Minggu, 29 November 2015

Catatan Penulis

Aku ga nyangka sama sekali kalo Julian nulis yang kayak gitu, karena kemarin aku langsung copy-paste aja tanpa baca isi pesan itu terlebih dahulu ._.

Julian emang agak aneh dari sananya, jadi harap maklum ya :p

Informasi dalam pesan itu yang kalian rasa tidak penting ga usah diambil, ya hahaha

Jumat, 27 November 2015

Titipan Bajul

Bajul nitip sesuatu buat kalian yang keren dan luar biasa, pembaca Sinta's Memories of The Past!

Oh? Siapa Bajul?

Bajul itu kependekan dari Bang Julian. Dalam Bahasa Jawa, Bajul artinya buaya. Tapi bukan berarti Julian buaya darat juga, cuma aku iseng aja manggil dia bajul. Habis dia maksa aku supaya manggil dia abang -,- (kok malah curcol).

Oke, cekidot (check this out) everyone...

Hai. 

Selamat pagi/siang/malam.

Sinta pasti pernah cerita tentang aku sama kalian semua.
Aku akuin aku emang suka usil sama dia, sama halnya dengan temannya itu, Fiona. Ga tau ya, saat pertama ngeliat dia, bawaannya pengen usil aja. Mukanya kayak anak kecil soalnya (dengan mata besar dan pipi tembemnya itu). Ditambah lagi sama sifatnya yang childish haha :p

Terima kasih sekali buat kalian yang baik dan menceriakan hari-hari Sinta. Aku cuma bisa menjaga ikatan persahabatan ini lewat sosial media saja. Semenjak lulus SMA, kami jarang bertemu. (Biasanya ketemuan bareng ama temen-temen yang lainnya).

Aku bertemu dengannya saat lomba, lama berselang. Begitu berkenalan, rasanya langsung klik seolah-olah kami pernah bertemu sebelumnya.

Buat sahabat-sahabat Sinta:

Aku tahu dia agak gila, aneh, usil, mutungan kalo diusilin berlebihan, dan lain-lain. Itulah dia. Terima kasih karena sudah menjaga dan juga membuat hari-harinya berwarna.
Dia jujur, si Sinta itu. Terlalu baik juga. Saat mau berkenalan dengannya aku sendiri sempat enggan karena wajah dinginnya itu. Butuh waktu buatnya untuk membuka diri. Kalau dia mulai ngerasa nyaman sama kamu, maka dia bakal ngebuka dirinya.
Tapi, kalau kamu pernah nyakitin dirinya dan berharap bisa balikan lagi sama dia, jangan mimpi deh karena segala sesuatunya ga akan pernah sama lagi secara instan. Dia pemaaf, hanya butuh waktu supaya dia bisa melupakan apa yang pernah kamu lakuin ke dia. 
Dia juga asyik dan bullyable (hahaha :p).
Dia bener-bener tulus kalo nolong elu pade. Dia sayang banget sama sahabat-sahabatnya, nganggep kalian semua salah satu anugerah dari Yang Kuasa.
Makanya aku pernah nasihatin dia, if you love too much, you'll hurt so much. 

Buat mereka yang naksir Sinta (opsional. Kalo ada):

Sinta berpegang teguh sama agamanya, makanya itu dia ga mau pacaran (kadang aku suka keterlaluan ngejek dia jones abadi juga sih-lebih karena sikap dinginnya pada orang tak dikenal).
Kalo aku boleh jujur, dia bego. Iya, bego. Retard. 
Dia ga bakal paham soal-soal beginian dan bakal ngabisin waktu lumayan lama di internet untuk mencari informasi mengenai hal apa yang harus dilakukan (payah, kan?). Dia bakal tanya sama temen-temen ceweknya untuk minta nasihat mereka.
Selain itu, saking retardnya dia, dia sampe ga tau apa yang harus dilakuin.
Sekali lagi kalo aku boleh bilang, sejatinya dia agak fobia sama yang namanya relationship. Dia takut setengah mati kalo ternyata dia cuma dimainin aja.
(Awas ya kalo kalian berani mainin Sinta >:-D B-) )
Si konyol itu diem-diem ternyata banyak disukain sama temen-temen di kampusku, yang juga kenal sama dia. Dunia itu sempit, deh. Ga nyangka kalo si Ice Queen ini punya banyak temen di setiap pengkolan (eh).

Kadang sampe nangis terharu begitu aku tau adek Sinta masih ada yang suka. Hahahaha.

Aku cuma bisa ngejaga dan ngawasin dia dari jauh untuk saat ini. 

Terima kasih banyak buat kalian semua yang udah mewarnai hidup Sinta dan mengajarinya banyak hal. Karena hidup dan pengalaman lah yang mengajarinya untuk lebih bijaksana lagi kedepannya.

Julian Alexander S.

Analogi Hubungan

Aku suka sama analogi ini...

Kalau kamu mecahin piring, bisa ga kamu memperbaikinya?

Tergantung sama tingkat kerusakannya sih.

Bisa diperbaiki, tapi apakah bentuk piring itu akan sama seperti sedia kala?

Tentunya tidak kan?

Bahkan kamu masih bisa melihat retakan yang ada di permukaannya.

Sama halnya dengan hubungan.

Kamu bisa memperbaikinya, tapi segala sesuatu tak akan pernah bisa sama seperti sedia kala.

Kamis, 26 November 2015

Teruntuk sahabatku

Dear sahabat,

Let's begin a whole new start.

Maafkan aku.

Jangan kira aku ga peka ya :) :p

Aku tau kok kalau kamu agak tidak suka padaku karena suatu hal dan ini sudah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Aku saja yang pura-pura tidak tahu dan menganggap segalanya berjalan seperti biasa. Tapi aku tetap mengamatimu loh. Aku berpikir apakah gerangan yang membuatmu ga suka sama aku.

Mungkin aku terlalu jujur dalam bercerita, tapi apa yang aku kisahkan adalah fakta. Bukan karangan, bukan pula realitas kedua. Bukan juga kisah orang lain. Aku sendiri yang mengalaminya.
Prinsipku, hanya penghianat yang membohongi dirinya sendiri dan orang lain :"). Itu yang mereka ajarkan padaku, agar aku menjadi ksatria yang jujur.
Janji deh aku ga akan cerita lagi. Apabila dirasa mengganggu, lupakan saja, oke? :) lagian ga penting juga :D
Aku menganggapmu sama seperti sahabat-sahabatku yang lainnya, tapi kupikir ceritaku ini sangat mengganggumu :")

Mungkin aku terlalu bodoh dalam hal mengenai relationship dan saat ada yang mendekatiku, aku langsung memberondongmu dengan lusinan chat tidak penting. Maaf sekali, sahabat. Aku benar-benar clueless dalam hal satu ini. Aku menganggapmu seperti kakakku sendiri, jadi kalau ada apa-apa aku selalu meminta pendapat dan nasihatmu :")

Atau karena aku dekat dengan orang yang kamu suka, sahabat? :(

Maafkan aku.
Kamu bisa cek di akun facebook aku kok. Temanku kebanyakan cowok. Tapi semua cowok itu juga sering nganggep aku cowok. Jadi mereka sering playfully mukul tanganku, ngejailin aku kalo tim favoritku kalah, bilang aku cowok banget-bahkan kalo main bola atau futsal bareng mereka ga akan segan-segan buat ngetackle aku :) kalau main kasti, anak-anak cowok itu juga ga segan-segan ngelempar bola kasti keras-keras ke punggungku. Tapi sekali aku terjatuh, merekalah yang pertama kali mengulurkan tangannya.
Jangan khawatir, sahabat. Lagian ga ada yang suka sama aku kok :"). Di tulisan beberapa bulan lalu aku bilang aku suka sama katingku, disini suka dalam artian respek :")
Kalau kamu mau, aku bisa ngepromisiin kamu :D hehehe (sama yang kamu suka, bukan sama katingku :p)

Sama-sama maaf ya :")
Sama-sama minta maaf dan memaafkan :)
Let's begin a whole new start, dimana aku ga akan ngelakuin hal-hal yang aku pikir tidak disukai olehmu.

