Minggu, 18 Desember 2016

Magus dan Lima Bola Api Kehidupan

Gadis itu adalah seorang magus.

Ia memiliki rambut ikal berwarna lembayung sepanjang punggungnya yang ia tata dengan rapi. Matanya yang keemasan selalu menatap kosong dan seolah jiwa-nya sudah hilang lama berselang: tidak ada sinar kehidupan pada kedalamannya.

Ia tinggal di kamar teratas yang terdapat di dalam puri milik keluarganya, bersama dengan keempat bola api miliknya.

Keempat bola api itu merupakan representasi dari hal-hal yang membuatnya tetap 'hidup': Oranye melambangkan keluarga, biru melambangkan pengajar-pengajarnya, kuning untuk teman-temannya dan merah untuk bangsanya.

Kalian pasti bertanya, hanya itu saja?

Ya. Karena dia selalu yakin bahwa di dunia ini, hanya keempat hal itulah yang peduli dan menyayanginya. Mereka (manusia) yang benar-benar peduli padanya.

Dan ia sadar betul, seiring dengan berjalannya waktu, bola api-bola api magis miliknya semakin mengecil.

Apa yang terjadi jika keempatnya hilang?

Otomatis, dia akan mati.

Karena jantung artifisial yang selama ini bersemayam dalam tubuhnya...hidup dengan bahan bakar keempat bola api itu.

Dulunya dia adalah magus biasa, seorang gadis yang penuh dengan semangat dan juga senyuman.

Namun segala sesuatunya berubah dan perlahan, esensi kehidupan yang berada di jantungnya mulai menghilang.

Pernah suatu ketika temannya bertanya, "Tidakkah ada seseorang yang kau sukai?"

Magus itu hanya memberi tatapan penuh tanya (yang nampaknya seperti tatapan sinis) sebelum berkata, "Tidak,"jawabnya singkat.

"Mengapa tidak?"

Untuk pertama kalinya, temannya melihat magus itu menunjukkan emosi: dia memutar bola matanya.

"Akan kukatakan satu hal: mereka menyukaimu hanya karena kamu cantik dan menarik. Itu saja. Tapi begitu kecantikan tersebut mulai hilang, aku ragu bila mereka akan tetap tinggal"

"Tapi kamu kan cantik..."

"Memangnya kamu pernah melihat wajah dibalik topeng ini?"

Magus itu...selama lima tahun belakangan ini selalu memakai topeng diwajahnya. Tipe topeng yang biasa dipakai pada saat pesta dansa.

"Well...tidak sih..."kata temannya. "Tapi aku yakin kalau kamu cantik,"kata pemuda itu dengan optimis.

Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi. Tapi si magus berucap pelan, "terima kasih"

"Sebetulnya... bola api-mu itu ada lima kan?"tanya pemuda itu seraya mengayunkan kakinya. Ia sibuk menatap bayangan sahabatnya itu di tepi danau; mengamati komunikasi nonverbal-nya.

"Oh ya?"tanya si magus

"Aku cuma seorang inventor sih...tapi coba pikirkan...masak kamu cuma punya keluarga, teman, pengajar, dan negara yang begitu kamu cintai ini. Maksudku...masa sih ga ada seseorang spesial yang begitu kamu sayangi?"

"Apakah kamu punya teori?"

Si magus menelengkan kepalanya.

"Aku selalu mendengar kisah tentangmu, Rowena. Kisah seorang Putri baik hati yang selalu menyamar dengan tudung hitamnya dan menolong orang-orang yang membutuhkan,"ia memulai.

"Sayangnya, dia terlalu baik hati. Saking baik hatinya...dia sampai memberikan bola api putih miliknya - lambang kasih - kepada..."

"Wah menarik. Kamu belajar mengarang dari siapa, Arne?"

Pemuda itu bisa melihat dengan jelas senyum samar yang menghiasi wajah si magus.

"Tentang bola api putih itu...hmm...dia memudar...lalu meledak. Hahaha..."tawanya getir.

"S-sungguhkah?!"

Magus itu mengangguk santai. "Apiku tinggal empat, kudekap erat-erat~"

"Lagipula, aku hanya punya empat bola api ini sedari lahir. Bola api putih itu adalah bagian dari jantung artifisial buatan keluargaku,"katanya. "Mereka berharap sekali aku akan menemukan seseorang yang aku sukai...bukan. Aku sayangi. Seseorang untuk dilindungi. Orang yang melindungiku. Tapi...Itu harapan yang utopis sekali. Iya kan, Arne?"

