duhai apa yang membuatnya menjadi seperti ini? Ada sesuatu yang mengerikan dalam kilat matanya saat ia mengatakan hal itu.

Kapan kiranya ia akan menjadi diri lamanya yang lembut dan pengasih-dan bukannya alat yang tak memiliki perasaan?

Kami semua beruntung karena tidak hidup pada masa-masa mencekam puluhan tahun lalu.
Semuanya tak dapat mengatakan sepatah kata pun untuk menanggapi ceritanya.

Jumat, 16 Oktober 2015

The Fading Memories of Precious Past

Sinta tergelak saat melihat foto sahabatnya itu.

Tunggu dulu. Sahabat? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

Ia berusaha untuk mengingat.
Mereka pernah bertemu, lama berselang, dan menghabiskan waktu yang cukup lama pula. Bersama-sama berbagi suka dan duka. Berjuang untuk mencapai impian yang sama.

Ia tahu betul bahwa ia sangat senang berada bersama dengan mereka-bagaimana si gadis yang merupakan figur kakak selalu saja membuat kelompok remaja itu tertawa dan bagaimana si pemuda selalu saja menjahilinya.
Namun hanya itu yang diketahuinya. Bukan diingatnya.

Hingga muncul pertanyaan, pernahkah ia bertemu dengan mereka? Kapan persisnya? dan apa benar dia pernah bersekolah disana? Hebat sekali rasanya ya...

Sinta selalu berusaha untuk mengontak mereka semua, tapi usahanya itu tidak akan bertahan lama. Mereka terkesan menghindari Sinta akan suatu hal. Kesibukan kah? Atau hal lainnya?
Hanya ada satu yang masih berkomunikasi dengannya-si pemuda usil itu. Kapanpun gadis iu berusaha mengontaknya, pemuda itu selalu saja menemukan cara untuk menjahilinya. Misalnya, pada Idul Adha yang lalu.
"Cie yang tahun ini qurban perasaan"katanya. Sinta tertawa miris. Di bawahnya ada tulisan, "Umur sembilan belas dan ga pernah pacaran? Jomblo (perawan tua) abadi nih ye. Hahaha"
Bayangan akan anak gadis di masa sebelum kemerdekaan berusia 19 tahun yang belum menikah tebayang di benak Sinta. Ia ingat betul bagaimana buyutnya menyiramkan air kembang ke salah satu neneknya pada tengah malam supaya tidak menjomblo. Macam mana...

Jadi ia protes mengenai arti jomblo yang sesungguhnya adalah perawan tua dan bagaimana anak muda sekarang menggunakannya untuk arti yang sangat jauh dari itu. Ia menambahkan kalau yang demikian tidak diperbolehkan di dalam agama mereka. Pemuda itu pun terdiam. Ia sadar kalau bercandanya sudah kelewat batas.

Mereka berdua adalah dua orang sahabat yang dipisahkan oleh jarak-satu di Barat dan satu lagi di Timur. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang sekarang ini, jarak bukan lagi halangan dalam berkomunikasi.

Celakanya, Satria yang memang short tempered dari lahir, melirik sekilas layar smartphone kakaknya.

"ENAK AJA LU KATA KAKAK GUE JOMBLO ABADI-KENA OMONGAN SENDIRI TAU RASA LU C*EG!"katanya dengan wajah merah padam. Sinta menenangkan adiknya itu, berkata kalau temannya itu kalau bercanda suka kelewat batas.

Jadi, yang dilakukan Sinta hanyalah mendoakan sahabat-sahabatnya itu. Ia yakin sekali kalau mereka memiliki alasan khusus dibalik itu semua. Demi kebaikan mereka bersama. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia bisa merasakan bahwa mereka juga merindukannya.

