Sabtu, 30 Januari 2016

Julian's Advice

Aku masih ingat loh...

Julian (dengan wajah sok cool) pernah berpesan kepadaku.

(Lokasi: Lapangan dekat rumah. Julian datang (tapi ga aku ajak ke rumah soalnya ga ada siapa-siapa) untuk bawain oleh-oleh. Jadi kita tukeran oleh-oleh gitu. Kurang kerjaan, kan?)

"Waa...oleh-oleh dari Dieng? Aku suka banget sama ini! Makasih banyak ya. Salam buat papa sama mama kamu!"seruku riang. Tapi Julian tidak menunjukkan tanda-tanda untuk beranjak dari tempat itu.

Rambut jabriknya melambai ditiup angin. Matanya yang sayu menatapku antara ngantuk, bosen, dan iba di saat yang sama. Tangan kanannya di atas pundak menggenggam jaketnya sementara tangannya satu lagi di dalam kantong.

"Lebay banget sih Julian,"kataku frontal, eneg ngeliat gayanya.
"Dek, abang kasih tau ya-"
"SEJAK KAPAN KAMU JADI ABANG AKU-NJZ!"
Dia menghela napasnya. "Dengar, Sinta"nada bicaranya serius.

"Baik"

Kini dia menatap serius.
"Aku baru dua tahun ini sih kenal sama kamu-itu pun gegara lomba yang mau kita ikutin dulu. Pas pertama ngeliat kamu, bawaannya pengen usil"
"Kalo boleh jujur, mukamu bullyable"tukasku sebal. "Makanya aku juga sering usil ke kamu"
Dia tertawa, lalu melanjutkan, "Aku tahu persis kamu. Apa yang paling membuat kamu bahagia, apa yang bikin kamu kecolongan, dan siapa yang kamu suka"katanya santai.
"What? S-siapa yang aku suka?"mukaku langsung memerah. Julian cuma bisa ketawa.
"Gue gitu loh"katanya.
"Inisialnya-"
"Aku engga suka-cuma respek aja!"
Melihat aku yang udah marah kayak anak kecil malah membuatnya tambah usil.
"Ooh respek yah. Yakin?"
Wah, Julian minta dikasih kecoa terbang nih.
"Julian cuma mau kasih tau adeknya satu, dua hal. Yang pertama, jangan terlalu mempercayai orang lain-bahkan yang udah akrab banget sama kamu sekalipun. Justru mereka-mereka inilah yang tahu kekurangan dan kelebihanmu sehingga dikhawatirkan dapat menjatuhkan kamu di masa mendatang. Yang kedua, don't fast fall in love. Jangan cepet suka sama seseorang. Kamu pasti tau peribahasa Jawa 'tresna jalaran saka kulina', kan?"

Ekspresi wajahnya serius. Sorot matanya seolah berkata, "camkan baik-baik".
Aku mengangguk. "Aku mengerti"
"Karena abang Julian ga mau kalo adeknya kenapa-napa, hikz"dia kembali ke sisi alaynya. Jijay deh.
"SEJAK KAPAN LU JADI ABANG GUE?!"

"Abang ga akan ngebiarin orang yang berusaha mempermainkan atau menyakiti Sinta"katanya, kembali ke serious mode.
"Karena abang sudah berjanji, untuk menjaga Sinta"

Deg!

Aku menatap kosong pada mata mengantuknya.
Angin berhembus di wajahku. Otakku merekam semuanya, menyimpannya baik-baik dalam memori.

"Nah. Abang pergi dulu ya, Dek. Bapak sama Mama udah nungguin nih,"katanya sembari mengecek arloji.

"Oh iya, Julian nih ada paketan dari ayah sama mama aku buat orangtua kamu"
"Makanan lagi, yes"dia nyengir lebar. "Udah dulu ya. Bye~"

"Tschüß. Eh, Julian! Wait..."
"Apa?"

Wajahku memerah karena senang. Aku menarik napas sebelum berkata, "Terima kasih banyak! Terima kasih juga karena sudah mau menjagaku-aku pun akan menjagamu-dengan caraku sendiri"

Dia nyengir, lalu mengangguk.

