Di suatu sore tepatnya dua tahun yang lalu, disaat Sinta dan kawan-kawan sedang menghabiskan waktu untuk menimba ilmu di tempat kursus, Guru Akuntansi kami, Pak Jo sedang mengawasi seseorang dari kelas kami dengan seksama. Saat diperhatikan, beliau tidak melepaskan kontak matanya sementara anak itu, Dina, tidak menyadari akan hal ini.
"Dina lagi ada masalah sama pacarnya ya? Bapak sarankan supaya kamu tidak terlalu posesif ya"
Seisi kelas yang dari tadi diam mendengarkan kini pun jadi heboh.
"Huaa! Bagaimana bapak bisa tahu?"
Pak Jo tertawa, gelagatnya penuh rahasia.
Teman sebangku saya, Kayla menulis sesuatu di bukunya dengan cepat, lalu memberikannya pada saya.
Isi pesan itu 'Jangan injakkan kakimu di permukaan lantai. Pikirkan sesuatu untuk menutup akses 'dia' ke pikiranmu. Jangan kontak mata. Beliau bisa membaca pikiran'.
Saya langsung bertukar pandang dengan Kayla. 'Kamu yakin?'
Anak itu mengangguk.
Wah, saya pun langsung waspada. Bahaya kalau beliau menceritakan informasi pribadi saya ke teman-teman di kelas ini.
Sekilas saya lalu teringat akan pelajaran Occlumency yang diberikan oleh Profesor Snape untuk Harry Potter dalam novel Harry Potter and the Order of the Phoenix karya J. K. Rowling.
'Wah...berarti ini semacam Legilimency dong ya?'
Oke, jadi yang harus saya lakukan adalah memikirkan sesuatu-atau banyak hal sekaligus, supaya beliau tidak berhasil membacanya. Opsi paling buruk adalah, membuat beliau salah dalam menginterpretasikan apa yang ada di dalam pikiran saya.
By the way, si Kayla ini indigo dan dia tenang-tenang saja dalam menghadapi hal ini. Lah saya!
Jantung mulai berpacu dengan cepat.
'Fokus', pikir saya saat itu. Cuma ini satu-satunya cara pertahanan yang bisa saya lakukan.
Yang menyebalkan adalah, semakin kamu ingin menutupinya, pikiran itu malah terus dan terus muncul.
"Nah, sekarang Sinta"kata Pak Jo dengan ceria.
Saya memberinya tatapan kesal 'sungguh-tidak-adil'.
Beliau tertawa. "Fuuh...capek juga mengeluarkan energi untuk membaca pikiran beberapa dari kalian"
Kata saya "Saya dilewati saja, Pak"
Eh, teman-teman satu kelas malah menyemangati beliau untuk membaca pikiran saya.
'Dasar jahat. Ngga ada solid-solidnya sama sekali'
Beliau tampak sedang berkonsentrasi. Yang aku lakukan?
Bersenandung pelan lagu 'Nightmare' milik Avenged Sevenfold sambil mengingat hal tentang Legilimency.
Beberapa saat kemudian...
"Hm...Sinta mau melanjutkan studi ke akademi ya?"
Anak-anak satu kelas langsung bersorak ricuh.
"Keren!"
"Terbaik!"
"Hebat!"
Saya cuma bisa menghela napas, "Bisa ya, bisa tidak" jawab saya dengan datarnya.
Diam-diam, Kayla mengacungkan kedua jempolnya untuk saya.
"Akademi apa, Sinta, persisnya?"
Bagus, ini berarti interpretasi beliau meleset jauh dari informasi aslinya. Tapi tetap saja saya harus waspada.
"Akademi kan ada banyak macamnya, Pak. Nggak seru dong kalau saya cerita sekarang. Ini buat kejutan"
Terdengar desahan kecewa dari teman-teman. Mereka kepo banget sih! Hahaha =D
Tapi tidak cukup sampai hari itu saja. Beliau masih berusaha untuk mengorek keterangan dari saya.
"Yah Pak, kalau yang namanya kejutan ya tidak untuk didiskusikan dong"kilahku dengan santainya.
