Jumat, 23 Oktober 2015

Street Vendor's Unexpected Message!

Assalamualaikum, semuanya! Pada kangen sama tulisan Sinta ya? (elah kayak lu ada yang ngangenin aja). Sinta akan menceritakan suatu pengalaman unik yang terjadi beberapa hari lalu.

Sepulang kuliah, tepatnya di dekat Gedung BI Solo, Sinta mampir sebentar ke pinggiran jalan untuk membeli pisang yang dijajakan di pinggir jalan oleh seorang kakek tua. Sinta ingin memberikan pisang itu untuk mama yang sedang sakit stroke. Karena buah tersebut dianjurkan untuk dikonsumsi bagi mereka yang terkena penyakit tersebut.

Penjualnya sudah tua, seorang kakek di usianya yang sudah mencapai 94 tahun. Beliau bilang bahwa beliau berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Kakek sudah sepuh seperti ini tapi masih tetap semangat ya untuk bekerja keras, pikirku kala itu. Beliau membawa usungan-sebuah bilah bambu dengan keranjang dari anyaman bambu yang ditali di ujung-ujungnya. Nampaknya belaiu sedang beristirahat sejenak di bawah teduhnya bayangan gedung itu.

Begitu Sinta pamit akan pulang, Kakek itu berkata dalam Bahasa Jawa halus (krama). "Tunggu sebentar, Mbak. Saya mau bilang sesuatu"

(author's note: Sinta bukan orang asli Solo dan keluarga Sinta bicara dalam banyak bahasa-Indonesia, Jawa, Sunda, Minang (kadang-kadang), dan Inggris. Yang Sinta ketahui hanyalah Bahasa Jawa ngoko. Kan konyol namanya kalau kamu ngomong pake Bahasa Jawa ngoko ke orang yang lebih tua! Hahaha. Jadi aku jawabnya pake Bahasa Indonesia. Sinta mengerti Bahasa Jawa krama, tapi kalo disuruh ngomong engga bisa).

"Ada apa ya, Kek?"
Beliau lalu bercerita begini, "Saya kasihan sama salah satu anggota keluarga besar mbak. Beliau sedang sakit keras dan sendirian di rumahnya, tidak ada yang merawat. Hampir kepaten obor, Mbak (tali silaturahmi/persaudaraannya hampir putus. Kurang lebih begitu). Tolong ditengok. Kasihan"
Sinta cuma bisa mengerutkan dahi sembari berpikir siapa ya kira-kira?

Melihat ekspresi Sinta, kakek tua itu tertawa sembari menampilkan gigi-giginya yang sudah ompong.
"Terserah Mbak mau percaya atau tidak. Lagipula saya kan cuma kakek-kakek yang jualan pisang di pinggir jalan"

Aku cuma manggut-manggut sambil bilang, "Saya percaya kok, Kek. Coba nanti saya tanyakan kepada sesepuh di trah saya. Terima kasih banyak atas informasinya. Kakek sehat-sehat ya! Semoga dagangannya laku semua. Aamiin. Sinta pamit dulu"

Karena penasaran, aku langsung menelepon adiknya almarhum kakekku untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut.

"Iya, Mbak. Eyang belum sempet nengok. Mbak Sinta tau dari siapa?"
Jawabku polos, "Kakek Penjual Pisang"
"Eeh?!"terdengar suara heran nenek di ujung telepon.

Yang diceritakan oleh kakek tersebut adalah salah seorang kerabat jauh Sinta. Beliau juga sakit stroke. Semoga beliau cepat sembuh. Dulu mama berobat ke Hortus Medicus yang terletak di Tawangmangu. Selain itu, Sinta dan Ayah juga kerap memberikan terapi akupresur untuk Mama. Alhamdulillah sudah baikan sekarang-asal tidak kepanasan dan kecapean.

Aku menceritakan tentang hal itu ke semua anggota trahku.
"Kok bisa ya eyang/pakde/bude/om/tante/mas/mbak?"tanyaku.

Mungkin pesan yang diberikan dengan perantara kakek tua itu. Sebagai pengingat supaya kami semua lebih mempererat  tali silaturahmi.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Panggilan Jiwa?