Arne hanya terdiam. Ia tidak menyangka kalau Rowena berpikir demikian.

"Yah kendati demikian, aku harus tetap bersyukur. Bukankah begitu, tuan inventor?"

Arne bersumpah bahwa ia melihat mata keemasan Rowena menggenang.

Air matanya meleleh,

Jatuh ke atas rerumputan dan alang-alang yang tertiup angin.

Selasa, 06 Desember 2016

"You're Pretty"

Said my grandpa when I told him about my friend being racist to me at school.

Said my grandma when I first using glasses.

Said a nurse over radiology department when I checked my lungs.

Said sensei-sama when he's encouraging me to have a 10km+ longmarch.

Said a policeman when asking for my driving license.

Said a librarian when I borrowed a book.

Said an old lady when I bought food for my brother.

Said a 4 years old little girl who often following me around...

Said a hairdresser when she's asking why I cut my hair 'that way'.

But you know what, folks?

Just being pretty...
Kind...
Intelligent...
(^those are what people who know me think about me. Not myself ^^;;)

Just being myself in general.

It's not helping me at all.

In the end...

I always be the one...

Who get hurt the most :')

I'm done already with 'that' kind of hope.

I think...it's a kind of dream that will never happened to me.

Besides...I don't deserve 'it' anyway.

Right?

Kamis, 01 Desember 2016

Buatmu yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi

Buatmu yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi~

Hai!

Jumpa lagi dengan Sinta Alexandria.

Di postingan kali ini, Sinta mau bagi tips dan trik supaya temen-temen lolos seleksi SNMPTN atau ujian masuk Sekolah Tinggi dan lainnya :D

Sinta urutkan dari SNMPTN ya ^^

Kalo dulu pas SMA Sinta dapet pengarahan dan informasi dari sekolah (dan lembaga lain) kalau nilai kita dari semester 1 sampai semester 5 harus ada kenaikan walau sedikit...

Prestasi temen2 seangkatan bahkan ikut jadi penentu.
Begitu pula jumlah alumni SMA/SMK/MA kalian di universitas yang hendak dituju.

Begitu pula dengan nilai ujian Nasional dan UAS-nya harus oke sehingga presentasenya memuaskan...

Setidaknya itu yang Sinta tahu selama sekolah dulu ^^;;

Seleksi masuk akademi/sekolah tinggi/politeknik

Jjaang~~

1. Tes Kompetensi Dasar

Berisi serangkaian tes mulai dari wawasan kebanhsaan, tes intelegensia umum, dan tes apa kerja gtu lupa Hahaha xD

Tes ini diadakan oleh Kemenpan-RB...

Ada passing gradenya lho...
Untung waktu itu Sinta jurusan IPS jadi lancar pas ngerjain soal2 tes wawasan kebangsaannya. Untuk latihan, kalian bisa cari di internet ^^ ada banyaaak bgt soal buat latihan

Oke bgt kalo kamu suka baca buku apapun genre bukunya.

2. Tes Potensi Akademik

Berisi serentetan soal matematika dasar, bahasa, dan psikologi (yang dikerjakan seharian penuh dengan break 2x untuk ishoma). 
Sama soal2 logika juga. Asyik kok :p

3. Tes kesehatan

Yang ini engga perlu belajar sih...saran Sinta...Monggo di Googling apa-apa saja yang akan diteskan :'')

Sama, dengarkan instruksi baik-baik yaa...
Tes kesehatannya dilakukan oleh panitia jadi kalian ga usah tes sendiri T___T #sedih

4. Tes kesamaptaan!

Terdiri atas samapta a (lari 2.4 km dalam waktu 12 menit)

Dan samapta B (push up, sit up, chinning buat cewe dan pull up buat cowo sma shuttle run aka lari angka delapan. Larinya dari kanan ke kiri yah kalo engga kalian disuruh ngulang lol. Pokoknya dengerin instruksi baik2)

5.. Wawancara Mental Ideologi
Pas akhir TPA kalian bakal diminta untuk ngisi pertanyaan MI tertulis dan disini kalian akan diuji lagi~
Pertanyaannya mencakup pertanyaan secara personal dan pengetahuan umum serta lainnya. Pokoknya kalo kalian anak IPS dan menyimak pelajaran kalian dengan baik, kalian pasti akan bersyukur saat wawancara MI.