"Iya. Saling jaga ya. Assalamualaikum"

"Hati-hati di jalan, ya. Waalaikumsalam"

Aku mengawasinya pulang hingga ia menghilang di balik kelokan.

Lalu, ada tetangga yang usil menanyakan, "Siapa Mbak Sinta? Pacarnya ya?"
"Bukan, Pak!"jawabku histeris sambil menggelengkan kepala sekuat tenaga. "Sahabat saya"
"Hmm..."bapak-bapak itu menyipitkan matanya.
"Saya pulang duluan ya, Pak. Assalamualaikum!"ujarku canggung. Cepat-cepat pamit supaya beliau ga nanya aneh-aneh.

Julian, you're da real MVP!
Mungkin kamu emang kakak-kandung-yang-engga-pernah-dilahirkan :"D

Jumat, 29 Januari 2016

Kenangan akan Kakek

Kakek, bagaimana keadaan kakek disana?

Semoga baik-baik saja, Yah :")

Rasanya seperti baru kemarin kakek meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Kakek seolah-olah tertidur lelap. Tangan sudah saling bertaut di atas dada. Tubuh kakek masih hangat saat Sinta tiba di rumah. Saat itu, Sinta tidak mau mempercayai fakta bahwa kakek sudah meninggalkan kami semua.

Kini, sakit yang kakek rasakan sudah sirna.
Sinta dan Mama masih ingat betul bagaimana kakek bercerita kalau kakek selalu berdoa kepada Allah SWT untuk diambil ruhnya secara perlahan karena kakek membaca betapa sakitnya proses pengambilan ruh dari raga manusia.

Kini Sinta, Bang Bastian, dan Satria tidak akan pernah bisa menertawakan keusilan kakek pada kami atau sebaliknya.

Sinta dan Bang Bastian suka menginspeksi lemari kakek karena kakek suka menimbun makanan manis di dalamnya, padahal kakek menderita diabetes.

Sinta, Bang Bastian, dan Satria selalu takjub bagaimana kakek bisa ingat seluruh materi pelajaran sewaktu kakek HIS-sampai SMA dulu, jadinya bisa mengajar kami apabila kami menemukan kesulitan.

Kakek selalu menemani Sinta belajar hingga larut malam. Kadang, tiap jam setengah dua pagi, kakek akan berdiri di ambang pintu kamar Sinta, menatap Sinta dengan tumpukan buku-bukunya sambil tersenyum.

Kakek juga suka membuatkan teh di pagi hari (walau kentalnya bukan main) buat Sinta, Bang Bastian, dan Satria.

Kakek selalu mendoakan kami semua saat kami hendak pergi menuntut ilmu/maju lomba sebagai perwakilan sekolah kami. Lengkap dengan perkataan "Kakek yakin, kamu pasti bisa mengerjakannya, (Sinta/Bastian/Satria). Karena kamu cucu kakek" lalu tersenyum.

Kakek selalu mengantarkan kami semua saat kami berangkat sekolah. Melambaikan tangan pada kami semua hingga pemandangan akan kami hilang di balik tikungan.

Dan banyak kebaikan lainnya.

Sinta bahagia karena sebelum kakek pergi,
Setidaknya Sinta bisa membuat kakek bangga dan bahagia, walau belum seberapa.
Setidaknya Sinta bisa membalas kebaikan-kebaikan kakek, walau belum semuanya :")

Sinta cuma bisa memeluk kakek dengan doa :")

Kakek, baik-baik ya disana.
Istirahat yang tenang ya, Kek.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amalan baik kakek. Aamiin yaa Rabbal alamiin.

Sinta kangen banget sama Kakek :")

Kamis, 28 Januari 2016

Hanging out with Amelia and Tami \(^o^)/

Kemarin sore, Sinta hang out bareng bersama dengan Amelia dan Tami, salah seorang sahabat baik Sinta. Kami dulu berkenalan saat mengikuti lomba yang sama, dan masih saling kontak satu dengan yang lainnya sampai dengan sekarang.

"Tami, bisa nonbar ga sore ini?"

Tanyaku via LINE. Mumpung di Semarang, pengen banget main ke tempatnya Tami atau sekedar hang out bareng-entah di rumah kakek/nenek ataupun diluar.