Beliau tampak kecewa. "Baiklah kalau ini merupakan privasi buatmu. Bapak tidak akan menanyakannya lagi. Kalau Sinta sudah sukses di masa depan, kabari Bapak, ya"
"Hehehe, pasti"
Di dalam hati, saya menjerit senang. Akhirnya lepas juga saya dari hal ini. Menegangkan sekali!
Yang saya ceritakan tersebut di atas adalah nyata adanya. Dan semoga apa yang saya lakukan untuk pertahanan diri (?) dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
What an unusual experience.
Plot twist-he isn't a muggle-he's a wizard in disguise xD hahaha.
Sabtu, 25 Juli 2015
Sang Pembaca Pikiran dan Muridnya: Cara untuk Melindungi Privasimu
Jumat, 24 Juli 2015
My First Ever C-Rank Mission!
Halo, jumpa lagi dengan Sinta teman-teman semua!
Kali ini, masih membahas topik yang sama, relationship. Sinta akan membahas mengenai misi kelas C yang diberikan oleh nenek saya (aih, kayak apaan aja si Sinta. Misi, katanya :v).
Berawal dari perubahan yang ada pada Bang Bastian, lama kelamaan nenek pun jadi curiga. Ada yang berbeda. Biasa pulang tepat waktu, lah ini nelatnya pake banget. Tugas jadi tambah banyak, ditambah dengan alasan absurd yang dibuat oleh si abang.
Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah tertidur kecuali saya dan nenek, kami mendiskusikan hal ini.
"Abang kamu sering nerima telepon dari anak cewek, Neng"
"Oh,"kataku manggut-manggut, sambil membaca buku Sosiologi (kebiasaan buruk zaman SMA. Jangan ditiru).
"Neng punya petunjuk?"
Perlu dicatat disini bahwa nenekku suka sekali dengan cerita detektif. Hihihi.
Aku mengatupkan buku pelajaran sambil menggeleng.
"Kalau begitu, tolong coba bukain hape abangmu ini dong. Nenek ga bisa buka"
Aku sweat drop saat nenek menyerahkan smartphone itu padaku. Wah nenek hebat juga ya! Padahal itu gadget ga pernah jauh dari saku celananya.
Terdengar dengkur keras dari kamar si abang.
"Buruan, Neng. Nanti abang bangun lagi"
Begitu aku nyalakan...
Loh! Smartphonenya aja dikasih pengaman. Tunggu. Selalu ada cara lain, kan?
Jadi aku berhati-hati supaya tanganku ini tidak menyentuh layarnya. Benar saja. Ada pola yang terlihat di layar yang berminyak itu. Setelah memastikan bahwa apa yang aku lihat itu benar, langsung saja aku buka polanya.
Cling!
Berhasil.
Oke, saatnya melakukan pengecekan.
"Dapat!"kataku.
Jadi aku mencatat nomor anak itu, nomor teman dekat si abang, dan melakukan pengecekan terhadap SMSnya.
'Wah kamvret juga ni bocah ngebohongin orangtua,'pikirku. Selama ini si abang selalu beralibi kalau dia main ke rumah teman dekatnya apabila pulang terlambat.
Oke. Lagi-lagi, sifat protektifku bangkit karena sadar ada yang engga beres disini.
"Oke deh Nek. Saya sudah dapat data target (apaan sih si Sinta). Selanjutnya tinggal melakukan penelusuran lebih lanjut"
Teknologi sudah semakin canggih. Nggak sulit kok nyari anak cewek itu di sosmed.
"Loh? Ini kan laptop abang...bukannya anak ini beda jurusan sama abang ya?"
Oke, langkah selanjutnya adalah melakukan pengecekan pada laptop. 'Lah? Kok memorinya penuh buat Drama Korea? Abang kan kagak suka...'
Setelah melakukan pengamatan, barulah aku sadar kalau selama ini abang aku dimanfaatkan sama anak cewek itu.