Salam hangat dari sahabatmu,

Sinta Alexandria.

Rabu, 25 November 2015

"..."
Sinta sedang berpikir keras. Ia mencoba berpikir logis dan menghubungkan petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan.
"..."
Ia ingat betul nasihat Julian, "Ojo cepet katresnan karo wong liyo nduk" yang dibalasnya dengan "ora lah".
Semakin lama ia berpikir, semakin panas kepalanya.
"Yang seperti ini ga ada di buku! Aku ga paham"katanya lelah sambil nangis bombay. Kalau dia mesin, udah berasap kali ya. Hahaha xD

*flashback, beberapa hari lalu*

Julian: Inget ya, kita nunggu kamu loh.
Sinta : Aku tau.
Julian: It means no relationship, no wasting time!
Sinta : Iya iya aku tau. Oh. Hahahaha. Relationship? Itu engga mungkin, Julian. Tenang aja.
Julian : TAPI YA GA GITU JUGA KALI, SINTA -,-
Sinta : Emang ga ada kok, Julian. Makanya aku kebal kalo kamu ledekin jones -,-
Julian : ...
Sinta: Julian ada benernya kok.
Julian : .... (emotikon cemas)
Sinta : Hehehe. Tenang aja ya. Pokoknya aku bakal sesegera mungkin ketemuan sama kalian. Oh iya, aku tanya dong kalau *nyebut sesuatu*
Julian : Minta penjelasan lengkap, Ta.
Sinta : *njelasin secara gamblang*
Julian : Oh itu? Ga usah kamu pikirin, deh. Apalagi kalo udah beda jauh sama awalnya.
Sinta : Oh gitu ya? (Pasang muka ala herp)
Julian : Tau ah, itu nasehat gue. Jaga diri, jaga hati lo.
Sinta : Kayak Obito Uchiha, gue kan ga punya hati bang :v
Julian : Sintaaaaa -,-

Kontak batin (?): Saat dua hati saling bicara

Sinta sedang mengetik sesuatu di netbook hingga akhirnya gambaran mengenai kenangan masa lalu muncul: Seorang wanita dengan rambut disasak yang sedang bicara dengan dua orang anak.

"Oh, Bude bakal berkunjung beberapa hari lagi nih ke rumah. Harus siap-siap"

Terakhir kali Bude dan Pakde berkunjung ke Solo itu enam bulan yang lalu. Mama baru bilang 45 menit sebelum beliau bertiga datang. Ketiganya orang-orang sibuk.

*flashback*
"Sinta, bentar lagi kita sampe loh"kata mama saya dari ujung telepon
"Kita? Emang siapa aja ma?"
"Keponakan-keponakannya eyang kakung"
"Eeeh?"
Aku menatap ngeri pada kondisi rumah yang ibarat kapal pecah. Buru-buru aku ngambil sapu dan alat kebersihan lainnya. "Udah sampe dimana nih, Ma?"
"Manahan"
"Eeeh! Iya baik!"

Aku punya waktu 45 menit untuk bersihkan rumah seluas ini. Cucok. Kesampean kok kalo aku ngebut kerjanya.
Challenge Accepted!
"Uwaaa!"
Jadi aku nyapu sambil bersin-bersin karena debu halus yang banyak. Padahal udah pake masker. Setelah selesai, barulah menyiapkan cangkir dan menjerang teh, disambi ngepel.
Sinta selesai tepat pada waktunya begitu seseorang membunyikan klakson mobilnya.
"Aku datang!"
Langsung deh sprint ke garasi dan buka pagar besi yang beratnya naudzubillah.
'Hosh...hosh...'

"Uwaa...Mbak Sinta makin tinggi aja ya"
"Hehehe iya bude~"
"Rumahnya bersih banget! Kok Sinta menggeh-menggeh?"tanya Pakde.
"Habis dirodi, Pakde"jawabku tanpa dosa.
Beliau bertiga tertawa.
"Wuah, keponakan Pakde yang ini sudah besar ya"
Lagi-lagi pipiku yang dijembel. Sedih.
"Iyalah pakde masa saya kecil terus"kataku.
"Pakde Budhi mana?"tanya ketiganya.
"Ada di kamar beliau. Mari silahkan masuk"
***
''Sinta lanjut dimana sekarang?"
*dijawab oleh ayah*
Pakde-pakdeku memandangku dengan tatapan kaget dan tidak percaya seolah-olah mengatakan 'tapi kamu kan cewek!'
Lah passion aku disitu, panggilan jiwa. Ahahaha *shot*
-Abaikan-
***
Benar saja, dua hari kemudian beliau datang.
Trah aku punya kebiasaan ngasih 'surprise' aka kunjungan tak terduga kalau ada anggota keluarga besar kami yang sakit.
Tapi untungnya aku punya waktu 2 hari untuk membersihkan semuanya. Hehe.
***
Kalian pernah engga sih kepikiran seseorang-entah itu keluarga, teman, atau bahkan orang yang tidak kamu kenal sekalipun-dan beberapa hari kemudian, ada kabar mengenai orang yang kamu pikirkan tadi, entah baik ataupun buruk?
Kalau baik, biasanya seperti kunjungan, penghargaan atas prestasi...
Kalau buruk...biasanya tentang sakit atau kematian-aku bakal punya feeling engga enak dan ngerasa ga nyaman secara mendadak.

Tapi Ayu-chan atau Bundo Alex misalnya, bilang kalo kamu kepikiran seseorang terus-padahal kamunya engga ada niatan sama sekali buat mikirin dia-berarti kamu lagi dipikirin sama orang yang ada dalam pikiranmu. (Masa iya sih?)
Kataku, "Ceileh mak...abdi mah jones. Saha yang mau mikirin abdi. 'Teu aya. Ahahaha~"
Biasanya kalo aku ngomong kayak gitu, aku bakal langsung diomelin sama mereka berdua.

Tapi menurutku mereka ada benernya juga sih.
Ga tau kenapa, kalo mendadak kangen sama suatu hal/beberapa orang bawaannya jadi kepikiran. Tapi karena kepikirannya sampai berlarut-larut, sampai-sampai mereka yang dipikirkan pun bakalan sms/telepon kamu saat itu juga :v

Wuoh, the power of kontak batin :"v

Patut dicoba lah hahaha =D

Selasa, 24 November 2015

Kenalkan Julian! Sohibku yang Usil. Partner-in-crime buat siapa aja yang suka jailin Sinta

Namanya Julian. Pemuda berambut jabrik berwajah separo sangar separo cengoh ini lebih tua 10 bulan dari aku. Hobinya usil. Tapi paling seru lagi kalo ngusilin dia. Ekspresi cengohnya bakal buat kamu tertawa terpingkal-pingkal.

Saat sekolah dulu kami berbeda jurusan. Namun hal itu engga berpengaruh sama pertemanan kami.

Dia itu anak yang ngetok-ngetokin kaca mobil ayahku buat ngebangunin aku pas aku lagi enak-enak tidur di dini hari (waktu itu kebetulan kami mengikuti lomba yang sama dan aku tertidur pulas karena lelah melaju dari luar kota [lelah belajar juga sih sebenernya]).