Gadis itu berbisik lembut seraya menatap ke langit malam yang bertabur bintang:
Jika pada malam-malam sunyi kalian merasa sedih karena kalian berpikir bahwa tidak ada yang pernah memikirkan atau bahkan merindukan kalian selain keluarga dan orang terdekat...percayalah akan satu hal. Bahwa diluar sana, ada seorang sahabat lamamu yang selalu mendoakan dan merindukanmu.

Semoga di masa depan nanti, kita semua dipertemukan kembali oleh Allah SWT. Aamiin yaa Rabbal alamiin.

Salam,


Sinta Alexandria.

Strategi Ngitung Benik ala Sinta

Halo semuanya. Selamat siang!

Kalian sebagai pelajar pastinya pernah menghadapi soal ujian yang njelimet atau susah. Kalian sudah mencoba berbagai macam cara atau berusaha mengingat dengan baik, tapi sekeras apapun kalian berpikir, jawaban itu tak kunjung tiba. Hingga mucullah strategi pamungkas: Ngitung benik (menghitung kancing di baju seragam) alias ngarang. Hahaha. Namanya juga kepepet kan ya.

Tapi kalau Sinta mah lain. Sinta pakai nama pemain sepakbola dari kesebelasan favorit saya, Timnas Jerman. Hahaha. Penasaran kan gimana caranya?

Misalkan, soal nomor 28 itu susahnya ga ketulungan. Yang pinter sekalipun merasa kesulitan dalam mengerjakannya. Jadi yang Sinta lakukan adalah mencari kesamaan huruf dari pemain bernomor punggung dua dan delapan (karena nomor punggungnya sampai 23 saja saat itu). Habis itu, baru dipilih deh. Ingat ya, strategi ini hanya berlaku untuk soal pilihan ganda aja (Si Sinta ngajar ngaco aja nih).

Ajaibnya, strategi ini sukses besar kalau Sinta menemukan soal sulit dalam soal-soal sekaliber Try Out, Olimpiade, maupun seleksi masuk. Nah lo.
Hahaha.

Jangan ditiru ya :p

Minggu, 04 Oktober 2015

FAQs

Q: Sinta, kamu blasteran ya? Kamu pasti naturalisasi.
A: Enggak kok, aku orang Indonesia asli. Aku lahir di Ibukota Negara, tumbuh besar dan menempuh studi di Surakarta.

Q: Kalo bukan blasteran terus apa dong?
A: Keluargaku multikultur. Aku sendiri punya darah Jawa, Sunda, Minang, Betawi, Arab, China. Dua yang aku sebut belakangan itu leluhurku. Beliau-beliau merupakan penyebar agama ataupun pedagang pada zaman kerajaan di Indonesia, lama berselang.

Q: Nama kamu unik deh. Apa artinya?
A: Nama pertama artinya damai. Nama tengah itu gabungan nama orangtua dan nama terakhir itu nama taman nasional. Ada cerita kelam di balik nama terakhirku, tapi lebih baik aku engga cerita disini.

Q: Semua orang bilang kamu pinter...
A: Kalo engga belajar ya mana bisa pinter. Semua juga butuh proses. Tapi gini-gini aku juga pernah remidi kok. Dan, pernyataan miring orang-orang itu yang buat aku terus belajar dengan giat-walau memang ada hal yang aku ga ahli di dalamnya...*termenung*

Q: Kamu pendiem banget sih?
A: Gimana ya...engga juga sih. Aku tipe yang mengamati dulu baru ambil tindakan (?). Aku liat dulu gimana sifat orang itu, gimana dia berinteraksi sama orang lain. Kalo aku rasa oke, baru aku deketin. Kalo sama cowok, rada susah juga ya soalnya nanti dikira naksir atau murahan. Padahal murni motifnya mau temenan aja. Kenapa gini? Soalnya aku pernah nyapa tetanggaku, terus aku dibilang gini "Kamu kenapa senyam-senyum? Kamu gila ya? Memang saya kenal sama kamu?"
Lah. Aku kan cuma mencoba ramah.
Belakangan diketahui kalau dia sedang tertekan mentalnya karena suatu hal. Jadi ga heran kalo responnya kayak gitu.
Kalo emang orangnya cocok (setelah aku amati), ya endingnya kayak temen lama yang udah lama ga ketemu dan dipertemukan kembali. Kayak saudara, malah.