Siap2 aja karena pewawancara biasanya minta kamu untuk bercerita berdasar bahasa asing yang kalian kuasai. Pokoknya ga ketebak wkwkwk :v

6. Pantukhir

7. Diterima 😆😆😆 Alhamdulillah...yay!

Bersyukur kepada Allah. Berterima kasih kepada orang tua terutama Ibu yang selalu menyisipkan doa-nya untuk kalian di setiap sepertiga malam.

Berterima kasih untuk teman-teman yang selalu mendukungmu hingga akhirnya kamu diterima.

Ini adalah tanggung jawab yang diberikan oleh Allah. Maka kerjakan dengan baik, sungguh-sungguh dan bertanggung-jawab.

Berikan yang terbaik untuk Indonesia 😊

Minggu, 27 November 2016

Selamat hari guru nasional!



#latepost

Sewaktu sekolah dulu, sekolah kami memiliki tradisi dimana para murid akan memberikan bunga dan juga kue atau cokelat untuk wali kelas dan guru yang telah menginspirasi kami semua.

Biasanya, ketua kelas akan membagi tugas...(membeli bunga, menulis surat/puisi, kue/cokelat, mendekorasi kelas sebagai kejutan untuk Bapak/Ibu Guru).

Pagi-pagi sekali, beberapa murid akan mengunjungi Pasar Kembang lalu memilih bunga segar apa yang hendak diberikan.

Aah...pokoknya seru >///<

Bagi Sinta, para pengajar merupakan barisan terdepan yang berjasa untuk memajukan suatu bangsa. 

Mengapa demikian? Beliau-beliau dengan profesi mulia ini memegang peranan kunci: tanpa adanya nilai dan norma yang diajarkan dan juga ilmu yang diwariskan dari para pengajar tersebut kepada generasi penerus, kita semua tentunya tidak dapat meraih apa yang sekarang kita peroleh.

Kerja keras dan juga doa nyatanya juga didukung oleh warisan ilmu yang diberikan oleh para guru. Ada begitu banyak hal berharga yang telah diwariskan kepada kita semua.

Terima kasih banyak kepada Bapak-Ibu Guru yang telah mendidik Sinta selama ini dan juga mengajarkan nilai-nilai kebenaran, semangat untuk maju, pentingnya kejujuran dan sikap kesatria kepada Sinta dan teman-teman semua :D

Ibu...Bapak...
Terima kasih banyak atas segalanya :’)
Sinta berdoa supaya seluruh kebaikan Ibu dan Bapak berbalas kebaikan-kebaikan dan juga rezeki halal yang berlimpah ruah...aamiin yaa rabbal alamiin :D

Selasa, 15 November 2016

Sasmitha dan Alunan Kidung Bulan



Fiksi one-shot ini didedikasikan untuk sahabat saya yang berulang tahun pada 4 November ini, Mitha \(^o^)/
Disclaimer: Naruto dan seluruh karakter yang ada di dalamnya adalah milik Masashi Kishimoto. Disini, author hanya punya OC (original character) dan jalan cerita saja.
Lagu Lir-ilir adalah milik Sunan Kalijaga
Pairing: OC (Sasmitha) x Otsutsuki Toneri
Genre: Romance
A/N: Semoga Mitha suka yaa sama fanfiksi buatan saya~
 