"Nduuk tangi nduuk...kowe nganti kapan ameh tepar terus...nganti ba'da kucing?" (Nak bangun nak...kamu sampai kapan mau tidur terus...sampe lebaran kucing?)
Dengan enggan aku berbalik dan langsung terduduk kaget!
Si konyol itu nempelin mukanya ke kaca mobil. Hari sudah mulai terang-ya aku kaget lah ngeliat mukanya yang ditempel rata begitu!
Aaaa!

Ayahku dan ayah Julian yang sedang mengobrol di luar jadi ikut tertawa. Kan malu banget! Awas ya!

Jadi deh seharian aku diledek dia -,-

Ajaib deh, pas lomba itu aku kenal deket sama banyak peserta dari berbagai daerah. Saat itu presentasi akan dimulai, tapi Julian nowhere to be seen. Ni anak ngerjain nih!
Jadi aku nanyain temen-temenku kesana kemari sambil nunjukkin dp BBMnya dia.
"Ada yang ngeliat mas-mas cengoh ini engga?"

Berkat petunjuk dari seorang mas-mas, akhirnya aku nemuin dia.
Lagi tidur di musholla.
"Masya allah ini bocah tidurnya lelap banget lagi"kataku pada diri sendiri. Aku udah ngguncang pelan pundaknya, tapi masih aja tidur.
Sebersit ide usil muncul dalam benakku. Kenapa engga dicipratin air aja?

Jadi aku nuang sedikit air minum dari botolku ke jemariku, lalu mulai nyipratin muka sangar-tapi-cengoh Julian.
"Bangun bro woy bangun woy banguun!"ujarku ribut. Bener-bener ga elit.

"Elu napa kaga belajar sih bentar lagi maju juga. Seenggaknya lu bangun dan siap-siap"omelku. Ngeliat ekspresinya yang baru bangun tidur malah membuatku tambah geli. "Rupa kamu bakal mengurangi nilaimu-ada ilernya tuh ahahaha"tawaku.

"Pinjem sisir, Sinta"
"Kayak gue pernah sisiran aja"

Dia memasang wajah bete. Dia inget kalo tadi ngeliat Sinta pas benerin iket rambut sisirannya cuma pake jari. Sementara di sekolah? Dia sisiran pas berangkat sekolah aja, padahal rambutnya panjang sepundak.

***
"Nih, madu buat elu"katanya datar sambil memberiku sesuatu.
"Anjas ini kan yang barusan elu minum. Ogah bekas elu"tawaku. "Beracun"
"Sini buat aku aja,"sahut salah seorang kawan kami. Ditenggaknya madu itu.
Aku yang ngeliatin cuma bisa facepalm.

***
Pokoknya emosi sama mentalku udah kebal gegara sering diusilin sama dia (misal, dipanggil Most Awesome Jomblo of The Week lah, kayak cowok lah, pipi bakpao, apapun itu). Mungkin dia anak tunggal kali ya jadinya bahagia banget gitu kalo ada anak yang sampe jengkel gara-gara dia
Yang jadi target keusilan bukan cuma aku aja, tapi juga temen-temennya yang lain.

***
(Di lain kesempatan...)
"Eh, elu kenapa Sinta?"
"Ga mau cerita"kataku sambil menekuk muka, lalu berbalik.
"Hahaha mukanya ruwet amat. Nanti mau kayak Mak Lampir tuanya? Micek dulu gih"
Grr!
Micek itu bahasa jawa kasar untuk tidur.
Biasanya anak-anak cowok ngomongnya kayak gitu.
Oh iya aku lupa. Buat Julian, aku ini masuk dalem kategori sohib cowoknya -,-
"Bodo,"kataku geram. "Jangan ganggu mulu napa. Liat muka elu aja udah bikin gue pusing"
"Mpok, galak amat jadi orang"tawanya. "Mungkin ini bisa buat lo tidur nyenyak"
Dia nyerahin amplop cokelat ke aku, terus pamit. Mau makan malam sama ayahnya, katanya.
"Salam buat babe elu, Juli"
Dia tidak repot-repot berbalik. Hanya melambaikan tangannya saja.

"Isinya apa ya?"
Langsung deh pikiran negatif datang. Julian kan jail banget! Jailnya nyaingin Fiona!
Tanganku gemetar membuka bungkusan itu. Setelah terbuka, aku pun merogoh isinya.
"Foto?"
Aku pun mulai mengeceknya.
"!"

Itu adalah kumpulan foto saat kami menjadi juara di final. Bagaimana dia bisa dapet foto sebanyak ini?
Foto saat masa karantina, foto aku yang tidur ngiler pas belajar di hall, foto kami berlima (berlima, tiga yang lainnya adalah rekan seperjuangan kami), dan lainnya. Btw dia dapet foto sebanyak ini dari mana ya?

Ini lagi mama usil banget, sama kayak Fiona. Pake acara bilang mau besanan sama orangtuanya si Julian. Aku sama ayahku menolak mentah-mentah.
Me: Mum! Like, he IS my best friend! I won't marry him! (Beside due to some other reason we can't marry each other tho)
Dad: No. Just no. It's too early for her to talk about marriage.

Fiona: Anak KMB yang Usiil banget!

ACHTUNG! Tulisan ini dibuat atas perspektif Sinta Alexandria N. Semacam 'secondhand reality', ceunah. Sok atuh Bang dan Akak sekalian monggo dibaca :)

Seperti biasa, anak-anak KMB sedang berdiskusi riang di spot favorit mereka. Semuanya hadir minus Adhi, Rahadian, Putri, dan Jana.

Mereka sudah datang ke kampus namun ternyata kelas hari ini ditiadakan.

"Ayo rek bahas rencana kita lagi,"ajak Zaki. "Ayo, ayo!"seru anak-anak antusias.
"Di list dulu deh lokasi mana aja yang mau kita datangi"
"Toko Oen Malang!"seru Sinta dan Ayu kompak.
"Alun-Alun Kota Batu!"
"Wisata alam dong..."
"Museum angkut!"

"Budget total sekitar berapaan guys?"tanya Yusuf Iskandar.
"Perkiraanku, 700k. Termasuk untuk pengeluaran tak terduga,"jawabku.

"Kalau pakai travel dari sini sih aku juga ga masalah. 7 jamnya ini loh rek, Solo-Malang. Yakin engga pegel? Kalo pake kereta lebih leluasa, walau biayanya 120k"

*flashback beberapa hari lalu*
Ide main bareng ke Malang nampaknya telah menaikkan mood anak-anak KMB.
Semuanya membahas dengan seru.
"Yah...sayang ya Jana sama Putri balik ke Ciamis sama Jakarta..."
"Iya nih"
"Guys, kalian ga ada niatan main ke West Java gitu?"tanyaku dengan mata berbinar ceria. "Asyik loh~"
"Pokoknya aku mau ke Jawa Timur,"kata Adhi. Suaranya teredam soalnya dia sedang menelungkupkan kepalanya ke atas meja
"Just sayin' tho"kataku.
*end of flashback*

Jiit
Sinta yang dari tadi mengamati anak-anak yang hadir mulai menyipitkan matanya.
Dari tadi si Dika modusin Fiona mulu nih wah bahaya.

Dika mulai nanya dan bicara hal ga penting.
Nanyain letak persis dari kediaman Fiona, bilang kalau dia bisa berkunjung kalau kebetulan lewat. Seperti biasa, Fiona tidak mau memberitahukannya. Aku pun mengacungkan kedua jempolku. Ketika digoda oleh anak-anak yang lain, Dika berdalih. "Kan makin banyak teman makin baik. Bisa buat mampir jadinya"
"Ya, habis itu nembung sama Pak Bambang sekalian"tawa anak-anak. Nembung disini maksudnya adalah lamaran.

"Si Sin ini usil banget yaa!"seru Fiona geli.
"Wee"aku menjulurkan lidah, ngeledek dia.

