Alhamdulillah...aku senang sekali karena keinginanku untuk bisa satu kampus dengan salah satu sepupuku dan sekelas dengan teman dari luar negeri bisa terwujud.
Namun ada satu masalah.
Ekspektasi: Bisa sekampus dengan kakak/adik sepupumu (selanjutnya disebut nii-san) membuatmu bisa belajar bersama dengannya. Kamu pun bisa mengunjunginya dan menolongnya apabila ia butuh bantuan-mengingat dia merupakan perantau di kotamu (plus karena kamu udah janji sama orang tua dia alias paman dan bibimu untuk selalu menjaga dan mengawasinya). Asyik lagi, kamu bisa dapat informasi penting misalnya model ujian yang akan diujikan seperti apa dan tempat hang out asyik di sekitar kampus. Plus, kalian juga bakalan lebih deket karena sealmamater dan seprodi, cuma beda angkatan aja.
REALITA: Nii-san malu tiap kali disapa sama kamu. Apalagi kalau kamu nyapa dia di depan teman-teman sekelasnya. Paling pol yang nyapa balik cuma pacarnya, yang anehnya justru lebih deket sama kamu.
Mungkin karena warna kulitku yang cokelat gelap karena terbakar matahari? Aku sering ikut latihan, Kak jadi mau engga mau warna kulitku cokelat begini :)
Atau karena dandananku?
Maaf...saya cuma numpang lahir saja di kota yang sama dengan nii-san, hanya saja saya memang tidak pandai berdandan. Ditambah lagi saya tidak suka pakai pakaian dan hijab yang ribet. Saya lebih suka yang sederhana karena lebih efisien waktu.
Atau karena wajahku?
Aku emang jarang pake make up, nii-san. Kalaupun pake itupun tipis jadinya tidak kentara. Tapi setidaknya aku selalu tersenyum kalau ada nii-san dan teman-teman yang aku kenal. (Yah walaupun nii-san selalu pura-pura tidak melihatku).
Atau karena kekayaanku?
Aku sendiri sih belum punya penghasilan (buat perkecualian sih beasiswa yang pernah diberikan untuk saya. Hehehe). Yang berpenghasilan kan Ayah dan Ibu saya :)
Aku mah apa atuh, yang saat ini cuma punya kepintaran (kata mereka) dan tekad baja :")
Kadang yang sulit adalah menjawab pertanyaan Paman dan Bibi saat acara keluarga. "Gimana kalo Sinta ketemu sama Mas di kampus?"
Paman dan Bibi begitu baik. Beliau berdua tidak peduli akan hal-hal yang aku sebutkan diatas. Beliau semua bangga padaku, just the way I am, terlebih atas prestasi yang aku raih. Aku cuma tersenyum sambil menggeleng."Maaf sebelumnya. Coba saja paman dan bibi tanyakan pada orangnya"
Mereka orang tua. Tentunya mereka paham betul gestur dan ekspresi yang aku berikan saat menjawab seperti itu.
Makanya aku suka males banget kalo disuruh liburan ke rumah grandparents dari pihak ayah. Like, my grannies aktif di beragam organisasi-jadi beliau berdua jarang ada di rumah. Sementara itu di rumah ada banyak orang sih, tapi pada asyik sendiri (cousins aku, maksudnya). Yang deket sama aku cuma Amelia aja.
Ayu sampe bilang, "Sekali lagi kamu BERUSAHA nyapa mas sepupumu, gue tampol loe"
Itu karena Ayu sendiri juga kesal dengan perilaku onii-san, juga kesal dengan perilakuku yang terus saja ngeyel.
Yah, ga tau deh.
Pokoknya aku udah nyapa duluan kok.
Lain kali kalau paman dan bibi bertanya, aku jawab jujur aja.
Inilah realita.
Karena seperti kata Dumbledore, kebenaran itu indah dan mengerikan. Dan oleh karenanya harus diperlakukan dengan hati-hati.
Catatan:
Senpai: Senior
nii-san: Kakak laki-laki
Catatan:
Senpai: Senior
nii-san: Kakak laki-laki
0 komentar:
Posting Komentar