Q: Eeh..Sinta punya pacar ga?
A: Enggak (menjawab dengan lugas).

Q: Kenapa?
A: Dalam kepercayaan aku, yang namanya pacaran itu tidak diperbolehkan. Lagipula, aku mau fokus sama studiku karena ada janji yang harus aku penuhi.

Q: Kalau begitu, kamu naksir seseorang mungkin?
A: Tentu saja (jawabnya jujur amat). Aku normal kok kayak kalian. Jangan mikir yang aneh-aneh ya! *nepuk jidat*. Apa? Kasih tau? Well...gimana ya...yang jelas dia bukan dari kota yang sama denganku. Bukan temen sekelas. Sifatnya gimana? Rahasia! (Only Ayu and my mom who know about him-only know-without knowing his traits, seperti apa rupanya, dan apa alasanku kyahaha. Rahasia!). Tapi seperti yang kakak tingkatku bilang, jangan katakan hal ini pada mereka yang dekat denganmu (temen cewek maksudnya), karena endingnya temenmu jadi ikutan naksir.

Q: Tadi kamu nyebut soal janji. Janji apa? Kepada siapa?
A: Janji untuk kembali. Kepada siapa aku berjanji akan hal tersebut.

Q: Kamu sering banget bilang 'Guru bilang ini-' atau 'Guru bilang kalau' sebenarnya beliau-beliau itu siapa sih kok berpengaruh sekali sepertinya buat kamu?
A: Beliau-beliau merupakan pengajarku lama berselang, dan aku belajar banyak hal dari mereka semuanya. Aku pun ingat apa-apa saja yang pernah mereka katakan ke aku loh (saking ngenanya). Berkat merekalah aku jadi aku yang sekarang ini. Entah ya, dari sekian lama aku menuntut ilmu, aku cuma cocok dengan semua pengajarku itu-mungkin karena pola pikir kita sama. Hahaha.
Kalo digambarin mirip ama Rock Lee sama Guy Sensei di Naruto. Catatan: semua orang bisa jadi guru, loh. Jadi yang

Q: Kalo ngomong kok cepet banget?
A: Karena kalo kelamaan (buatku) nanti aku lupa mau ngomong apa! Haha xD

Q: Gimana caranya kamu bisa Bahasa Inggris? Plus, caramu ngomong pun engga medok.
A: Aku otodidak. Belajar dari nonton film, main game, dengerin lagu+nerjemahin artinya, sama baca novel.
Waktu kecil aku belajar dari kamus bergambar.

Q: Mata pelajaran/Mata kuliah favorit?
A: Geografi, Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Mandarin/Sistem Politik Indonesia, Sistem Hukum Indonesia, Komunikasi Massa, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Teori Komunikasi. Banyak ya...hehehe.

Q: Satu lagi, kenapa kamu ga pernah pakai nama aslimu?
A: Karena diam-diam di luar sana ada semacam stalker yang setiap kali dia punya kesempatan selalu lewat di depan rumah kakek dan nenekku (untuk nyari aku!) Dia bahkan berusaha ngeadd semua keluargaku juga di sosmed. Parahnya lagi, di suatu kesempatan, dia pernah dapet gambar aku waktu masih kecil. Intinya, di era informasi seperti sekarang ini, kecil kemungkinan seseorang ga dapet menemukanmu di dunia maya. Yang jadi masalah adalah apabila informasi mengenai kamu disalahgunakan oleh orang lain. Contohnya si stalker wanna be itu. Pernah loh, waktu itu temenku ngasih nomor hp aku ke mantan pacarnya. Aku marah sama anak cewek itu. Motivasinya apa? Anu katimpuhan mah da urang, bukan manehna -,-


 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design