*flashback, beberapa hari yang lalu*
Entah kenapa, pembicaraan mengarah 'kesitu' (baca: relationship).
Kali ini, anak-anak KMB ada semua.
Mulai deh Fiona si usil bersabda, "Wahai kawan semua, kalian ga tau kan kalo gini-gini Si Sin banyak yang ngefans"
"Bokis, gaes. Hoax. Impossible"sanggahku dengan datar.
Tapi dia ga tinggal diam.
"Bahkan sampe ada yang-"
Aku ngebekep mulutnya. Ni anak bahaya ya, kalo ngomong seenaknya juga, ga liat situasi. Bisa habis diledekin nanti aku sama anak-anak lainnya.
"Kirain Sinta jomblo"
"Emang. Jomblo kan varokah"tukasku dingin, engga tertarik dengan pembicaraan.
"Biar jomblo banyak yang ngefans"
"Itu mustahil,"kataku datar.
Tapi Fiona terus saja gigih ngejahilin aku.

Tapi sejahil-jahilnya Fiona, dia mah ga ada apa-apanya dibanding Julian.

Rowena's Precious Gifts

Rowena senang bukan kepalang karena ia menerima paketan dari teman-temannya di Misty Mountains Academy. Kira-kira isinya apa ya? Kok bungkusnya besar sekali. Mungkin barang-barangku yang ketinggalan disana, pikirnya polos.

Dia baru saja mau membuka paketan itu saat smartphonenya berdering.

"Hm? Siapa ya?"

Nama Liam muncul dalam layar monitor itu.
Tumben ngechat. Kirain udah lupa ama ane :v pikir Rowena. William (Liam for short) adalah orang yang Rowena kenal sejak SMA lalu. Mereka berdua berkawan akrab.

"Hn?"
Alih-alih kalimat, ternyata yang dikirim adalah voicenote. Mungkin Liam mau melanjutkan kelas conversation onlinenya?

Rowena menaikkan bahunya, lalu memutar VN itu.

Deg!

Alih-alih bahasa asing, yang didengarnya adalah lagu.
"L-liam ga salah kirim, kan?" ●_●

Wajahnya sudah ngeblush parah. Coba saja suruh dia bicara dia bakal tergagap deh.

Ia mendengarkan nyanyian itu baik-baik. Tak salah lagi, itu memang suaranya.
Rowena merasakan kalau pipinya mulai memanas. Selanjutnya, ia mengucapkan terima kasih pada Liam atas kiriman lagunya. Bilang padanya kalau ia menyanyikan lagu itu dengan bagus dan ia menyukai kiriman lagu tersebut. Segitupun sampai salah ngetik terus. Aaa! Clueless, I don't know what to do! .///.

Dia dengan gugup mengalihkan perhatiannya dengan membuka bungkusan besar itu.

Tapi yang ia temukan di dalamnya adalah setumpuk surat dengan amplop berbeda-beda dan buku-buku. Tapi kenapa kardusnya harus besar juga, pikirnya geli.

"Oi, Rowena...aku yakin tadi denger ada suara cowok nyanyi dari kamarmu,"kata seseorang.
"Eh!"
Christopher bersandar di ambang pintu. Automaton itu nyengir lebar.
"Dari siapa?"
"B-bukan urusanmu!"
Christoph tertawa. Ia mulai memindai smartphone Rowena dan membaca isinya.

"Oh, William, ya. Aku punya data pemuda itu,"katanya sambil meneliti data di layar monitornya. "Hehehe. Suaranya bagus juga. Rowena beruntung-"

Duagh!
Rowena berhasil melempar buku paling besar yang ia temui di kardusnya tepat ke kaki Christoph.

"B-bisa aja dia salah kirim!"
"Tapi dia kan ngirimnya ke kamu!"
"Jangan berdebat sama aku deh! Siapa tau yang dikirim bukan cuma aku-diem Chris!"
Automaton itu tertawa. Ia suka sekali menjahili masternya.
"Hm buku apa ini? Dasar-Dasar..."
Rowena bergerak secepat yang ia bisa dan meraih buku itu. "Bukan buku apa-apa. Udah sana pergi jauh-jauh"usirnya sebal.

Gadis itu beranjak ke ambang jendela. Dari mansionnya, ia bisa melihat siluet dari Misty Mountains nun jauh di barat sana. Bulan sabit seolah sedang tersenyum kepada gadis itu dan bintang-bintang bersinar dengan indah malam ini.

Seulas senyum menghiasi wajah Rowena yang masih merona.

"Liam...teman-teman...terima kasih banyak atas kadonya.
Aku sangat menyukainya,"bisiknya lembut kepada malam

Minggu, 22 November 2015

Karena Perpisahan bukanlah Akhir dari Segalanya

Gadis itu tersenyum bahagia, rona merah mulai nampak di pipinya.
"Ayo berjanji, Rowena. Aku cuma menceritakan hal ini padamu"
Rowena mengangguk lalu mengaitkan kelingking mungilnya di jari kelingking Bedivere. Seketika itu juga Rowena merasakan kehangatan di dalam hatinya.
"Tentu,"katanya. Ada binar dalam matanya. "Aku berjanji"ia tersenyum bahagia.

Lokomotif uap mulai berbunyi. Pemuda itu mengecek arlojinya. "Sudah waktunya untuk kembali"
Rowena mengangguk. "Kalau sudah sampai, jangan lupa bagikan kue kering buatanku ya. Tolong sampaikan salam hangatku untuk semuanya,"katanya penuh sayang.

"Tentu,"katanya. Pemuda itu menjabat tangan si gadis. "Cepatlah kembali. Semuanya juga merindukanmu"

"He-em!"deham Rowena sambil mengangguk. Matanya menunjukkan tekad berapi-api. "Hati-hati di jalan, Bedivere"

Bedivere tertawa kecil melihat ekspresi childish gadis itu. Dia pun menepuk-nepuk kepalanya.

"Jaga dirimu baik-baik, oke. Sampai jumpa"

Rowena melambaikan tangannya hingga kereta uap itu menghilang di belokan. Ia menggenggam surat dari Bedivere erat-erat.

Aku akan mengirim surat pada kalian semua, setidaknya sekali dalam seminggu!
Aku juga akan mengirimkan hadiah-hadiah untuk kalian.

Ia tersenyum, lalu beranjak meninggalkan stasiun.

Sampai jumpa.
Sampai ketemu lagi.

Sabtu, 21 November 2015

Trip with KMB!

Karena terlalu excited mengenai acara jalan-jalan bareng kami yang insya allah diadakan dua bulan mendatang, hal ini pun sampai terbawa mimpi.

Ceritanya, anak-anak KMB lagi piknik di hutan. Ada empat tenda yang mengitari api unggun. Tapi mimpi ini rasanya real banget...

"Waah, asyik banget kayak di novel-novel petualangan yang aku baca!"ujarku ceria, sambil nempelin kedua telapak tangan di pipi.
"YAY KITA MAIN BARENG!"ujarku. "Wahahaha untung Zaki udah sedia sweater sama jaket tebel"kataku sambil ngacungin jempol ke Zaki. "Dan Dika ga perlu kzl karena tempat wisatanya rame"tawaku geli.

Semuanya menyenangi tempat itu. Jana dan Ayu mulai bernyanyi diiringi dengan suara gitar yang dimainkan oleh Dika, sementara Zaki, Putri, Yusuf mengiringi nyanyian mereka. Fiona sama Sinta ngecekin gallery hp, nyariin orbs yang ketangkep kamera (gaje banget, asli). Rahadian mojok sambil nyusun gundam (jangan tanya, namanya juga mimpi), Adhi baca novel Pramoedya Ananta Toer. Menir main harmonika, ngiringin Dika ngegitar dan Aulia lagi ngebakar marshmallow.