Nganterin pulang ke rumahnya (yang jaraknya 10 km dari sekolah si abang), beliin makanan buat dia (terutama oleh-oleh khas dari kotaku), ngerjain tugas dia (padahal beda jurusan. Demi apa. Kapan pinternya?), sampe minjemin laptop dan beliin handphone (yakali bro lu pikir cari duit gampang? Kepala gue aja sampe panas dingin...).
Kesal dengan fakta yang kuperoleh, jadi aku melakukan pengecekan akhir di handphonenya.
Fyuh. Untung sandinya belum diganti.
Aku dapat informasi yang lebih parah lagi.
Anak itu cerita dengan santainya kalo dia habis ditembak sama cowok lain.
Singkat kata, abang aku putus sama anak itu. Dan beberapa hari kemudian, aku dapat informasi kalau dia sekarang pacaran dengan teman baik abang, yang selama ini udah dianggep saudara sama abang aku.
'Ya ampun...anak ini nyebelin banget sih...'
Untungnya semua itu sudah berakhir. Mission accomplished. Ini buat kebaikan abang juga. Tenang aja, Bang. Banyak cewek diluar sana yang jauh lebih baik dari mantan abang. Case closed.
Nenek senang sekali dengan hasil kerjaku (?) dan memintaku untuk selalu menjaganya. Well...ga usah dibilangpun, aku selalu menjaga dan mengawasi saudara-saudaraku, kok.
***
Lalu tibalah masa liburan dimana keluargaku dari luar kota bertandang ke Surakarta Hadiningrat. Seperti biasa, kakekku yang usil mulai membahas tentang 'pasukan inti' dan 'pasukan cadangan'.
Lelah dengan pertanyaan bertubi-tubi dari kakekku yang usil, aku pun menjawab. "Jangankan pasukan cadangan, Kek. Pasukan inti aja engga punya. Saya ini unit tunggal".
Kakek tertawa mendengar jawaban dan melihat ekspresiku yang aneh, campuran antara malu dan sebal.
Kali ini, masih membahas topik yang sama, relationship. Sinta akan membahas mengenai misi kelas C yang diberikan oleh nenek saya (aih, kayak apaan aja si Sinta. Misi, katanya :v).
Berawal dari perubahan yang ada pada Bang Bastian, lama kelamaan nenek pun jadi curiga. Ada yang berbeda. Biasa pulang tepat waktu, lah ini nelatnya pake banget. Tugas jadi tambah banyak, ditambah dengan alasan absurd yang dibuat oleh si abang.
Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah tertidur kecuali saya dan nenek, kami mendiskusikan hal ini.
"Abang kamu sering nerima telepon dari anak cewek, Neng"
"Oh,"kataku manggut-manggut, sambil membaca buku Sosiologi (kebiasaan buruk zaman SMA. Jangan ditiru).
"Neng punya petunjuk?"
Perlu dicatat disini bahwa nenekku suka sekali dengan cerita detektif. Hihihi.
Aku mengatupkan buku pelajaran sambil menggeleng.
"Kalau begitu, tolong coba bukain hape abangmu ini dong. Nenek ga bisa buka"
Aku sweat drop saat nenek menyerahkan smartphone itu padaku. Wah nenek hebat juga ya! Padahal itu gadget ga pernah jauh dari saku celananya.
Terdengar dengkur keras dari kamar si abang.
"Buruan, Neng. Nanti abang bangun lagi"
Begitu aku nyalakan...
Loh! Smartphonenya aja dikasih pengaman. Tunggu. Selalu ada cara lain, kan?
Jadi aku berhati-hati supaya tanganku ini tidak menyentuh layarnya. Benar saja. Ada pola yang terlihat di layar yang berminyak itu. Setelah memastikan bahwa apa yang aku lihat itu benar, langsung saja aku buka polanya.
Cling!
Berhasil.
Oke, saatnya melakukan pengecekan.
"Dapat!"kataku.
Jadi aku mencatat nomor anak itu, nomor teman dekat si abang, dan melakukan pengecekan terhadap SMSnya.