Omong-omong soal Kakek, beliau sudah sehat dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kini ayah dan mama yang menjaga beliau di rumah.

"Sore jam berapa, Ta? Aku baru pulang jam lima sore"

Karena durasi filmnya 97 menit dan aku dan Tami ga diperbolehkan pulang malam, jadi aku jawab "Yah...kayaknya ga bisa nonton bareng deh...bisa engga kalo kita makan bareng aja?"lalu aku menjelaskan situasi kami.

"Okedeh engga apa-apa, Ta :D"jawabnya

"Alrightie! See you there, ma bestfriend!"kataku, disertai emotikon peluk.

Aku dan Amelia menonton film The Boy waktu itu. (Jangan lanjut baca tulisan selanjutnya, please! Aku sudah memperingatkan, loh)
(Btw Sinta sayang dengan jantungnya. Jadi sekiranya kalau ada adegan yg otw buat saya kaget, saya langsung mengalihkan pandangan hahaha).
Amelia duduk di samping kanan, menjerit kaget sembari mencengkeram pergelangan tangan kanan atas erat-erat.

"Hiyaa! Apaan itu mbaa!"
"Amelia, sakit tau"kataku.

Tiba di suatu scene
"Mereka ngapain, mba?"
"Mau bunuh diri"
"Kok mba bisa tau? Udah baca sinopsisnya?"
"Belum"
"Tapi kok tau?"
Jadi aku menjelaskan padanya.
"Batu itu buat pemberat. Pasti mau menenggelamkan diri. Amelia tau sendiri kan aku aja yang ga bisa berenang bisa mengapung di atas permukaan air?"
"Ooh...iya juga ya Mba..."

Lalu kami pun memutuskan tempat mana yang akan kami kunjungi selanjutnya untuk ketemuan bareng.

"Tami, kita ketemuan di *piip* ya :D ada di lantai tiga. Jadi dari toko *piip* kamu tinggal lurus aja"

Yay! Dan bertemulah kami dengan Tami.
Ya Allah, bener-bener deh-kita berdua udah dua tahun ga ketemu. Ahahaha.

"Ya Allah, masih aja sok manis kayak biasanya haha"

Lalu dia berkenalan dengan Amelia.

Karena anaknya ramah, menyenangkan, dan mudah bergaul, jadi dengan mudahnya dia berteman juga dengan Amelia.

Kami bercerita panjang lebar, sesekali tertawa juga. Sampai dia bertanya:

"Ahahaha, umurmu udah 19 loh, Sinta. Yah, walaupun mukamu kayak anak umur 16, tapi dandananmu emak-emak-able hahaha. Seenggaknya ada kan orang yang kamu taksir?"

Aku cuma mengangguk sambil nyengir lebar. "Mau liat orangnya?"

Amelia dan Tami jadi penasaran. Lalu dengan kilat aku mengetikkan kata sandi untuk tabku sebelum masuk ke galeri.

"Ini dia orangnya...hehehe"
Mereka berdua mendekatkan kepala ke layar untuk melihat.

"Loh...ini kan..."
Lagi, aku cuma pasang tampang bodoh sambil ketawa, "Hehehe"

Seorang senior dari sekolah lama,
Yang disukai sama Sinta sejak dua tahun lalu-
Hingga sekarang.

Keduanya facepalm.

Melihat pertanyaan yang hendak mereka lontarkan, aku cuma jawab, "Oh, foto itu dikirimkan oleh temanku, Julian namanya"

Lalu aku menceritakan Julian yang mengirimkan satu album foto yang isinya kenangan saat aku masih ada disana.

"Kamu sering kontakan sama dia?"
"Enggak"
"Terakhir ngomong?"tanya Amelia
"Dua tahun lalu"
"Kenapa ga tanya sama Julian? Minta ID LINEnya atau apa"saran Tami
"Engga ah"
"Jadi suka dalam diam gitu?"
"Kurang lebih begitu"
Mereka berdua memberi pandangan takjub.
"Ajaib ya, bisa suka dengan orang yang sama dalam waktu yang lama"
"Hehehe"aku cuma bisa tertawa.
"Go for it!"seru mereka memberi semangat.