Malam itu, entah sudah keberapa kalinya, Sasmitha memandangi bulan keperakan yang bersinar dengan indah di langit malam. Bagi gadis itu, menatap bulan adalah rutinitas yang tidak boleh ia lewatkan setiap harinya.
“Hanya dengan memandanginya, hatiku menjadi tenang dan segala penat yang ada dalam pikiran pun mereda”, kata gadis itu setiap kali sahabat dan teman-temannya bertanya mengapa ia begitu menyukai bulan.
Bulan yang tengah ia pandangi kala itu tiba-tiba berpendar. Gadis itu lalu mengusap kedua matanya. Mata hitamnya menatap serius. Aku tidak mungkin salah lihat, pikirnya.
Ia lalu mengerling ke arah meja belajarnya. Jam meja menyala-dalam-gelap miliknya menunjukkan pukul 23.00.
Gadis itu lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Tanpa ia ketahui, sesosok bayangan menyeruak masuk dari jendela kamar yang ia biarkan terbuka. Sosok itu menaruh sesuatu di ambang jendela.
Sasmitha pun kembali ke kamarnya.
“Eeh? Apa?”
Ia menemukan sebuah wayang golek yang berdiri manis di ambang jendelanya. Ia tidak begitu awam dengan karakter pada wayang golek, tapi dari pakaian yang dipakai, ia pasti tokoh putri raja atau bidadari.
“Oh, mbak Sasmitha sudah selesai?”tanya sebuah suara merdu.
Sasmitha kaget sekali. WAYANG GOLEKNYA BISA BICARA.
Sasmitha memandang wayang itu sesaat. Nampaknya ia tidak jahat. Ia lalu menjawab sopan, “Um...iya...begitulah...maaf sebelumnya...siapa namamu?”
Wayang itu berdiri anggun lalu berkata, “Aku Sitaresmi. Senang sekali rasanya bisa kembali ke Bumi. Aku ditugaskan oleh Pangeran Bulan untuk menjemputmu”
Gadis itu menelengkan kepalanya.
“Tapi...hari sudah malam...”
            Kepala kayu wayang itu menggeleng. “Tapi pangeran benar-benar ingin bertemu denganmu. Karena...dia tahu...dua jam lagi usiamu bertambah”
            Sasmitha takjub mendengarnya. “Bagaimana ia bisa tahu?”
            “Oh, Pangeran tahu banyak hal,”tawa Sitaresmi. “Dan seperti halnya dirimu, ia suka sekali memandangi Bumi di saat yang sama denganmu. Ayo, Sasmitha...kita harus bergegas”
            “Ah...oke...tapi beri aku waktu lima menit saja untuk berganti pakaian”
            “Baiklah,”kata Sitaresmi ceria.
            Usai berganti pakaian (dan juga berdandan), Sitaresmi lalu menuntun Sasmitha menuju ke hutan yang ada di dekat perkampungan Sasmitha. Entah ia salah lihat atau bagaimana, berkali-kali Sasmitha melihat Sitaresmi mengumpulkan cahaya bulan yang selanjutnya ia gunakan untuk menerangi jalan.
            “Sitaresmi...bisa memanipulasi cahaya?”
            “Semua boneka yang dikendalikan Pangeran bisa melakukannya,”katanya bangga. “Ah, kita hampir sampai...”
            Sasmitha dan Sitaresmi tiba di lapangan terbuka yang ada di tengah-tengah hutan. Dan tepat di tengahnya, berdiri sebuah pohon tua yang menjulang tinggi.
            “Kita harus menyanyikan lagu daerah tentang bulan...”
            “Apa?”
            “Begitu cara mainnya...para tetua yang mengatur hal ini. Sasmitha tahu, kan?”
            “Tentu saja”
            Sasmitha menarik napas dan mulai menyanyi:
            Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.
Dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir,
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore,
Mumpung padhang rembulane mumpung gedhe kalangane.
Yo surako...surak iyo...
            Begitu Sasmitha selesai menyanyi, sulur-sulur yang menutupi celah yang ada di pohon itu mulai membuka. Batang kayunya berbunyi krek pelan begitu Sitaresmi meniupkan bola cahaya terakhir yang ia miliki.
            “Ayo masuk, Sasmitha...”
            “Baiklah...”
            Dan...pemandangan yang luar biasa pun menyambut Sasmitha.
            “Wah...”
            Sebuah istana megah berdiri menjulang di hadapannya. Beberapa boneka bahkan menyambut kedatangannya.
            “Selamat datang di Bulan, Sasmitha-sama. Toneri-sama sudah menunggu anda”
            Sasmitha merasa gugup. Sesekali ia mengerling ke arah Sitaresmi, yang terus menerus menyemangatinya. Langkah kaki mereka menggema di ruangan. Ia tahu kalau Toneri tinggal bersama dengan boneka-bonekanya di istana ini. Rasanya pasti sepi sekali.
“Selamat datang, Sasmitha...atau..bagaimana kalau aku panggil Mitha saja?”sambut sebuah suara yang menenangkan.
            Pemuda itu memiliki rambut putih yang amat indah. Mata byakugan-nya menyorot dengan ramah. Seketika, Sasmitha menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Adek ga kuat, bang, pikirnya panik. Manis banget!
            “Mitha pasti bertanya-tanya...apa yang membuatku datang mengundangmu kesini,”Toneri bertutur setelah ia mempersilahkan tamunya duduk.
            “Pertama, sebagai ucapan terima kasihku karena telah menyelamatkan Sitaresmi, dua tahun yang lalu”
            “Eeh...Sitaresmi?”