Aku belum pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya!

Selama ini ia hanya tutup mulut-seolah-olah ingin supaya kisah itu hanya diketahui oleh dia dan Tuhan hingga ajal menjemputnya kelak.

Wanita itu bercerita dengan bersemangat-aku mulai membayangkan adegan dari kisah yang ia ceritakan: sebuah petualangan yang seru tapi juga mencekam di saat yang bersamaan.

Dia bercerita mengenai banyak hal-sambil tertawa-bahkan di saat yang menurutku mendebarkan. Ia pun memberikan nasihat untuk kami semua selaku generasi muda.

Semua memandangnya dengan beragam ekspresi: takut, bersemangat, kaget, dan tidak percaya.

Panggilan jiwa, katanya.
Panggilan jiwa? ulangku.
Duhai apa yang membuatnya menjadi seperti ini? Ada sesuatu yang mengerikan dalam kilat matanya saat ia mengatakan hal itu.

Kapan kiranya ia akan menjadi diri lamanya yang lembut dan pengasih-dan bukannya alat yang tak memiliki perasaan?

Kami semua beruntung karena tidak hidup pada masa-masa mencekam puluhan tahun lalu.
Semuanya tak dapat mengatakan sepatah kata pun untuk menanggapi ceritanya.

Jumat, 16 Oktober 2015

The Fading Memories of Precious Past

Sinta tergelak saat melihat foto sahabatnya itu.

Tunggu dulu. Sahabat? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

Ia berusaha untuk mengingat.
Mereka pernah bertemu, lama berselang, dan menghabiskan waktu yang cukup lama pula. Bersama-sama berbagi suka dan duka. Berjuang untuk mencapai impian yang sama.

Ia tahu betul bahwa ia sangat senang berada bersama dengan mereka-bagaimana si gadis yang merupakan figur kakak selalu saja membuat kelompok remaja itu tertawa dan bagaimana si pemuda selalu saja menjahilinya.
Namun hanya itu yang diketahuinya. Bukan diingatnya.

Hingga muncul pertanyaan, pernahkah ia bertemu dengan mereka? Kapan persisnya? dan apa benar dia pernah bersekolah disana? Hebat sekali rasanya ya...

Sinta selalu berusaha untuk mengontak mereka semua, tapi usahanya itu tidak akan bertahan lama. Mereka terkesan menghindari Sinta akan suatu hal. Kesibukan kah? Atau hal lainnya?
Hanya ada satu yang masih berkomunikasi dengannya-si pemuda usil itu. Kapanpun gadis iu berusaha mengontaknya, pemuda itu selalu saja menemukan cara untuk menjahilinya. Misalnya, pada Idul Adha yang lalu.
"Cie yang tahun ini qurban perasaan"katanya. Sinta tertawa miris. Di bawahnya ada tulisan, "Umur sembilan belas dan ga pernah pacaran? Jomblo (perawan tua) abadi nih ye. Hahaha"
Bayangan akan anak gadis di masa sebelum kemerdekaan berusia 19 tahun yang belum menikah tebayang di benak Sinta. Ia ingat betul bagaimana buyutnya menyiramkan air kembang ke salah satu neneknya pada tengah malam supaya tidak menjomblo. Macam mana...

Jadi ia protes mengenai arti jomblo yang sesungguhnya adalah perawan tua dan bagaimana anak muda sekarang menggunakannya untuk arti yang sangat jauh dari itu. Ia menambahkan kalau yang demikian tidak diperbolehkan di dalam agama mereka. Pemuda itu pun terdiam. Ia sadar kalau bercandanya sudah kelewat batas.

Mereka berdua adalah dua orang sahabat yang dipisahkan oleh jarak-satu di Barat dan satu lagi di Timur. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang sekarang ini, jarak bukan lagi halangan dalam berkomunikasi.

Celakanya, Satria yang memang short tempered dari lahir, melirik sekilas layar smartphone kakaknya.

"ENAK AJA LU KATA KAKAK GUE JOMBLO ABADI-KENA OMONGAN SENDIRI TAU RASA LU C*EG!"katanya dengan wajah merah padam. Sinta menenangkan adiknya itu, berkata kalau temannya itu kalau bercanda suka kelewat batas.