Tebak mereka nyanyi apa?
Nyanyi lagu yang mereka kirimin di VN, saat mereka lagi pada hectic nugas di malam hari xD hahaha.

Jika dirasa momennya bagus, Fiona dan Sinta bakal mondar-mandir sambil mengabadikan momen tersebut, habis itu ngecek orbs lagi.

Udaranya segar dan taburan bintang nan gemerlapan menghiasi hamparan langit yang luas: sebuah malam yang sempurna. Cuacanya bagus, pokoknya sempurna banget deh!

"Fiona sama Sinta sini gabung!"ajak Ayu.
"Enggak ah suara ane jelek, ni Fiona aja yang nyanyi. Suaranya bagus loh-ayo open request!"

Langsung ada yang nyeletuk, "Singlenya Adele yang terbaru, Fiona"

Engga usah repot-repot nengok deh.
Engga perlu ngapalin suaranya juga.
Karena kalian tahu siapa yang request :v
*divacok*
***
"Malem ini makan apa gaes?"
"Makan mi aja,"jawabku dan Ayu kompak. Kita memang bawa mie lumayan banyak.
"Mie maning, mie maning"kata Menir.
"Masih untung, Tong (entong-red). Daripada kalong bakar"kata Sinta dengan mata berkaca-kaca *lebay*. Karena dipercaya daging kalong dapat menyembuhkan asma.
"Ga ada yang bawa krupuk ya?"
"Haha...krupuk? Nih marshmallow..."tawa Aulia sambil memberi marshmallownya.

Asyik banget...solat bareng dengan Zaki sebagai imamnya, diskusi keagamaan dan hal-hal yang berkaitan dengan isu terkini...daaw~

"Eh...eh...udah jam berapa ini? Ayo gek ndang bobok, cah..."kata Ayu. "Yuk absen dulu yuk..."
Dan kami pun diabsen satu-satu.

*mimpi selanjutnya engga ingat*

Namun sayang ini hanya mimpi :"v

Tetap Waspada!

Guys...buat siapa saja nih, pesan saya.
Untuk semuanya.

Jangan pernah percaya sama orang yang belum kamu kenal sama sekali!
Jangankan orang asing. Mereka yang kamu kenal aja belum tentu dapat dipercaya -.-


Jangan ngasal minjemin sertifikat sama ID Card kamu juga! (Intinya jangan minjemin surat-surat berharga, uang, atau perhiasan!)

Sering banget orang-orang asing datang ke rumah sini karena ulah seseorang (si pelaku!). Beragam : Mulai dari penegak hukum, pihak bank, sampai korban penipuan dari si pelaku.
"Mas,"kataku lelah. "Ini rumah almarhum kakek saya, bukan rumah dia. Mas salah alamat. Siapa yang ngerujuk alamat sini?"

Sebuah pertanyaan retoris, yang aku sendiri sebenernya udah tau jawabannya.

"Bapak *menyebutkan nama*"
Aku mengepalkan tanganku. Ngeselin banget sih tu orang?

"Dilaporkan saja ke pihak berwajib, Pak"saranku.
"Boleh kami masuk sebentar untuk menjelaskan kronologi kami, Mbak? Kami datang jauh-jauh dari *menyebutkan nama tempat*. Kami mau menyelesaikan ini dengan cara kekeluargaan"
"Baik"

Aku dan keluargaku ga ada hubungan sama sekali dengan masalah ini. Karena kasihan beliau berdua udah usaha dateng jauh-jauh, makanya aku persilahkan mampir. Seenggaknya ada informasi penting yang dapat berguna buat mereka.

"First of all, we have nothing to do with him, Pak. Rumah ini, adalah rumah almarhum kakek saya. Dan rumah dibalik tembok pemisah itu, adalah rumahnya. Selalu saja ada orang yang mencarinya, saya sendiri sampe capek pak njelasin ke semua orang kalau rumahnya itu yang sebelah sana. Bukan sini"tegasku.

Lalu kedua bapak itu menjelaskan kronologi kejadiannya.
Pelaku merupakan orang baik dan taat agama, kata beliau. "Itu mah kedok, Pak. Bapak bisa lihat kok dari wajah dia: gampangnya sih, mukanya bragajul apa kagak. Dari wajah bisa keliatan gimana aslinya orang itu"

"Ya namanya kami juga orang awam, Mbak. Kami tertipu dengan kebaikan dan juga ketaatannya. Bapak *nyebut nama* sudah tinggal di rumah saya sejak empat bulan lalu"

"Hmm..." (jadi inget sesuatu)
Aku menanyakan keberadaan si pelaku dan njelasin kalo banyak orang yang salah alamat hingga datang ke tempat yang salah.
Keterangan yang kudapatkan dari informan-yang notabene adalah orang dekat si pelaku saat melayat ke pemakaman kakekku adalah "ga tau pergi kemana lagi. Ceritanya panjang"
Ga tau apa pura-pura gatau, nih? -,-

"Lompatin aja pagernya, Pak. Saya yakin keluarga pelaku (yang sama-sama liars-nya) ada di dalam"kataku sebal. "Bapak sekalian bisa berunding dengan mereka"

"Bapak bisa melaporkan dia ke pihak berwajib, Pak. Kan ada alat pelacak sinyal"terangku. "Jadi nanti bisa ketauan lokasinya dimana"
"Tapi jangan percaya sama so-called pelacak sinyal yang dijual di internet, Pak. Itu sama-sama ga dapet dipercaya"

"Baiklah, Mbak...terima kasih atas informasinya. Kami pamit dulu"
"Yang sabar ya, Pak. Semoga pelakunya cepat tertangkap dan bapak diberi kekuatan oleh Allah dalam menghadapi cobaan ini"
"Terima kasih, Mbak. Mari"

Kasian kedua bapak itu jauh-jauh dateng kemari.
Tadi aku berusaha ngecek wifinya (wifi di kediaman pelaku-red), siapa tau mereka lupa matiin. Kudengar Macbook bisa dijadiin hotspot Wi-Fi, dan aku pernah liat mereka pake itu (pake Macbook-red). Logikanya, kalo nyala, berarti mereka dirumah. Oh, emang ga ada ternyata.

Gyah, hectic deh...

Kan bener.
Selang setengah jam, WiFi mereka kedeteksi sama hpku.

Tetep waspada ya gaes...

Jumat, 20 November 2015

I remember this words :')

Aku masih inget kata-kata ini hehehe. Pengalaman berkesan pokoknya :')