            Ia mengangguk ceria. “Waktu itu aku hendak pulang ke istana Pangeran, tapi entah mengapa energinya tiba-tiba habis...aku pun terjatuh ke kubangan air di tepi jalan menuju ke hutan dekat rumah Sasmitha...lalu kamu memungutku dan membersihkanku...begitu tubuhku disinari kembali oleh cahaya bulan, aku pun dapat kembali ke rumah. Aah...terima kasih banyak pokoknya!”
            Toneri tersenyum. “Sitaresmi adalah wayang golek pemberian leluhurmu, ratusan tahun silam, Mitha. Klanku dan juga bangsamu saling bekerja sama dalam beragam hal. Kami memulai kerjasama ini semenjak zaman Majapahit, lama berselang. Sitaresmi-lah yang bertugas sebagai duta bangsamu untuk klanku”
            “Lalu yang kedua, karena kesukaanmu dalam memandangi bulan di waktu malam hari”
            “Eh? Bagaimana Toneri bisa tahu?”
            “Aku tahu begitu saja, Mitha...”katanya. “Seolah-olah selama ini, kita berdua saling berkomunikasi satu sama lain...dengan hati kita”
Byakugan Toneri dan mata hitam kelam Sasmitha bertemu. Seketika Sasmitha menundukkan pandangannya.
            “K-Kupikir juga demikian, Toneri. Kau tahu, aku selalu merasa tenang dan damai ketika memandangi indahnya bulan di langit pada malam hari. Dan...aku selalu mendengar lantunan musik misterius nan indah-yang seolah-olah berasal dari tempat yang sangat jauh...”katanya malu-malu.
            “Oh...kau menyukainya? Syukurlah...”
            “Itu karena...aku memaninkannya untukmu”
            Bluuush...
            Lagi, Sasmitha merona.
            “Apakah kamu menyukainya?”
            Ia mengangguk. Sangat, pikirnya.
            Toneri lalu menepukkan tangannya dan sekumpulan boneka pun mulai memainkan lagu yang mereka bicarakan.
“Mari berdansa denganku,”kata Toneri seraya mengulurkan tangannya. Dengan malu-malu, Sasmitha pun menyambutnya.
Mereka berdansa mengitari ballroom itu. Sitaresmi dan boneka-boneka lainnya pun mengikuti keduanya.
“Selamat ulang tahun, hime,”kata Toneri. “Aku telah menyiapkan sesuatu untukmu”
Begitu alunan musiknya selesai, Toneri membuka kotak perhiasan yang dibawa oleh Sitaresmi dan temannya.
Kotak itu berisikan kalung bertahtakan moonstone yang sangat indah.
“Kemari, akan aku pakaikan...lihat, kalungnya cocok sekali denganmu”
“Terima kasih banyak, Bang Toneri”
“Eh? Bang?”
“Aa..t-tidak...maafkan aku...”
“Pintu istana akan selalu terbuka untukmu, Mitha. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu disini,”ujar Toneri. Ada kerinduan dalam sorot matanya.
Sasmitha tersenyum, lalu mengangguk. “Tentu saja. Aku akan mengunjungimu selalu”
Sasmitha pun berpamitan, dan Toneri sendiri yang mengantarkannya sampai ke pohon yang ada di tengah hutan itu.
Sasmitha belum pernah merasakan hal ini seumur hidupnya: jantungnya terus dan terus berdegup dengan kencang.
“Apakah aku...s-suka padanya?”
Wajahnya merona lagi. Ia lalu menggelengkan kepalanya keras-keras untuk megusir pikiran itu.
Dan semenjak hari itu, Sasmitha kerap mengunjungi Toneri. Ia hadir dan mewarnai hari-hari sang Pangeran dan melepaskannya dari takdir kelam keluarga cabang Klan Otsutsuki.
OMAKE
Toneri Otsutsuki terus memandangi Bumi dengan kerinduan yang tersirat dalam byakugannya. Sang putri majapahit telah mencuri hatinya.
Mana dia tahu, kalau separuh hatinya dilahirkan milenium setelah ia dilahirkan?
Sitaresmi asyik berbisik dengan boneka lainnya.
“Nampaknya Pangeran telah...jatuh...hati pada Sasmitha”
“Kau benar, Sita! Setidaknya kini akan ada Sasmitha-sama di sisinya. Kau tahu, dia jadi lebih ceria semenjak gadis itu pertama kali datang kesini”
“Sita telah melakukan kerja yang bagus!”
“Itu karena aku tidak tega pada Pangeran...”
“Kira-kira...kapan ya, Toneri-sama melamar Sasmitha-sama?”
“Wah, entahlah...tapi aku harap sih, secepatnya!”
Toneri yang selama ini mendengar dengan jelas percakapan boneka-boneka itu, mulai merona merah.
“Aah...apa sih yang kalian bicarakan? Aku baru saja bertemu dengannya selama seminggu ini! Dia pasti akan ketakutan bila tiba-tiba aku melamarnya...lagipula...setelah pernikahanku yang batal dulu itu...”
“Tenanglah, Tuan...semua akan baik-baik saja! Kami lihat kok, kalau Sasmitha-sama juga menyukai Tuan!”
Toneri tersenyum. Wajah eloknya penuh akan kasih. “Aku tahu”
“Kalau begitu, tidak ada yang perlu Tuan khawatirkan. Segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan sangat baik,”kata Sitaresmi memberi semangat.
Sitaresmi memandang Bumi. Dari atas sini, ia bisa melihat kepulauan Indonesia: rumahnya dan juga rumah Sasmitha.
“Kakek, Sasmitha baik-baik saja. Ia tumbuh menjadi gadis yang baik hati, cerdas, dan pemberani. Aku telah melakukan permintaan terakhirmu, Kek...yakni untuk memperkenalkan cucu keturunanmu, seorang gadis bernama Sasmitha, dengan Pangeran Toneri. Karena anda tahu, mereka berdua saling terikat dengan benang merah takdir yang tidak terlihat”