Jadi, yang dilakukan Sinta hanyalah mendoakan sahabat-sahabatnya itu. Ia yakin sekali kalau mereka memiliki alasan khusus dibalik itu semua. Demi kebaikan mereka bersama. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia bisa merasakan bahwa mereka juga merindukannya.

Gadis itu berbisik lembut seraya menatap ke langit malam yang bertabur bintang:
Jika pada malam-malam sunyi kalian merasa sedih karena kalian berpikir bahwa tidak ada yang pernah memikirkan atau bahkan merindukan kalian selain keluarga dan orang terdekat...percayalah akan satu hal. Bahwa diluar sana, ada seorang sahabat lamamu yang selalu mendoakan dan merindukanmu.

Semoga di masa depan nanti, kita semua dipertemukan kembali oleh Allah SWT. Aamiin yaa Rabbal alamiin.

Salam,


Sinta Alexandria.

Strategi Ngitung Benik ala Sinta

Halo semuanya. Selamat siang!

Kalian sebagai pelajar pastinya pernah menghadapi soal ujian yang njelimet atau susah. Kalian sudah mencoba berbagai macam cara atau berusaha mengingat dengan baik, tapi sekeras apapun kalian berpikir, jawaban itu tak kunjung tiba. Hingga mucullah strategi pamungkas: Ngitung benik (menghitung kancing di baju seragam) alias ngarang. Hahaha. Namanya juga kepepet kan ya.

Tapi kalau Sinta mah lain. Sinta pakai nama pemain sepakbola dari kesebelasan favorit saya, Timnas Jerman. Hahaha. Penasaran kan gimana caranya?

Misalkan, soal nomor 28 itu susahnya ga ketulungan. Yang pinter sekalipun merasa kesulitan dalam mengerjakannya. Jadi yang Sinta lakukan adalah mencari kesamaan huruf dari pemain bernomor punggung dua dan delapan (karena nomor punggungnya sampai 23 saja saat itu). Habis itu, baru dipilih deh. Ingat ya, strategi ini hanya berlaku untuk soal pilihan ganda aja (Si Sinta ngajar ngaco aja nih).

Ajaibnya, strategi ini sukses besar kalau Sinta menemukan soal sulit dalam soal-soal sekaliber Try Out, Olimpiade, maupun seleksi masuk. Nah lo.
Hahaha.

Jangan ditiru ya :p

Minggu, 04 Oktober 2015

FAQs

Q: Sinta, kamu blasteran ya? Kamu pasti naturalisasi.
A: Enggak kok, aku orang Indonesia asli. Aku lahir di Ibukota Negara, tumbuh besar dan menempuh studi di Surakarta.

Q: Kalo bukan blasteran terus apa dong?
A: Keluargaku multikultur. Aku sendiri punya darah Jawa, Sunda, Minang, Betawi, Arab, China. Dua yang aku sebut belakangan itu leluhurku. Beliau-beliau merupakan penyebar agama ataupun pedagang pada zaman kerajaan di Indonesia, lama berselang.

Q: Nama kamu unik deh. Apa artinya?
A: Nama pertama artinya damai. Nama tengah itu gabungan nama orangtua dan nama terakhir itu nama taman nasional. Ada cerita kelam di balik nama terakhirku, tapi lebih baik aku engga cerita disini.

Q: Semua orang bilang kamu pinter...
A: Kalo engga belajar ya mana bisa pinter. Semua juga butuh proses. Tapi gini-gini aku juga pernah remidi kok. Dan, pernyataan miring orang-orang itu yang buat aku terus belajar dengan giat-walau memang ada hal yang aku ga ahli di dalamnya...*termenung*

Q: Kamu pendiem banget sih?
A: Gimana ya...engga juga sih. Aku tipe yang mengamati dulu baru ambil tindakan (?). Aku liat dulu gimana sifat orang itu, gimana dia berinteraksi sama orang lain. Kalo aku rasa oke, baru aku deketin. Kalo sama cowok, rada susah juga ya soalnya nanti dikira naksir atau murahan. Padahal murni motifnya mau temenan aja. Kenapa gini? Soalnya aku pernah nyapa tetanggaku, terus aku dibilang gini "Kamu kenapa senyam-senyum? Kamu gila ya? Memang saya kenal sama kamu?"
Lah. Aku kan cuma mencoba ramah.
Belakangan diketahui kalau dia sedang tertekan mentalnya karena suatu hal. Jadi ga heran kalo responnya kayak gitu.
Kalo emang orangnya cocok (setelah aku amati), ya endingnya kayak temen lama yang udah lama ga ketemu dan dipertemukan kembali. Kayak saudara, malah.