"He won't like me back. I'm just a normal girl who doesn't even know how to make myself prettier (read: how to apply make up). I doubt that there's a single soul out there who likes me"
"Don't be pessimistic like that, Sis"kata Amelia.
"Yeah. It's just some self-fulfilling prophecy"kata Tami.

"'Cause you're beautiful, just the way you are~"kata Amelia sambil menyanyi.
"Plot twist: You're the one who created some space between you and someone's who interested in you"
"You're correct, Tami. I am"

Keduanya facepalm. Lalu mereka lanjut ngecek galeriku.

"Yang ini siapa?"
"Kakak kelas, setahun diatas kita-yang seragamnya aku pakai dan engga sengaja aku rusak-parah banget aku ini-aku harus ngirim sesuatu dan ngirim surat berisi permintaan maaf buat dia T..T"

Tapi kayaknya kedua cewek itu ga ngegubris omonganku.

"Omg! Cakep banget!"
"Manis!"
Dan aku dengan poker face berkata "Am I the only one around here who found him cute but not that attracted just like you two?"
Mereka tertawa.

"Kenalin kita ke dia, dong"
"Aku aja ga punya kontaknya"jawabku.
"Tanya temenmu, si Julian, kalo gitu!"

Aku memutar bola mataku.
"Cewek macam apa yang minta-minta kontak cowok yang sama sekali ga dikenalnya. Plus si konyol Julian bakal ember ke teman-temannya disana dan mereka bakal usil lagi sama aku"

Lalu aku menambahkan.
"Don't you guys dare to google him or stalk him. He's my senior. Ahahaha. Over my dead body, guys"
Aura mencekam menguar, cukup membuat keduanya berjanji untuk tidak melakukannya.
Sister complex mode: On
(Kenapa sister? Karena aku menganggap semua yang disana sebagai saudara-saudaraku :D)

Kenapa aku memperingatkan mereka?

Karena ada remaja yang suka banget ngestalk akun sosmed punya orang, ngesave fotonya, dan bilang ke semua orang yang mau dengar kalo dia sedang in relationship dengan orang yang fotonya dia ambil.
Padahal engga. *nepuk jidat*

"Y-yakali, Sinta kita cuma becanda aja kok"
"Mbak serem banget loh-coba ngaca deh-orang yang ga tau bakal ngira mba kesurupan atau semacamnya"

Aku tertawa sama perkataan mereka.
"Udah deh hahaha kalian ini loh bikin ketawa aja hahaha"

Amelia lagi-lagi melirik es alpukatku.
"Kalo mau ambil aja, Mel. Hahaha"

Udah kebiasaan Amelia buat minum minuman yang aku pesan hahaha xD

Dan kami pulang bareng pakai taksi, nganter Tami dulu tapi.

Asik banget deh, bisa kumpul bareng sama dua remaja cewek-dua sahabat yang paling dekat denganmu >w<

Semoga tahun depan kita bisa kumpul bareng lagi, ya :D

Happy 1300 Readers!

Assalamualaikum, pembaca Melody of The Wind!
Selamat pagi, jangan lupa bahagia :D
Keep positive thinking, spread your kindness :D

Alhamdulillah, readers blog ini sudah menembus angka 1300 *happy*

Terima kasih banyak atas kunjungan teman-teman sekalian :D

Blog ini berisikan kumpulan catatan harian, puisi, cerpen, dan juga opini saya terhadap suatu fenomena/permasalahan xD

Semoga kalian tetap suka yah :D

Muehehe~ Sinta sayang kalian semua :D

Rabu, 27 Januari 2016

#Throwback

Saturday, November 21 2015 (malam hari, jamnya sekitar jam 9 malaman)

Today is a perfect day!

Julian-kun SENT me TONS of our photographs (our team. Not only me and him). It's SO amazing! (With note: This is a pic of our team. Hahaha. Look at your face. Just like a toddler who get lost in a mall)
Aaaaaaaa
I MISS YOU GUYS SOOO MUCH! (Of course, you guys too, Sensei(s))

(But hey, Julian! How could you have so many pictures on your gadget? And my silly pics tho! How embarassing! One last question, Julian: why don't you give them earlier to me? Thanks a lot btw! Aaa I'll treasure it! Can I print them? :D)

And then, Otong-san comes and give me this song...(Dekat di Hati by RAN. He sang it in an awesome way, while his friend play the guitar)

And at that time, I'm on Herpina mode, mistakenly thought that as Raisa's Mantan Terindah. Hahaha xD sorry!