PKM-Penelitian Tim KMB!

Assalamualaikum...SELAMAT PAGI PARA PENERUS BANGSA INDONESIA YANG KECE DAN HEBAT LUAR BIASA! :D (Oke, aku terlalu bersemangat)

Kembali lagi bersama author kesayangan kalian semua...eng ing eng~ Sinta Alexandria! (applause)

Kali ini Sinta bakal nyeritain suka dukanya anak-anak KMB dalam menyusun proposal yang akan diajukan untuk PKM 2017 mendatang.

Di suatu pagi yang dingin di kampus FISIP tercinta, Sinta celingukan kekanan dan kekiri: mengamati situasi. Teman-temannya nampak asyik bersenda gurau sembari sesekali berswafoto ria atau update status di sosial media mereka.

Sinta?

Boro-boro.

Sedari tadi dia duduk dengan gelisah karena instingnya bilang kalau bakal ada UTS Komunikasi Organisasi hari ini.

(Sebagai catatan, jadwal UTS dan UAS di kampus Sinta & Co. tidak beraturan. Biasanya sih setiap 8x atau 16x pertemuan).

Jadi dia duduk sembari menghapal catatan dan mengayun-ayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang: kebiasaan buruk yang kerap ia lakukan apabila ia sedang gugup.

Pak dosen lalu tiba di kelas. Teman-teman segera mengisi bangku kuliah paling depan.

Kan bener!

Pikir Sinta, saat beliau mulai membagikan kertas.

"Eeh...lho?"

Dalam kertas itu tertulis bahwa nilai UTS untuk mata kuliah tersebut diambil dari proposal PKM. Masing-masing judul maksimal terdiri atas lima anggota.

Sontak anak-anak sekelas langsung celingukan nyari partner xD

Sinta langsung mengerling ke arah sohibnya, Rahadian, yang duduk di seberangnya.

Pemuda itu memberi gerakan tangan oke ala-ala Pak Bondan yang memuji masakan yang beliau cicipi.

"Autowisuda,"katanya sembari berbinar ceria.

