Gadis itu tersenyum bahagia, rona merah mulai nampak di pipinya.
"Ayo berjanji, Rowena. Aku cuma menceritakan hal ini padamu"
Rowena mengangguk lalu mengaitkan kelingking mungilnya di jari kelingking Bedivere. Seketika itu juga Rowena merasakan kehangatan di dalam hatinya.
"Tentu,"katanya. Ada binar dalam matanya. "Aku berjanji"ia tersenyum bahagia.
Lokomotif uap mulai berbunyi. Pemuda itu mengecek arlojinya. "Sudah waktunya untuk kembali"
Rowena mengangguk. "Kalau sudah sampai, jangan lupa bagikan kue kering buatanku ya. Tolong sampaikan salam hangatku untuk semuanya,"katanya penuh sayang.
"Tentu,"katanya. Pemuda itu menjabat tangan si gadis. "Cepatlah kembali. Semuanya juga merindukanmu"
"He-em!"deham Rowena sambil mengangguk. Matanya menunjukkan tekad berapi-api. "Hati-hati di jalan, Bedivere"
Bedivere tertawa kecil melihat ekspresi childish gadis itu. Dia pun menepuk-nepuk kepalanya.
"Jaga dirimu baik-baik, oke. Sampai jumpa"
Rowena melambaikan tangannya hingga kereta uap itu menghilang di belokan. Ia menggenggam surat dari Bedivere erat-erat.
Aku akan mengirim surat pada kalian semua, setidaknya sekali dalam seminggu!
Aku juga akan mengirimkan hadiah-hadiah untuk kalian.
Ia tersenyum, lalu beranjak meninggalkan stasiun.
Sampai jumpa.
Sampai ketemu lagi.
Minggu, 22 November 2015
Karena Perpisahan bukanlah Akhir dari Segalanya
Label:
friendship,
slice of life,
story
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar