Fiksi
one-shot ini didedikasikan untuk
sahabat saya yang berulang tahun pada 4 November ini, Mitha \(^o^)/
Disclaimer: Naruto dan seluruh karakter yang ada di
dalamnya adalah milik Masashi Kishimoto. Disini, author hanya punya OC (original
character) dan jalan cerita saja.
Lagu
Lir-ilir adalah milik Sunan Kalijaga
Pairing:
OC (Sasmitha) x Otsutsuki Toneri
Genre: Romance
A/N:
Semoga Mitha suka yaa sama fanfiksi buatan saya~
Malam itu, entah sudah
keberapa kalinya, Sasmitha memandangi bulan keperakan yang bersinar dengan
indah di langit malam. Bagi gadis itu, menatap bulan adalah rutinitas yang
tidak boleh ia lewatkan setiap harinya.
“Hanya
dengan memandanginya, hatiku menjadi tenang dan segala penat yang ada dalam
pikiran pun mereda”, kata gadis itu setiap kali sahabat dan teman-temannya
bertanya mengapa ia begitu menyukai bulan.
Bulan
yang tengah ia pandangi kala itu tiba-tiba berpendar. Gadis itu lalu mengusap
kedua matanya. Mata hitamnya menatap serius. Aku tidak mungkin salah lihat, pikirnya.
Ia
lalu mengerling ke arah meja belajarnya. Jam meja menyala-dalam-gelap miliknya
menunjukkan pukul 23.00.
Gadis
itu lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Tanpa
ia ketahui, sesosok bayangan menyeruak masuk dari jendela kamar yang ia biarkan
terbuka. Sosok itu menaruh sesuatu di ambang jendela.
Sasmitha
pun kembali ke kamarnya.
“Eeh?
Apa?”
Ia
menemukan sebuah wayang golek yang berdiri manis di ambang jendelanya. Ia tidak
begitu awam dengan karakter pada wayang golek, tapi dari pakaian yang dipakai,
ia pasti tokoh putri raja atau bidadari.
“Oh,
mbak Sasmitha sudah selesai?”tanya sebuah suara merdu.
Sasmitha
kaget sekali. WAYANG GOLEKNYA BISA BICARA.
Sasmitha
memandang wayang itu sesaat. Nampaknya ia tidak jahat. Ia lalu menjawab sopan,
“Um...iya...begitulah...maaf sebelumnya...siapa namamu?”
Wayang
itu berdiri anggun lalu berkata, “Aku Sitaresmi. Senang sekali rasanya bisa
kembali ke Bumi. Aku ditugaskan oleh Pangeran Bulan untuk menjemputmu”
Gadis
itu menelengkan kepalanya.
“Tapi...hari
sudah malam...”
Kepala kayu wayang itu menggeleng.
“Tapi pangeran benar-benar ingin bertemu denganmu. Karena...dia tahu...dua jam
lagi usiamu bertambah”
Sasmitha takjub mendengarnya. “Bagaimana
ia bisa tahu?”
“Oh, Pangeran tahu banyak hal,”tawa
Sitaresmi. “Dan seperti halnya dirimu, ia suka sekali memandangi Bumi di saat
yang sama denganmu. Ayo, Sasmitha...kita harus bergegas”
“Ah...oke...tapi beri aku waktu lima
menit saja untuk berganti pakaian”
“Baiklah,”kata Sitaresmi ceria.
Usai berganti pakaian (dan juga
berdandan), Sitaresmi lalu menuntun Sasmitha menuju ke hutan yang ada di dekat
perkampungan Sasmitha. Entah ia salah lihat atau bagaimana, berkali-kali
Sasmitha melihat Sitaresmi mengumpulkan cahaya bulan yang selanjutnya ia
gunakan untuk menerangi jalan.
“Sitaresmi...bisa memanipulasi
cahaya?”
“Semua boneka yang dikendalikan
Pangeran bisa melakukannya,”katanya bangga. “Ah, kita hampir sampai...”
Sasmitha dan Sitaresmi tiba di
lapangan terbuka yang ada di tengah-tengah hutan. Dan tepat di tengahnya,
berdiri sebuah pohon tua yang menjulang tinggi.
“Kita harus menyanyikan lagu daerah
tentang bulan...”
“Apa?”