-SINTA SEMANGAT YA KAMU BISYA BISYA POKOKNYA LAH MUWACH *diberondong sms ama temen-temen*
-Aku percaya kamu bisa :)
-Oh begitu ya. Sukses ya :)
-Cuma kelompok ini aja yang prosentase kelulusannya hampir 100%
-Ayo dimakan gaes jangan diliatin aja hahaha
-Loh, boleh becanda kok toh ga ada yang ngelarang.
-YASS! MAKANAN LAGI!
-Ada acara apa ya mbak?
-Spaneng amat hahaha
-Kalian-semangat ya!
-Mbak, pinjem Tip-Ex.
-Pokoknya mau celpi ama mamas unyu *Sinta mendadak mual*
-Pak...mobilnya engga boleh masuk- *mengabaikan perintah like a boss*
-Raka, sekarang jam berapa ya?
-Tetap semangat guys, kalian bisa!
-Mbak, tempat sampahnya sebelah situ.
-Mbak, dari mana?
-Gaspol bro!
-Ada yang tau contoh hukum avogadro dalam kehidupan sehari-hari?
-Kalian ga usah ketawa-ketawa ya!
-Nanti kamu tau sendiri
-Aku kasian sama masnya
-Aku pernah salah masuk di Nusakambangan ._.
-Hyaa! Rasakan-rasakan-rasakan! *nginjek-injek kelabang*
-Lin, entar lu dibales di akhirat loh :v
-Cangcimen cangcimen yuk gaes sambil nunggu kita kongkow bareng sambil ngemil.
-Sinta, ke kosku aja yuk sambil belajar bareng
-Masa makan disitu sih!
-Tadi ada orang SKSD yang nanya-nanyain aku...
-Aku tadi ketiduran di Mushola
-Ada yang mau madu? (Padahal madunya udah diminum separo ama dia)
-Mbak, tolong pegangin pintu kamar mandinya ya (FYI itu daun pintu WC udah lepas dari engselnya)
-Dafuq gue kebelet boker
-Kok Berlin lama banget ya
-Aku rapopo
-Sampai ketemu di sana.
-Kok kamu ada disini?
-Yay kita ketemu lagi! Jadi trio rempong (?) Ahahaha
-Kamu naturalisasi dek?
-Kamu blasteran?
-Ajarin kita bahasa kasar (baca: umpatan) dari daerahmu :p
-Oh gitu ya...engga boleh belajar bahasa kasar? Betul kata orang ya kalau orang-orang dari tempatmu halus.
-Solo itu mananya Jogja ya?
-Solo? Solok, maksudnya?
-Kemarikan botolmu *diisiin air*
-Nah, tadi kan udah dipijitin, sekarang pijitin temenmu~
-Rambutmu tebel dek
-*nyebut sekolah Sinta*
-Apa cuma gue disini yang nyium menyan dari tadi?
-Kamvret!
-Kamu ga kenapa-napa kan?
-Kamu makan sama siapa?
-Sini abang bantu
-Nanti abang ajak jalan
-Kamu ga tau apa itu jalan bareng?
-Hati-hati
-Ayo, jalan sama aku. Aku bakal bantu kamu.
Sini, pegang tasku ya(teman yang pengertian :") )
-Abang mirip Bisma Sm*sh, kan?
-Dek, coba jalan maju mundur
-Coba renang di Bengawan Solo, biar greget.
-Jangan pegang-pengang tangan adeknya! Modus aja kalian ini.
-Yuk Sinta! (mendadak dari belakang ada dua temen cowok yang gandeng tangan) sfx: drap, drap, drap
-Badannya besar gini kok! Me: -,- (((besar)))
-Kamu cantik begini juga!
-Siapa yang ngestyle rambut kamu? ._.
-Yuk sini Sinta, sama Mia :) :D (anak ini baeeeek banget *terharu*)
-Jangan menyerah sebelum berperang!
-Mata kamu biasa aja! Me: Mata saya memang seperti ini, Pak *ngomong dengan nada datar dan wajah expressionless*
-Enggak usah takut dek. Me: Aku ga takut kok.
-Orang yang mengabaikan cita-citanya adalah penghianat bagi dirinya sendiri!
-Ih manis ada lesung pipitnya~
-Hah? Delapan belas? Kirain umurnya 16...
-Yah sayang ulang tahunnya udah lewat
-Saya suka semangat dan mental baja kamu
-Ngga selfie dulu, mbak?
-Sampai ketemu disana. Kami tunggu loh!

Sampai jumpa. Sampai ketemu di masa depan, Inshaa Allah :)

Kamis, 19 November 2015

Meet the KMB: Another Version of Knights of The Round Table. Hehehe.

Halo kawan-kawan semua! Selamat malam :)

Alhamdulillah...tidak terasa semester tiga sebentar lagi akan selesai. Hehehe.

Tau engga? *wajah merona bahagia*
Akhirnya aku berani untuk menginisiasi acara kumpul bareng sama anak-anak KMB! Yay! (Reader: Apaan sih Sinta...bahagia buat elu mah sederhana aja ya...)

Sebelumnya
Apa sih KMB itu?
Seperti yang kalian ketahui, KMB adalah singkatan dari Konferensi Meja Bundar, sama seperti singkatan yang dipakai untuk konferensi mengenai kedaulatan Indonesia di Den Haag. 

Tapi kenapa meja bundar?

Kalian tahu, kan kalau hutan FISIP dan Taman Helipadnya kini sudah dilengkapi pula dengan meja bundar lengkap dengan colokan listrik untuk mengisi baterai laptop atau hp. Kami (Sinta dkk) sering kumpul bareng di spot satu ini. Bisa dibilang ini adalah spot favorit kami setelah perpustakaan pusat. Di musim hujan begini udara akan terasa segar, terlebih kalau pagi hari. Cuma nyamuk kebonnya aja yang ga nahan. Hehehe. Sama kayak Round Table-nya King Arthur ya. Hehehe. Jadi, mejanya sengaja dibuat bundar supaya semuanya memiliki kedudukan yang sama.

Kalian juga inget kan dengan hobi anehku, yaitu mengamati sifat orang dari gerak-gerik dan cara dia berinteraksi sama orang lain? *nyembunyiin wajah dibalik telapak tangan*. Nanti aku bakal menimbang, 
"Wah anak ini jiwa korsanya tinggi"
"Bahaya kalau cerita rahasia sama anak itu, bisa-bisa sekampung ngerti lagi"
"Aku mau temenan sama mereka! Kita sama-sama suka sejarah, politik, budaya, dan hankam. Kayaknya kalo diajak diskusi bakal asyik nih"
"Waduh, yang satu itu cuma datang kalau ada butuhnya aja. Harus jaga jarak dan membatasi interaksi nih..." 
"Dari kemaren dia nyanyiin lagu To The Beginning-nya Kalafina. Fans Fate/Zero nih. Hehe"
"Wah! Dia juga fansnya Bayern Munich! Asyik!"
Kurang lebih seperti itu. Dan biasanya aku akan mulai memberanikan dan membuka diri (?) untuk mendekati teman-teman yang minatnya sama denganku.

Tapi, kalau mau nyapa duluan, malunya setengah mati!
(Readers: Kenapa harus malu?)
Like, kebanyakan dari mereka cowok! You know, I have a kind of issue with boys T..T
(Tumbuh besar bersama Satria dan Bastian membuatku rada tomboy. Aku suka main bola, main game (GTA, Perang, warcraft, dll), nonton F1/Bola/MotoGP) gitu deh. Jadi kalo ada anak cowok ngomong apa, aku nyambung-nyambung aja (kecuali yang jorok loh ya -,-). Makanya temenku kebanyakan cowok (walau yang cewek juga ga kalah banyaknya). Cuma masalahnya untuk membuat ikatan itu sendiri yang susah. I'm terribly awkward and shy when I started to befriend them all >///<

Ok. Saatnya membahas anggota KMB!

1. Sinta Alexandria: Ceria, childish, kalau ngomong cepet, diem-diem baperan dan susah move on sama masa lalunya (bukan pacar loh  ya). Itulah ciri utama pemilik blog Sinta's Memories of The Past. Kesan pertamanya dingin, sulit dideketin, tertutup. Coba aja kalo kamu udah kenal deket sama dia. Yang ada malu-maluin. Tapi kayaknya keceriaan dan sifat childishnya itu cuma kedok untuk menutupi rahasianya deh :v *dideathglare readers*. Sering banget dipanggil 'bro' sama temen-temen cowoknya (emang aku segitu miripnya ama cowo? -,-).

2. Ayu Kirana: Mature, motherly, tipe kakak cewek sejati lah! Dia punya suara yang bagus dan aktif dalam kegiatan karang taruna di daerahnya. Paling suka deh kalau dengerin Ayu nyanyi keroncong. Suaranya bagus banget. Sinta sama Ayu suka main ke pameran militer dan main ke toko buku bareng-sambil becanda gaje. Sama-sama suka buat meme juga. Seorang catlovers. Dan kalo ngelawak lucu banget xD sampe sakit perut. Ibu Jenderal kita di masa depan. Aamiin yaa rabbal alamiin. Ayu bisa 'merasakan' kehadiran makhluk lain dan engga suka sama cerita seram.