'Wah kamvret juga ni bocah ngebohongin orangtua,'pikirku. Selama ini si abang selalu beralibi kalau dia main ke rumah teman dekatnya apabila pulang terlambat.
Oke. Lagi-lagi, sifat protektifku bangkit karena sadar ada yang engga beres disini.
"Oke deh Nek. Saya sudah dapat data target (apaan sih si Sinta). Selanjutnya tinggal melakukan penelusuran lebih lanjut"
Teknologi sudah semakin canggih. Nggak sulit kok nyari anak cewek itu di sosmed.
"Loh? Ini kan laptop abang...bukannya anak ini beda jurusan sama abang ya?"
Oke, langkah selanjutnya adalah melakukan pengecekan pada laptop. 'Lah? Kok memorinya penuh buat Drama Korea? Abang kan kagak suka...'
Setelah melakukan pengamatan, barulah aku sadar kalau selama ini abang aku dimanfaatkan sama anak cewek itu.
Nganterin pulang ke rumahnya (yang jaraknya 10 km dari sekolah si abang), beliin makanan buat dia (terutama oleh-oleh khas dari kotaku), ngerjain tugas dia (padahal beda jurusan. Demi apa. Kapan pinternya?), sampe minjemin laptop dan beliin handphone (yakali bro lu pikir cari duit gampang? Kepala gue aja sampe panas dingin...).
Kesal dengan fakta yang kuperoleh, jadi aku melakukan pengecekan akhir di handphonenya.
Fyuh. Untung sandinya belum diganti.
Aku dapat informasi yang lebih parah lagi.
Anak itu cerita dengan santainya kalo dia habis ditembak sama cowok lain.
Singkat kata, abang aku putus sama anak itu. Dan beberapa hari kemudian, aku dapat informasi kalau dia sekarang pacaran dengan teman baik abang, yang selama ini udah dianggep saudara sama abang aku.
'Ya ampun...anak ini nyebelin banget sih...'
Untungnya semua itu sudah berakhir. Mission accomplished. Ini buat kebaikan abang juga. Tenang aja, Bang. Banyak cewek diluar sana yang jauh lebih baik dari mantan abang. Case closed.
Nenek senang sekali dengan hasil kerjaku (?) dan memintaku untuk selalu menjaganya. Well...ga usah dibilangpun, aku selalu menjaga dan mengawasi saudara-saudaraku, kok.
***
Lalu tibalah masa liburan dimana keluargaku dari luar kota bertandang ke Surakarta Hadiningrat. Seperti biasa, kakekku yang usil mulai membahas tentang 'pasukan inti' dan 'pasukan cadangan'.
Lelah dengan pertanyaan bertubi-tubi dari kakekku yang usil, aku pun menjawab. "Jangankan pasukan cadangan, Kek. Pasukan inti aja engga punya. Saya ini unit tunggal".
Kakek tertawa mendengar jawaban dan melihat ekspresiku yang aneh, campuran antara malu dan sebal.
"Hohoho. Begitu ya?"kata kakekku. Matanya berkilat usil. Beliau pasti menyangsikan ucapanku.
"Huf, terserah kakek saja deh"kataku lelah.
***
Jadi, kalau ada teman-teman dekatku yang menelepon (Rosyid, Alex, Adi, Otong, Denis, dan lainnya) aku melakukan dua opsi: 1. Lari secepat mungkin ke tempat tersembunyi (gudang, loteng...hahaha dasar aneh) tanpa ada yang melihat atau 2. Mengabaikan panggilan itu, lalu membalasnya dengan pesan singkat sambil menjelaskan situasi.
Rasanya jadi tidak enak saja, apalagi melihat abang yang mengawasiku dengan inosensnya (apanya yang inosens, hah? Hahaha :p)
Demikian cerita mengenai misi yang diberikan oleh nenek saya. Setidaknya teman-teman yang saya sebutkan tadi di atas bisa mengerti dan memahami situasi saya :")
Salam! :)
Semoga harimu menyenangkan. Terima kasih atas kunjungan dan juga waktunya :D
Label:
Keluarga,
Sinta's Sherlock Mode
Langganan:
Komentar (Atom)