"Mantap jiwa!"balasku sambil mengacungkan jempol ala Might Guy dari serial Naruto.

Tak lama sesudahnya, Ayu, Aulia, dan Dika turut bergabung.

Yosh! Ini dia Tim KMB mini xD

Pak dosen menganjurkan kelas kami untuk mengambil PKM Penelitian. Rahadian punya ide untuk membuat penelitian mengenai efek tayangan anime, yang mana bahannya dia ambil dari papernya sewaktu semester 3 dahulu xD lmao

Dan...dimulailah perjalanan kami yang penuh liku ini...jeng jeng jeng!

"Sinta, itu lambang-nya salah!"
"Eeh? Lagian lambang kampus kita ada empat sendiri da...mana gue tau dipake yang mana. Orang empat-empatnya dipake"kata Sinta.

"Mbak, ini tanda tangan pengesahannya harus sehalaman"

"Mba, kamu harus ke mawa pusat dulu"

Aulia dan Ayu bertukar pandang lelah. Ini sudah kali ketiga mereka dioper sana-sini.

"Pak, saya izin ke ruang dekanat sekarang boleh, kah? Urgent..."kata Dika kepada bapak yang bertugas sebagai admin dekanat kampus.

"Hosh...hosh..."

"Kalian kok megap-megap? Habis darimana emangnya, dek?"tanya pak dosen sembari menatap iba pada Sinta dan Ayu.

"Habis...dari...mawa pusat, Pak...terus dapat info kalau bapak sedang...ada di kampus...kami...boleh minta tanda tangan bapak?"

Bolak-balik mawa FISIP, mawa Univ, ruang dekanat, ruang adminisrasi dekanat, fotokopian, dan nugas bareng di rumah Aulia (habis gitu dikasih makanan banyak banget lagi :'D)

Aaah...bener-bener padet dan melelahkan...

Dari yang nangis, berantem, diem-dieman...keujanan...ketawa...semua emosi campur jadi satu...

Dan tadi kami baru saja berhasil mengunggah proposal penelitian kami :'D

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Doakan semoga kami berhasil ya kawan-kawan :D

Kalau jodoh, sampai bertemu di Makassar :D Aamiin yaa Rabbal alamiin :D


Jumat, 01 Juli 2016

Selamat ulang tahun, Kakek :D




Kakek, selamat ulang tahun yang ke-78 :")

Sembilan bulan telah berlalu semenjak kepergian kakek-tapi rasanya waktu itu berlalu amat lama.
Ingatan akan kakek selalu hadir dalam pikiran.

Masih ingat dengan firasat yang dirasakan sembilan bulan lalu, saat tingkat kesehatan kakek mulai menurun...

Dan beberapa jam sebelum kakek berpulang menghadap Allah, seakan sesuatu memberi tahu Sinta untuk tidak mengikuti perkuliahan hari itu-untuk menemani kakek pada menit-menitnya...

Air mata terus dan terus mengalir dari kedua onyx ini sementara tangan bergerak cekatan mengirimkan e-mail berisikan tugas paper mengenai hukum penggunaan kijing dalam Islam dan korelasinya dengan perda di Kota Solo kepada seorang sahabat...

Dan tak lama kemudian, Sinta menerima telepon dari nenek-bilang kalau kakek sudah berpulang.

Sesampainya disana, Sinta menemui nenek yang tengah kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dan juga jasad kakek yang seakan tengah tertidur lelap.

Kakek masih hangat sewaktu Sinta tiba disana-seakan kakek tengah tertidur nyenyak pagi itu.

Sinta yang tengah terjaga dini hari tadi, seketika teringat akan kakek...

Bulan ramadan tahun ini tanpa kakek-rasanya sepi sekali...

Biasanya kakek bangun pukul setengah tiga pagi, membangunkan seluruh penghuni rumah dengan cerianya "Dinosaur! Dinosaur!"
(Dino sahur (jawa)-(literally) sahur in Bahasa Indonesia)

Dengan bunyi tongkatnya yang sengaja dihentakkan ke lantai sehingga menimbulkan kesan berisik-sehingga seisi rumah pun terbangun dan bergegas mempersiapkan hidangan untuk sahur.