Q: Eeh..Sinta punya pacar ga?
A: Enggak (menjawab dengan lugas).

Q: Kenapa?
A: Dalam kepercayaan aku, yang namanya pacaran itu tidak diperbolehkan. Lagipula, aku mau fokus sama studiku karena ada janji yang harus aku penuhi.

Q: Kalau begitu, kamu naksir seseorang mungkin?
A: Tentu saja (jawabnya jujur amat). Aku normal kok kayak kalian. Jangan mikir yang aneh-aneh ya! *nepuk jidat*. Apa? Kasih tau? Well...gimana ya...yang jelas dia bukan dari kota yang sama denganku. Bukan temen sekelas. Sifatnya gimana? Rahasia! (Only Ayu and my mom who know about him-only know-without knowing his traits, seperti apa rupanya, dan apa alasanku kyahaha. Rahasia!). Tapi seperti yang kakak tingkatku bilang, jangan katakan hal ini pada mereka yang dekat denganmu (temen cewek maksudnya), karena endingnya temenmu jadi ikutan naksir.

Q: Tadi kamu nyebut soal janji. Janji apa? Kepada siapa?
A: Janji untuk kembali. Kepada siapa aku berjanji akan hal tersebut.

Q: Kamu sering banget bilang 'Guru bilang ini-' atau 'Guru bilang kalau' sebenarnya beliau-beliau itu siapa sih kok berpengaruh sekali sepertinya buat kamu?
A: Beliau-beliau merupakan pengajarku lama berselang, dan aku belajar banyak hal dari mereka semuanya. Aku pun ingat apa-apa saja yang pernah mereka katakan ke aku loh (saking ngenanya). Berkat merekalah aku jadi aku yang sekarang ini. Entah ya, dari sekian lama aku menuntut ilmu, aku cuma cocok dengan semua pengajarku itu-mungkin karena pola pikir kita sama. Hahaha.
Kalo digambarin mirip ama Rock Lee sama Guy Sensei di Naruto. Catatan: semua orang bisa jadi guru, loh. Jadi yang

Q: Kalo ngomong kok cepet banget?
A: Karena kalo kelamaan (buatku) nanti aku lupa mau ngomong apa! Haha xD

Q: Gimana caranya kamu bisa Bahasa Inggris? Plus, caramu ngomong pun engga medok.
A: Aku otodidak. Belajar dari nonton film, main game, dengerin lagu+nerjemahin artinya, sama baca novel.
Waktu kecil aku belajar dari kamus bergambar.

Q: Mata pelajaran/Mata kuliah favorit?
A: Geografi, Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Mandarin/Sistem Politik Indonesia, Sistem Hukum Indonesia, Komunikasi Massa, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Teori Komunikasi. Banyak ya...hehehe.

Q: Satu lagi, kenapa kamu ga pernah pakai nama aslimu?
A: Karena diam-diam di luar sana ada semacam stalker yang setiap kali dia punya kesempatan selalu lewat di depan rumah kakek dan nenekku (untuk nyari aku!) Dia bahkan berusaha ngeadd semua keluargaku juga di sosmed. Parahnya lagi, di suatu kesempatan, dia pernah dapet gambar aku waktu masih kecil. Intinya, di era informasi seperti sekarang ini, kecil kemungkinan seseorang ga dapet menemukanmu di dunia maya. Yang jadi masalah adalah apabila informasi mengenai kamu disalahgunakan oleh orang lain. Contohnya si stalker wanna be itu. Pernah loh, waktu itu temenku ngasih nomor hp aku ke mantan pacarnya. Aku marah sama anak cewek itu. Motivasinya apa? Anu katimpuhan mah da urang, bukan manehna -,-


 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design