What a lovely voice. And thanks for sending that to me.
Maybe you want to give that to your GF but accidentally sent it to me? x"D haha

Hey, Otong-san, can I (b)complete the lyrics?(/b)

-Entah mengapa, aku merasakan hadirmu disini

And this one:

-Jarak dan waktu takkan berarti, karena kau akan selalu dihati
-Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun ku pergi


Julian-kun, Otong-san, Thank you so much everyone! What a lovely presents 😀
And then this song also perfectly fit with the situation.

P.s. for Julian and Co!
Could you guys sing Dekat di Hati by RAN and Enchanted by Taylor Swift at 17 Agustusan? Pretty please? :"D that would be great!
And it will be awesome if I can watch you guys perform there :"$

Julian-kun also send me an address to where I should mail my package for everyone.
Do they will like abon? Or srundeng? They can use it as snack tho (they are all a hardworker! And love to eat snack hahaha).
And of course! Kak Eka also wanted that osmaru book. Hihihi.

Ooh! I have another idea!
Maybe it's trashy af for some people-but what if I made a book where I can jot down my memories about them? It will be great! Hehehe xD

(Am I the only one around here who still keep in touch with everyone? Seriously?)

Muehehe! I should told them a story about my city too. I  want to meet them again, my lovely second family!

Alas, I'm late :(
Justin-senpai and Argus-senpai have already graduated!

Alas, I'm late. They're all so kind to me and I wanna repay their kindness.
But Julian-kun said I still can meet with them all. (As long as I rejoin them/visiting them ahahaha)
Hehehe

Friends are Gifts from Allah SWT and I should love and respect them all.

Love you guys!
(big hug and kisses -mahrams only-)

-Sinta A. N.

Selasa, 26 Januari 2016

Intro

Genre: Supernatural, romance, friendship, historical fiction

Kisah ini hanya fiksi belaka. Apabila ada kesamaan kejadian, nama, dan tempat hanyalah kebetulan belaka.

Mira dan Senandung Senja oleh Sinta Alexandria N. (2016)

Kisah ini didedikasikan untuk: My fellow blogger friend, Otong, Amelia dan Marko, KMB (Ayu and Fiona pada khususnya), Bang Julian, dan rekan-rekan Jawadwipa 2014 :D

Kamu tahu kan kalau di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin?

Kenalkan Mira dan romansa dua dunianya.

Sebagai seorang gadis yang mampu melihat dengan mata batinnya, ia sudah terbiasa berinteraksi dengan makhluk-makhluk astral.

Namun segalanya berbeda saat ia bertemu dengan Jan, sesosok hantu yang sudah meninggal ratusan tahun yang silam.

Setiap sorenya, di bumi perkemahan itu, ia selalu mendengarkan seseorang bersenandung. Suaranya jauh namun juga dekat di saat yang sama. Iramanya indah namun juga memilukan. Senandung itulah yang mempertemukan Mira dengan Jan.

Dua makhluk yang tak dapat disatukan, terpisah baik oleh ruang maupun waktu.

Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia?

Atau apakah kisah mereka akan berakhir pedih?

Ikuti kisahnya dalam program cerita bersambung "Mira dan Senandung Senja" hanya di blog ini :)

Sinta Alexandria

Minggu, 24 Januari 2016

Keinginan sederhana saya di tahun 2016?

Menonton konser yang diadakan oleh kawan-kawan dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-71.

Sederhana, tapi juga mustahil di saat yang sama :")

Sabtu, 23 Januari 2016

Semarang, Kamis 21 Januari 2016

Yay besok akhirnya Sinta pulang ke Solo, setelah dua minggu penuh lamanya Sinta pergi liburan bersama dengan keluarga dari pihak ayah.