Kakek,
Air mata ini tidak pernah berhenti mengalir semenjak kepergianmu-bukan karena kami tidak rela karena kakek pergi begitu cepat-hanya...karena kami belum sempat membuat kakek bangga memiliki kami dan menjadi saksi atas pencapaian-pencapaian kami...dan kami merasa kalau kami memiliki waktu yang terlalu sedikit untuk bisa dihabiskan bersama kakek.

Kadang, kalau tak ada yang melihat...

Sinta kerap kali duduk menyendiri di kamar kakek, menceritakan hal-hal yang biasa ingin kakek dengar dari Sinta: berharap kalau kakek dapat mendengar mengenai kisah harian Sinta. Yang walau pada akhirnya Sinta akan kembali menangis dan membasuh wajah untuk menutupi jejak air mata.

Kakek, Sinta rindu sekali...

Sinta suka sekali bercerita dengan kakek-walaupun Sinta harus bercerita agak keras supaya kakek bisa mendengarnya
Dan kakek juga suka mendengar cerita-cerita Sinta. Kadang bertutur pula mengenai pewayangan, kisah-kisah perjuangan-dan hal menarik lainnya.

Kini, tak ada lagi telepon masuk dari kakek saat Sinta sedang ada kelas di Kampus-menanyakan kapan Sinta akan datang berkunjung.

Kini tak ada lagi jabat erat yang tidak merelakan kepulangan Sinta ke rumah.

Tidak ada lagi kisah-kisah seru tentang petualangan kakek dan tauladan dari tokoh-tokoh pewayangan...

Tak ada lagi kidung-kidung jawa dan belanda yang suka kakek lantunkan...

Kakek, diulang tahun kakek yang ke-78 ini,
Sinta hanya bisa menghadiahkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan juga doa-doa kebaikan untuk kakek.

Wilujeng ambal warsa, Eyangkung.
Eyangkung beristirahat yang tenang, ya...
Semoga kita semua disatukan kembali kelak, di jannah-Nya Allah yang telah dijanjikan.

Aamiin yaa Rabbal Alamiin...

Peluk rindu untuk kakek tersayang,

Almarhum B. Djuhana

Dari cucu pertamanya,

Sinta Alexandria N.

Minggu, 26 Juni 2016

Permintaan Terakhir Nenek

Dari Nenek,

Untuk cucu-cucunya, sepuluh-hingga dua puluh tahun yang akan datang.

Sore itu, dia menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah lama yang terletak di jantung kota.

Rumah dimana dia disayangi dan tumbuh besar.

Sebuah pohon tua menaungi halaman depannya, telah berdiri disana sedari masa kerajaan, ratusan tahun yang lalu.

Pohon yang sengaja ditanam sebagai simbol dari suatu pesan rahasia-dipakai oleh para pejuang pada masa perang nan kelam.

Nenek itu membuka pintu rumahnya. Matahari kecilnya tengah berdiri di depan pintunya-lengkap dengan bungkus makanan super besar di tangan.

Katanya, anak itu hendak buka puasa bersama dengan neneknya.

Dan seketika, nenek itu menangis.

Kata beliau, semenjak kematian kakek, nenek selalu merasa kesepian.

Beliau sering sekali kesulitan untuk tidur di malam hari.

Karena insomnianya itu, segala hal-hal kelam yang pernah beliau alami di masa lalu pun menghantuinya.

Si Matahari kecil menenangkan neneknya. Karena bahaya sekali, kan...kesedihan dapat menurunkan tingkat kesehatan beliau dan bahkan bisa menimbulkan depresi.

Matahari membawa makanan-makanan lezat kesukaan neneknya.

Si manis yang hangat dan ceria telah menentramkan hati tua neneknya.

"Nak, jika telah tiba masanya nanti, nenek pergi meninggalkan dunia...ada satu hal yang nenek minta. Tolong sedekahkan al-fatihah setiap selesai shalat, untuk nenek dan kakek"

Mendengarnya, air mata si matahari mulai meleleh dari kedua mata cokelatnya.

Selama ini, nenek selalu kesepian.
Dan sibuknya rutinitas membuatnya hanya mampu mengunjungi nenek seminggu atau dua minggu sekali.

Jadi dia menangis seraya memeluk neneknya dan meminta maaf karena salahnya-lah hingga beliau kesepian seperti ini.

Karena sebetulnya, kesibukan dan rutinitas harian bukanlah alasan untuk tidak mengunjungi beliau.

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design