3. Fiona: Misterius, usil, dan jahil! Kayaknya sih dia diem tapi dia itu sebenernya lagi mengamati kamu loh. Hati-hati ya kalau kamu mau curcol sama dia. Sifat usilnya yang ga ketulungan itu hampir saja ngebuat Sinta kalang kabut untuk menutupi rahasia tersebut. Untung aja teman-teman lebih percaya sama aku wkwkwk. Dia rajiin banget. Sayang banget sama kakak perempuannya. Dia bisa ngelihat yang engga nampak wkwkwk. Jadi suka bertukar cerita misteri sama dia. Dia ga suka masang fotonya sendiri buat dijadiin profile picture :p

4. Aulia: Paling suka sama guyonan sarkastisnya Aulia, bawaannya pengen ketawa terus. Dia juga suka ngoleksi meme dan nonton Warkop DKI bareng Ayu. Keduanya teman satu sekolah semasa SMA. Aulia punya pacar yang sekampus sama dia.

5. Putri dan sohibnya, Jana, bener-bener hitz badaiii pokoknya hahaha. Aku dan mereka berdua sama-sama penutur Bahasa Sunda dalam kelompok ini hihihi. Putri selalu up to date soal fashion. Kalau kamu mau konsultasi gimana cara dandan yang baik, sama Putri aja. *ngacungin jempol* terbaik :D

6. Jana (baca: Yana), sohibnya Putri. Dara dari tanah Pasundan ini punya suara emas. Becandanya kocak pokoknya xD dia suka nyanyi bareng sama temen-temennya juga :D sama-sama hitz badaii pokoknya mah. Nun di Bumi Siliwangi sana, ia dan keluarganya membuka rumah makan bakso. Anak-anak KMB kudu nyoba nih. Hehehe

7. Rahadian, yang kuudere (dingin diawal, terbuka (hangat) di belakang), tsundere (sok-sokan galak dan ngomong pedes di depan, tapi dalem hati sebenernya perhatian), dan (katanya) sedikit yandere (um...gimana jelasinnya ya...semacam psiko gitu deh-dan engga terima kalo apa yang dia sukain dideketin orang lain-serem juga yak :"v) hmm...kompleks amat. Entah karena dia ini emang gitu dari sananya apa gimana. Seorang otaku sejati yang ngefans berat ama Miku, Gundam (gunpla atau entah apa-saya 'buta' dalam istilah-istilah ini), dan Saitama One Punch Man. Bawaannya baper mulu. Ga tau kenapa. Baper lagi pas habis nonton Angel Beats! Hahaha. Kalo ngomong pedes banget -,- (aku sih udah kebal sama yang beginian). Suka ngejailin anggota kelas Ilkom A dalam bentuk meme.

8. Menir. Kawan kami ini merupakan perantau dari Lampung. Sampai sekarang pun masih suka promosi tentang tempat wisata dan juga makanan apa aja yang khas dari sana. Dia juga sering bercerita mengenai rumah, hutan-hutan, dan juga sekolahnya disana. Bersama dengan Kiki, dia jago bawa acara. Menir ini salah satu ahli ITnya kelas kami. Hehehe. Bersama dengan Fandi, mereka berdua adalah anggota kelas kami yang sering dijadikan meme.

9. Yusuf I. ( 'I' stands for Iskandar). Beda lagi sama temenku yang satunya, Yusuf aka Ucup. Yusuf yang ini dari Wonogiri. Dia ahli nabuh gamelan loh. Bersama dengan Menir, keduanya seering banget kena keusilan teman-teman cowok KMB. Hahaha.

10. Zakaria alias Zaki. Pemuda dari Malang ini antusias sekali saat kami mengungkapkan usulan untuk wisata bareng ke Jawa Timur. Dengan sigap dia langsung ngasih saran tempat mana-mana aja yang patut dikunjungi. Seorang pembawa acara yang lihai, sama seperti Menir. Anaknya asyik hahaha. Sama seperti Rahadian, dia juga penggemar anime.

11. Dika. Sering banget ngepromosiin isi ulang galon sama laundry sepatu, pokoknya diantara kita semua, dia yang jiwa wirausahanya paling tinggi. Dika berasal dari Pantai Utara sana. Tadi kami semua ketawa saat Dika dan Menir mulai bicara pakai bahasa ngapak. Sampai sekarang pun aku ga ngerti arti lain selain 'rika', 'kepriben', dan beberapa kosa kata lainnya. Pokoknya bahasa ngapak itu unik.

12. Adhi. Kalau dilihat-lihat, namanya mirip dengan seloka kejaksaan. Hihihi. Di kelas bisa dibilang dia yang paling rajin baca koran. Kalau buat tugas, pasti yang lengkap pakai kutipan dan sebagainya dia sama Rahadian. Kesannya kuudere, sama kayak Rahadian juga. Tapi sebenernya engga kok. Adhi dan Zaki suka ngerjain sudoku yang ada di koran Kompas.

Nah, sekian daftar kawan-kawan dekat dan sahabat-sahabat saya di kelas Ilmu Komunikasi A. Asyik itu kalo udah ketemu, kumpul, dan cerita bareng sama mereka. Hihihi.
Sebetulnya Sinta masih mau nulis banyak u,u
Namun berhubung karena identitas saya sudah diketahui, rasanya cukup sekian aja deh ngomongnya.

Yang saya jabarkan di atas adalah perspektif saya.
Percaya deh, kalau kalian ketemu sama mereka, kalian pasti juga bakalan jadi teman dekat-bahkan sahabat :D

(A/N: Geting nyanding! Trisno jalaran soko kulina! *dihajar massa*)

Anak-anak KMB mah moodbooster, emang. Ngingetin aku ama keluarga keduaku nun jauh disana. Hehehe.
Sukses bareng-bareng ya guys. Semoga kita semua berhasil meraih impian yang diinginkan selama ini. Aamiin yaa rabbal alamin.

Kalo mau komen, silahkan yaa *nyengir lebar*

Btw ada yang ngirim screenshot blog ini ke salah satu anak *merinding dangdut*. Nampaknya saya harus lebih berhati-hati *lirik kanan-kiri* *ngebenerin cengdem*

Ja ne! Sekian :D

Senin, 09 November 2015

Notice me, Senpai!: Your Senpai is your nii-san.

Alhamdulillah...aku senang sekali karena keinginanku untuk bisa satu kampus dengan salah satu sepupuku dan sekelas dengan teman dari luar negeri bisa terwujud.

Namun ada satu masalah.

Ekspektasi: Bisa sekampus dengan kakak/adik sepupumu (selanjutnya disebut nii-san) membuatmu bisa belajar bersama dengannya. Kamu pun bisa mengunjunginya dan menolongnya apabila ia butuh bantuan-mengingat dia merupakan perantau di kotamu (plus karena kamu udah janji sama orang tua dia alias paman dan bibimu untuk selalu menjaga dan mengawasinya). Asyik lagi, kamu bisa dapat informasi penting misalnya model ujian yang akan diujikan seperti apa dan tempat hang out asyik di sekitar kampus. Plus, kalian juga bakalan lebih deket karena sealmamater dan seprodi, cuma beda angkatan aja.

REALITA: Nii-san malu tiap kali disapa sama kamu. Apalagi kalau kamu nyapa dia di depan teman-teman sekelasnya. Paling pol yang nyapa balik cuma pacarnya, yang anehnya justru lebih deket sama kamu.