Pagi itu berjalan lancar seperti biasanya sampai tiba saat kakek berperilaku tidak seperti biasanya.

Kakek seorang purnawirawan, dan bisa dibilang tidak pernah sakit karena badannya segar bugar. Pagi itu, pukul delapan pagi, tiba-tiba saja kakek berperilaku aneh.

"Eyang saya terapi ya"kataku, sambil membawa minyak angin dan tongkat terapi. Aku masih belajar akupresur. Setidaknya aku bisa membantu kalau ada anggota keluarga atau temanku yang sedang kurang enak badan :D hehehe

Loh!

"Err...eyang belum pakai celana pendek, loh"kataku.
"Ha? Masa Iya?"kakek malah balik tanya. Tatapan matanya kosong.

Buru-buru Sinta balik kanan, berlari menghampiri nenek, maksudnya supaya nenek memakaikan celana buat kakek.

"Loh! Bapak belum pakai celana, loh"
"Udah kok, lha ini"
Nenek langsung menangis. "Loh, badannya demam gini!"

Saya takutnya kalau kakek kena gejala Alzheimer.
Nenek langsung memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa kakek, tapi dokternya tak kunjung tiba.

Beberapa tetangga juga sudah tiba di rumah, siap membantu.

"Bagaimana kalau saya supirkan ke RS saja bu?"tawar Pak Hendro, tetangga sebelah rumah.

"Aduh, terima kasih banyak, Pak"kata nenek sembari tersedu.
"Loh ini kuncinya mana, eyangti?"tanyaku. Tidak ada di tempat biasanya.
"Tadi pagi bekas eyangkung manasin mobil, ga tau ditaruh dimana"kata nenek.
Jadi aku dan Bu Diah mencari ke seluruh penjuru rumah. Namun tetap tak ditemukan.
"Ya sudah bu, pakai mobil saya saja"kata Pak Hendro.

Sembari sesengukan, nenek berterima kasih pada Pak Hendro, Bu Diah dan yang lainnya. Aku dan beberapa bapak membopong kakek masuk ke dalam mobil.

Untungnya Kakek dan Nenek sudah memiliki BPJS Kesehatan, lengkap dengan fotokopian kartu BPJS dan juga fotokopi KTP untuk mempermudah syarat administrasi. Segala sesuatunya berjalan lancar.
Karena RS yang kami tuju sudah kehabisan ruang ICU dan HND, maka kakek dirujuk ke salah satu RS yang lokasinya dekat dengan Simpang Lima, Semarang.

Aku dan Nenek ikut dalam ambulans. Aku terus membaca ayat-ayat Al-Quran sementara nenek berdoa untuk keselamatan kakek-rosario digenggam erat dalam tangan.

Akhirnya kami tiba di RS rujukan. Salut sekali dengan Dokter dan Paramedis yang cepat tanggap dalam bertugas :")

Kakek terkena infeksi paru-paru. Kadar oksigen dalam darahnya ada di bawah ambang normal. Karenanya detak jantungnya tak beraturan dan tensinya jadi tinggi.

Pantas saja, karena kurangnya oksigen tersebut kakek jadi linglung, pikirku. Aku jadi ingat saat Almarhum Kakek hampir melompat dari Lantai 6 RS Harapan Kita Jakarta karena hal serupa. Untungnya ada Bude dan Mama yang menjaga. Katanya ada Ninja, dan kakek mau ikutan lompat di atap.

Kok ya ndelalah kunci mobil ketlisut dan HP kami (aku dan nenek) lowbatt -,- mesti kalo ada hal genting ada aja hambatannya.
Sinta langsung mengabari seluruh anggota keluarga kalau kakek dirawat di rumah sakit.

Ayah dan Mama datang sorenya, dan Tante, Bude, Pakde dan lainnya datang besok paginya. Duh, untung saja kakek ga kenapa-napa T..T

Alhamdulillah hari ini kakek sudah bisa dipindahkan dari HND. Kondisi beliau berangsur pulih dengan cepat. Tentu saja, karena kehadiran keluarga membantu dalam proses penyembuhan :D

Untungnya aku masih di Semarang jadi aku bisa bantu nenek dan bisa gerak cepat dalam menangani ini :")

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design