Jumat, 04 Desember 2015

Jas Merah: Penyerbuan Belanda di Kota Solo

Aku jadi teringat cerita kakekku mengenai penyerbuan Belanda ke Kota Solo. Kakek bercerita mengenai hal ini saat aku dan Bastian masih SMP.

"Surakarta, puluhan tahun lalu, saat negeri ini masih muda,"Kakek memulai.

"Pasukan Belanda tiba-tiba datang menyerbu-situasi kacau balau saat itu. Banyak warga sipil yang terbunuh di dekat sini. Eyangkung (Kakek-B. Jawa) waktu itu masih kecil..."begitu yang dikatakan beliau saat memulai cerita. Mata kelabunya menerawang, mengingat masa-masa kelam itu.

"Anak-anak yang lebih tua, yang tergabung dalam Korps Tentara Pelajar langsung bertindak, termasuk Masnya eyang"

Aku, Satria, dan Bastian mendengarkan baik-baik. Wajah kami tegang.

Beliau tertawa getir, lalu berkata, "Eyang tertangkap waktu itu, bersama dengan beberapa anak lainnya"

Kami bertiga sweat drop. Kok bisa?
Lalu kami ingat dengan reputasi kakek kami yang semasa kecilnya suka berpetualang dengan kawan-kawannya keliling daerah Solo.

Wajah kami bertiga langsung pucat. Apa yang kiranya tentara musuh lakukan pada anak kecil?

"Lalu...apa yang mereka lakukan?"tanya Bastian.

"Mereka menyuruh kakek untuk menyuci tank"

Kami bertiga langsung sweat drop.
Iya sih kesannya sepele, tapi tetap saja.
Mereka menganggap pribumi sebagai warga kelas dua.

"Kenapa eyang ga berontak?"protesku kesal.

"Namanya juga anak kecil"

Aku dan Bastian bertukar pandang. Karena jika kami ada pada situasi seperti itu, setidaknya kami akan memberontak. Bodoh sih kesannya, dan kami pasti bakal babak belur karena dihajar. Luka bisa sembuh. Hanya saja, kami tidak mau harga diri bangsa kami diinjak-injak seperti itu.

"Setelah itu?"

"Londo (orang Belanda) itu memberi kakek roti dan susu yang baru mereka konsumsi sebagian"

"Loh! Kalau diracun gimana? Kalo haram gimana? Kalo ada penyakitnya gimana?"lagi, dengan kesal aku memprotes.

Kakek tertawa getir. "Zaman dulu, roti dan susu itu barang mewah, Sinta. Engga seperti zaman sekarang ini, dimana kamu bisa makan roti dan susu setiap hari"

Beliau lalu melanjutkan, "Tentara Belandanya baik pada kami. Justru yang keji adalah londo ireng"

"Londo ireng? Maksudnya?"tanya Bastian, awam dengan istilah itu.

"Anggota KNIL. Disebut demikian oleh masyarakat karena warna kulitnya"terang Kakek.

"Rasis,"sindir Satria, singkat dan tajam.

"Jangan salah, mereka sama kejamnya, le"kata Kakek.

Kami bertiga bersyukur sekali karena hidup di masa damai. Kakek berpesan kepada kami bertiga untuk menghargai jasa-jasa pahlawan di zaman dulu dengam bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, supaya dapat membangun dan memajukan bangsa ini.

Tidak terasa, aku mulai menangis. Karena aku merasa masih suka malas kalau belajar, apalagi kalau mata pelajarannya tidak aku sukai (terutama yang BANYAK hapalannya. Aku lebih suka mata pelajaran eksak saat SMP).

"Oh ya, lalu bagaimana dengan Kakek?"maksudku adalah kakak dari kakekku yang merupakan anggota TP.

"Alhamdulillah mas baik-baik saja"kata Kakek, jawaban yang singkat dan padat. Beliau menjawab sambil tersenyum.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design