“Begitu cara mainnya...para tetua
yang mengatur hal ini. Sasmitha tahu, kan?”
“Tentu saja”
Sasmitha menarik napas dan mulai
menyanyi:
“Lir-ilir,
lir-ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak
senggo temanten anyar.
Cah angon, cah angon,
penekno blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekno kanggo
mbasuh dodotiro.
Dodotiro, kumitir bedhah
ing pinggir,
Dondomono jlumatono kanggo
sebo mengko sore,
Mumpung padhang rembulane
mumpung gedhe kalangane.
Yo surako...surak iyo...”
Begitu Sasmitha selesai menyanyi,
sulur-sulur yang menutupi celah yang ada di pohon itu mulai membuka. Batang
kayunya berbunyi krek pelan begitu Sitaresmi meniupkan bola cahaya terakhir
yang ia miliki.
“Ayo masuk, Sasmitha...”
“Baiklah...”
Dan...pemandangan yang luar biasa
pun menyambut Sasmitha.
“Wah...”
Sebuah istana megah berdiri menjulang
di hadapannya. Beberapa boneka bahkan menyambut kedatangannya.
“Selamat datang di Bulan,
Sasmitha-sama. Toneri-sama sudah menunggu anda”
Sasmitha merasa gugup. Sesekali ia
mengerling ke arah Sitaresmi, yang terus menerus menyemangatinya. Langkah kaki
mereka menggema di ruangan. Ia tahu kalau Toneri tinggal bersama dengan
boneka-bonekanya di istana ini. Rasanya pasti sepi sekali.
“Selamat
datang, Sasmitha...atau..bagaimana kalau aku panggil Mitha saja?”sambut sebuah
suara yang menenangkan.
Pemuda itu memiliki rambut putih
yang amat indah. Mata byakugan-nya
menyorot dengan ramah. Seketika, Sasmitha menundukkan pandangannya untuk
menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Adek
ga kuat, bang, pikirnya panik. Manis
banget!
“Mitha pasti bertanya-tanya...apa
yang membuatku datang mengundangmu kesini,”Toneri bertutur setelah ia
mempersilahkan tamunya duduk.
“Pertama, sebagai ucapan terima
kasihku karena telah menyelamatkan Sitaresmi, dua tahun yang lalu”
“Eeh...Sitaresmi?”
Ia mengangguk ceria. “Waktu itu aku
hendak pulang ke istana Pangeran, tapi entah mengapa energinya tiba-tiba
habis...aku pun terjatuh ke kubangan air di tepi jalan menuju ke hutan dekat
rumah Sasmitha...lalu kamu memungutku dan membersihkanku...begitu tubuhku
disinari kembali oleh cahaya bulan, aku pun dapat kembali ke rumah.
Aah...terima kasih banyak pokoknya!”
Toneri tersenyum. “Sitaresmi adalah
wayang golek pemberian leluhurmu, ratusan tahun silam, Mitha. Klanku dan juga
bangsamu saling bekerja sama dalam beragam hal. Kami memulai kerjasama ini semenjak
zaman Majapahit, lama berselang. Sitaresmi-lah yang bertugas sebagai duta
bangsamu untuk klanku”
“Lalu yang kedua, karena kesukaanmu
dalam memandangi bulan di waktu malam hari”
“Eh? Bagaimana Toneri bisa tahu?”
“Aku tahu begitu saja, Mitha...”katanya.
“Seolah-olah selama ini, kita berdua saling berkomunikasi satu sama
lain...dengan hati kita”
Byakugan Toneri
dan mata hitam kelam Sasmitha bertemu. Seketika Sasmitha menundukkan
pandangannya.
“K-Kupikir juga demikian, Toneri.
Kau tahu, aku selalu merasa tenang dan damai ketika memandangi indahnya bulan
di langit pada malam hari. Dan...aku selalu mendengar lantunan musik misterius
nan indah-yang seolah-olah berasal dari tempat yang sangat jauh...”katanya
malu-malu.
“Oh...kau menyukainya? Syukurlah...”
“Itu karena...aku memaninkannya
untukmu”
Bluuush...
Lagi,
Sasmitha merona.
“Apakah kamu menyukainya?”
Ia mengangguk. Sangat, pikirnya.
