Assalamualaikum, semuanya! Pada kangen sama tulisan Sinta ya? (elah kayak lu ada yang ngangenin aja). Sinta akan menceritakan suatu pengalaman unik yang terjadi beberapa hari lalu.
Sepulang kuliah, tepatnya di dekat Gedung BI Solo, Sinta mampir sebentar ke pinggiran jalan untuk membeli pisang yang dijajakan di pinggir jalan oleh seorang kakek tua. Sinta ingin memberikan pisang itu untuk mama yang sedang sakit stroke. Karena buah tersebut dianjurkan untuk dikonsumsi bagi mereka yang terkena penyakit tersebut.
Penjualnya sudah tua, seorang kakek di usianya yang sudah mencapai 94 tahun. Beliau bilang bahwa beliau berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Kakek sudah sepuh seperti ini tapi masih tetap semangat ya untuk bekerja keras, pikirku kala itu. Beliau membawa usungan-sebuah bilah bambu dengan keranjang dari anyaman bambu yang ditali di ujung-ujungnya. Nampaknya belaiu sedang beristirahat sejenak di bawah teduhnya bayangan gedung itu.
Begitu Sinta pamit akan pulang, Kakek itu berkata dalam Bahasa Jawa halus (krama). "Tunggu sebentar, Mbak. Saya mau bilang sesuatu"
(author's note: Sinta bukan orang asli Solo dan keluarga Sinta bicara dalam banyak bahasa-Indonesia, Jawa, Sunda, Minang (kadang-kadang), dan Inggris. Yang Sinta ketahui hanyalah Bahasa Jawa ngoko. Kan konyol namanya kalau kamu ngomong pake Bahasa Jawa ngoko ke orang yang lebih tua! Hahaha. Jadi aku jawabnya pake Bahasa Indonesia. Sinta mengerti Bahasa Jawa krama, tapi kalo disuruh ngomong engga bisa).
"Ada apa ya, Kek?"
Beliau lalu bercerita begini, "Saya kasihan sama salah satu anggota keluarga besar mbak. Beliau sedang sakit keras dan sendirian di rumahnya, tidak ada yang merawat. Hampir kepaten obor, Mbak (tali silaturahmi/persaudaraannya hampir putus. Kurang lebih begitu). Tolong ditengok. Kasihan"
Sinta cuma bisa mengerutkan dahi sembari berpikir siapa ya kira-kira?
Melihat ekspresi Sinta, kakek tua itu tertawa sembari menampilkan gigi-giginya yang sudah ompong.
"Terserah Mbak mau percaya atau tidak. Lagipula saya kan cuma kakek-kakek yang jualan pisang di pinggir jalan"
Aku cuma manggut-manggut sambil bilang, "Saya percaya kok, Kek. Coba nanti saya tanyakan kepada sesepuh di trah saya. Terima kasih banyak atas informasinya. Kakek sehat-sehat ya! Semoga dagangannya laku semua. Aamiin. Sinta pamit dulu"
Karena penasaran, aku langsung menelepon adiknya almarhum kakekku untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut.
"Iya, Mbak. Eyang belum sempet nengok. Mbak Sinta tau dari siapa?"
Jawabku polos, "Kakek Penjual Pisang"
"Eeh?!"terdengar suara heran nenek di ujung telepon.
Yang diceritakan oleh kakek tersebut adalah salah seorang kerabat jauh Sinta. Beliau juga sakit stroke. Semoga beliau cepat sembuh. Dulu mama berobat ke Hortus Medicus yang terletak di Tawangmangu. Selain itu, Sinta dan Ayah juga kerap memberikan terapi akupresur untuk Mama. Alhamdulillah sudah baikan sekarang-asal tidak kepanasan dan kecapean.
Aku menceritakan tentang hal itu ke semua anggota trahku.
"Kok bisa ya eyang/pakde/bude/om/tante/mas/mbak?"tanyaku.
Mungkin pesan yang diberikan dengan perantara kakek tua itu. Sebagai pengingat supaya kami semua lebih mempererat tali silaturahmi.