Mungkin karena warna kulitku yang cokelat gelap karena terbakar matahari? Aku sering ikut latihan, Kak jadi mau engga mau warna kulitku cokelat begini :)

Atau karena dandananku?
Maaf...saya cuma numpang lahir saja di kota yang sama dengan nii-san, hanya saja saya memang tidak pandai berdandan. Ditambah lagi saya tidak suka pakai pakaian dan hijab yang ribet. Saya lebih suka yang sederhana karena lebih efisien waktu.

Atau karena wajahku?
Aku emang jarang pake make up, nii-san. Kalaupun pake itupun tipis jadinya tidak kentara. Tapi setidaknya aku selalu tersenyum kalau ada nii-san dan teman-teman yang aku kenal. (Yah walaupun nii-san selalu pura-pura tidak melihatku).

Atau karena kekayaanku?
Aku sendiri sih belum punya penghasilan (buat perkecualian sih beasiswa yang pernah diberikan untuk saya. Hehehe). Yang berpenghasilan kan Ayah dan Ibu saya :)

Aku mah apa atuh, yang saat ini cuma punya kepintaran (kata mereka) dan tekad baja :")

Kadang yang sulit adalah menjawab pertanyaan Paman dan Bibi saat acara keluarga. "Gimana kalo Sinta ketemu sama Mas di kampus?"
Paman dan Bibi begitu baik. Beliau berdua tidak peduli akan hal-hal yang aku sebutkan diatas. Beliau semua bangga padaku, just the way I am, terlebih atas prestasi yang aku raih. Aku cuma tersenyum sambil menggeleng."Maaf sebelumnya. Coba saja paman dan bibi tanyakan pada orangnya"
Mereka orang tua. Tentunya mereka paham betul gestur dan ekspresi yang aku berikan saat menjawab seperti itu.

Makanya aku suka males banget kalo disuruh liburan ke rumah grandparents dari pihak ayah. Like, my grannies aktif di beragam organisasi-jadi beliau berdua jarang ada di rumah. Sementara itu di rumah ada banyak orang sih, tapi pada asyik sendiri (cousins aku, maksudnya). Yang deket sama aku cuma Amelia aja.

Ayu sampe bilang, "Sekali lagi kamu BERUSAHA nyapa mas sepupumu, gue tampol loe"
Itu karena Ayu sendiri juga kesal dengan perilaku onii-san, juga kesal dengan perilakuku yang terus saja ngeyel.

Yah, ga tau deh.
Pokoknya aku udah nyapa duluan kok.
Lain kali kalau paman dan bibi bertanya, aku jawab jujur aja.
Inilah realita.
Karena seperti kata Dumbledore, kebenaran itu indah dan mengerikan. Dan oleh karenanya harus diperlakukan dengan hati-hati.

Catatan:

Senpai: Senior
nii-san: Kakak laki-laki

Jumat, 06 November 2015

Hobi Aneh(?) Sinta \(^o^)/

Nama: Sinta Alexandria N.
Hobi  : mengamati (hobi macam apa ini? xD)

Sinta suka sekali mengamati aktivitas teman-temannya saat kelas sedang berlangsung. Ada yang rajin mencatat, ada yang ngelamun, ada yang sms-an sama pacarnya (jadi dia ngetik sms di laci meja, tapi kepalanya fokus ama pengajar. Pro banget nih *grin*), ada yang kirim-kiriman surat sama sohibnya, ada yang tidur, ada yang ngerjain tugas buat pelajaran selanjutnya, ada juga yang iseng. Macem-macem deh!

Saat itu jam kosong dan kami sekelas mendapat tugas yang harus selesai hari itu juga.

'Hm? Anak itu rajin banget, kayak abang, babe, ama pakde gue waktu sekolah. Hahaha. Kasarannya, kayak beliau-beliau ini ga pernah muda,'pikir gadis itu.
Deg!
Anak itu menoleh. Sepasang mata tajam balas menatap mata Sinta, yang sedang tersenyum sendirian.

Sinta yang ketangkep basah cuma bisa manggut-manggut sambil ngatupin kedua tangannya di depan dada. Maafkeun saya bang T..T Sinta cuma penasaran.

Langsung deh Sinta menganalisa.
"Hm..."
"Courteous? Checklist! Dia ga apatis kayak yang lainnya. Rajin? Iya. Kalo jam kosong sering ke masjid juga. He always got straight A's too. Anaknya dingin dan sulit didekati-jangan-jangan dia abang aku yang jadi time traveller supaya bisa ngawasin aku? Ealah Herp, Herp...ga mungkin lah!"

Lagi, sepasang mata tajam itu mengawasi Sinta.
'Uwa! Ampun! Ih vego vanget sih ane sampe ga sadar kalo ngeliatin dia T..T'
Dalam waktu sepersekian detik Sinta langsung mengalihkan pandangannya. "Dasar baka!"

"Dasar vvibu,"kata Rahadian, yang mendengar umpatan Sinta barusan.
"Elu juga,"timpal Sinta.
***
Saat istirahat...

Anak tadi langsung menghampiri Sinta, yang sedang makan bekal sama teman-temannya.

"Kamu bisa ga sih engga ngawasin aku? Risih tau"
Anak-anak perempuan yang lain pada terkesiap. Dasar ice king!

Sinta menundukkan kepalanya. "Maaf ya...soalnya aku pikir kamu mirip sama kakakku, yang sedang menempuh studi di negara seberang. Soalnya sifat kalian mirip. Maaf kalau aku ganggu-lagian aku ga ngamatin kamu aja, tapi semua temen-temen di kelas ini juga

Misalnya aja, Ayu yang belakangan ini sering pakai cincin batu giok ke sekolah. Terus Rahadian yang suka banget nyanyi Senbonzakura-nya Hatsune Miku. Lalu ada Reza yang jalannya agak pincang tapi entah kenapa...mungkin cedera sehabis tanding futsal antarkelas kemarin"

Anak-anak di dalam kelas terdiam. Sinta jeli banget sih?
"Lain kali kalo nyari tempat duduk ga usah deket-deket sama aku. Cari yang jauh sekalian"katanya, masih dengan nada datar yang sama.

"Itu karena ga ada bangku lain yang kesisa kecuali di deket kamu,"timpal Sinta. Dia mulai kesal. "Engga liat apa kalo anak-anak cewek suka duduk sebarisan ama geng mereka, dan anak cowok pun demikian? Tenang aja, aku juga ga naksir sama siapa-siapa. Tadinya aku mau temenan sama kamu soalnya kita sama-sama suka klub sepakbola ama baca novel berseri yang sama. Kalo kamu ga suka ya udah sih, maaf ya udah bikin kamu engga nyaman"Sinta membungkuk, pamit pada teman-temannya, lalu pergi keluar sambil membawa bekalnya.
Dia kalo udah kzl kok childish ya jatuhnya?

Sinta cuma mau berteman. Semua yang ada di kelas itu adalah temannya kecuali pemuda bermata tajam itu.
Pikir Sinta, kalau ga mau dan susah diajak berteman, lebih baik ga usah aja. Cukup sebagai acquaintance aja.

Lagian susah juga sih. Kalau kita menolong dan 100% murni nolong tanpa pamrih nanti dikira naksir -,- padahal sama yang cewek juga gitu. Kalo mau senyum apa nyapa duluan, nanti pada mikir yang engga-engga juga! Ya udah mendingan cuek bebek (walaupun ini sulit diterapkan, apalagi kalo temen-temenmu sakit dan you're worried to death and pengen kasih tau ramuan apa aja yang harus mereka racik untuk menyembuhkan sakit tersebut).

Itulah hobi aneh yang suka Sinta lakuin di kelas. Hehehe.
Kalo kamu?
 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design