Toneri lalu menepukkan tangannya dan
sekumpulan boneka pun mulai memainkan lagu yang mereka bicarakan.
“Mari
berdansa denganku,”kata Toneri seraya mengulurkan tangannya. Dengan malu-malu,
Sasmitha pun menyambutnya.
Mereka
berdansa mengitari ballroom itu.
Sitaresmi dan boneka-boneka lainnya pun mengikuti keduanya.
“Selamat
ulang tahun, hime,”kata Toneri. “Aku
telah menyiapkan sesuatu untukmu”
Begitu
alunan musiknya selesai, Toneri membuka kotak perhiasan yang dibawa oleh
Sitaresmi dan temannya.
Kotak
itu berisikan kalung bertahtakan moonstone yang sangat indah.
“Kemari,
akan aku pakaikan...lihat, kalungnya cocok sekali denganmu”
“Terima
kasih banyak, Bang Toneri”
“Eh?
Bang?”
“Aa..t-tidak...maafkan
aku...”
“Pintu
istana akan selalu terbuka untukmu, Mitha. Aku akan selalu menunggu
kedatanganmu disini,”ujar Toneri. Ada kerinduan dalam sorot matanya.
Sasmitha
tersenyum, lalu mengangguk. “Tentu saja. Aku akan mengunjungimu selalu”
Sasmitha
pun berpamitan, dan Toneri sendiri yang mengantarkannya sampai ke pohon yang
ada di tengah hutan itu.
Sasmitha
belum pernah merasakan hal ini seumur hidupnya: jantungnya terus dan terus
berdegup dengan kencang.
“Apakah
aku...s-suka padanya?”
Wajahnya
merona lagi. Ia lalu menggelengkan kepalanya keras-keras untuk megusir pikiran
itu.
Dan
semenjak hari itu, Sasmitha kerap mengunjungi Toneri. Ia hadir dan mewarnai
hari-hari sang Pangeran dan melepaskannya dari takdir kelam keluarga cabang
Klan Otsutsuki.
OMAKE
Toneri
Otsutsuki terus memandangi Bumi dengan kerinduan yang tersirat
dalam byakugannya. Sang putri majapahit telah mencuri hatinya.
Mana
dia tahu, kalau separuh hatinya dilahirkan milenium setelah ia dilahirkan?
Sitaresmi
asyik berbisik dengan boneka lainnya.
“Nampaknya
Pangeran telah...jatuh...hati pada Sasmitha”
“Kau
benar, Sita! Setidaknya kini akan ada Sasmitha-sama di sisinya. Kau tahu, dia
jadi lebih ceria semenjak gadis itu pertama kali datang kesini”
“Sita
telah melakukan kerja yang bagus!”
“Itu
karena aku tidak tega pada Pangeran...”
“Kira-kira...kapan
ya, Toneri-sama melamar Sasmitha-sama?”
“Wah,
entahlah...tapi aku harap sih, secepatnya!”
Toneri
yang selama ini mendengar dengan jelas percakapan boneka-boneka itu, mulai
merona merah.
“Aah...apa
sih yang kalian bicarakan? Aku baru saja bertemu dengannya selama seminggu ini!
Dia pasti akan ketakutan bila tiba-tiba aku melamarnya...lagipula...setelah
pernikahanku yang batal dulu itu...”
“Tenanglah,
Tuan...semua akan baik-baik saja! Kami lihat kok, kalau Sasmitha-sama juga
menyukai Tuan!”
Toneri
tersenyum. Wajah eloknya penuh akan kasih. “Aku tahu”
“Kalau
begitu, tidak ada yang perlu Tuan khawatirkan. Segala sesuatunya pasti akan
berjalan dengan sangat baik,”kata Sitaresmi memberi semangat.
Sitaresmi
memandang Bumi. Dari atas sini, ia bisa melihat kepulauan Indonesia: rumahnya
dan juga rumah Sasmitha.
“Kakek,
Sasmitha baik-baik saja. Ia tumbuh menjadi gadis yang baik hati, cerdas, dan
pemberani. Aku telah melakukan permintaan terakhirmu, Kek...yakni untuk
memperkenalkan cucu keturunanmu, seorang gadis bernama Sasmitha, dengan
Pangeran Toneri. Karena anda tahu, mereka berdua saling terikat dengan benang
merah takdir yang tidak terlihat”