Selasa, 16 Februari 2016

Loviena dan Gayatri

#ThoseWhoMadeMyDay

Sekolah Dasar

Mereka berdua ini sahabatku sejak aku kelas 1 SD hahaha.

Rumah Loviena bersebelahan dengan SD kami, jadi tinggal jalan kaki saja untuk pulang perginya.

Gayatri bukan orang Solo. Dia berasal dari Jakarta.
Ketika ditanya dengan bahasa jawa oleh teman-teman lainnya, dia cuma bisa bilang "aku engga ngerti"katanya sambil tertawa.

Kami tumbuh besar bersama. Selulus SD pun kami masih saling berkomunikasi satu sama lainnya.

•Loviena

Gadis kelahiran Solo yang merayakan ulang tahunnya tiap 4 November dan kini berusia 20 tahun ini ngefans banget sama Lee Min Ho. Dia juga suka banget sama seri Naruto. Mature, cerdas, lucu, dan baik hati.
Loviena sering sekali memenangkan beragam kejuaraan akuntansi, baik semasa SMA dulu sampai dengan sekarang.
Dia anaknya lucu banget wkwkwk bikin ketawa deh hahaha

•Gayatri

Dara kelahiran Jakarta, 19 tahun yang lalu ini anaknya seru, supel, ramah, dan ngehitz badai wkwkwk.
Hari ulang tahun Gayatri diperingati setiap tanggal 1 Mei, 14 hari sebelum Sinta berulang tahun.
Suka banget ngasih tips dan trik memakai make up yang benar di internet. Lagu favoritnya? Hoteline Bling wkwkwk


Buat Loviena dan Gayatri, kakak-kakak tersayang:

You're beautiful just the way you are, and you guys don't need to be a totally different person (inside and outside) to make that special one attracted to you. Every people is amazing and have their own charms. You guys are beautiful, kind, and sweet so no wonder why you two have tons of secret admirers!
It won't called as secret admirer if they confessed to you, tho. Ahahaha.

Keep your spirit okay? 

Berjuanglah! :D

Senin, 15 Februari 2016

Halo, disini Sinta Alexandria N. \(^o^)/

Semangat pagi readers~ selamat menjalankan aktivitas \(^o^)/

Kali ini Sinta akan membuat pos mengenai sahabat dan teman-teman dekat Sinta dari zaman SD sampai dengan SMA ya hehehe~

Stay tune :)

Kalian bisa baca di #ThoseWhoMadeMyDay

See ya \(^_^)/

Minggu, 14 Februari 2016

Julian's Birthday \(^o^)/

Bulan ini Julian ulang tahun, loh. Yay! Tambah tua aja dia. Hahaha! :p

Dia konyol banget sih, asli!

Bilang kalo tanggal ulang tahunnya yang tercantum di buku kenangan salah cetak lah apalah hahaha.

Terus bilang "engga usah repot-repot ngirim kesini :p"
Padahal aku tau kalo dia sebetulnya pengen banget (ngarep-arep).

Wuah! Julian bener-bener baik loh (walau tampangnya sangar dan dingin begitu hahaha. Jangan bilang kalau aku yang ngomong).

Aku bakal ngasih hadiah sama snack-bukan cuma buat dia, tapi juga buat teman-teman kami :D hehehe.

Lalu, tak lupa aku bakal kasih koordinat kotaku di bungkus pengiriman nanti. wkwkwk masa mereka ga tau Solo ada di sebelah mananya Jogja :")

Dikira mereka aku dari Solok, dan bukannya Solo.

Hadiah buat Julian?

Hm...ada deh! Semoga dia suka \(^o^)/

A-apa?! Aku ga suka sama Julian tau! Ngarang aja lu pade. Like, we're besties!

Aku masih ngebuat hadiahnya. Semoga belum keburu deadline. Hehehe.

Doakan semoga Juli suka ya \(^o^)/

P.S. (namanya Julian, tapi dia lahir di Februari :v)

Sabtu, 13 Februari 2016

Bagian 2: Acara Perkemahan Tahunan

Mira dan Senandung Senja
Written by Sinta Alexandria N.

Bagian 2: Acara Perkemahan Tahunan

Sejak mimpi tadi malam, Mira tidak bisa memejamkan matanya kembali. Ia melirik kalender meja di samping tempat tidurnya.
Gadis itu menghela napas.
Dia ingat bahwa hari ini dia dan teman-teman sekolah seangkatannya wajib mengikuti acara perkemahan tahunan yang diselenggarakan oleh pihak sekolah.
Dia suka berkemah dan melakukan kegiatan di luar ruangan.
Namun ada satu hal yang mengganggunya, yang membuatnya enggan datang.

Ding!

Ponselnya berbunyi.

Mira sudah bangun kan? Jangan sampai ketiduran ya hihi

-Risa

Gadis itu cuma bisa geleng-geleng kepala. Sahabatnya itu pasti terlalu excited sampai terbangun sepagi ini.

"Kamu jangan sampai ketiduran di jalan ya. Ga mau kan kalau truk yang membawa kita menurunkanmu kembali di sekolah? Hahaha"

Alih-alih bus, banyak sekolah yang kerap kali menggunakan truk pasir sebagai pilihan transportasi yang digunakan untuk mengantarkan murid-murid ke lokasi perkemahan.

Masyarakat yang mereka temui dalam perjalanan bakal dengan usil mengganggu anak-anak itu: meletakkan jari telunjuk secara horizontal di leher mereka lalu melakukan gerakan memotong seolah berkata 'kalian kayak sapi aja'

Mira sudah mempersiapkan semua ini jauh-jauh hari. Ransel dan tas pramuka sudah bertumpuk rapi di sudut ruangan.

Dan seragam pramuka lengkap dengan atributnya sudah dilipat dengan rapi di atas meja belajar.

Ding dong ding dong!

Risa menelepon.

"Halo, Risa-"sapa Mira.
"MIRA! SELAMAT PAGI, SIS!"

Mau tidak mau Mira menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara teriakan nan cempreng itu bisa merusak pendengarannya.

"Ada apa nelepon pagi-pagi?"tanyanya datar.

"Kamu tau ga? Nanti kita bakal mencari jejak di hutan loh! Asyik kan?"

"Asyik banget! Aku paling suka acara itu!"seru Mira antusias.

"Nanti-juga ada jurit malam loh! Asyik banget lah hahaha. Semoga aku bisa sekelompok sama Wisnu ahahaha!"

Mira cuma bisa ha-ha-ha saja.

Kecil kemungkinannya, Risa.

Tapi dia cuma mengatakan hal itu dalam hatinya.

Begitu mentari muncul di balik perbukitan, Mira mulai beranjak membereskan tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Sabtu, 06 Februari 2016

Bagian 1: Pertemuan yang Sudah Ditakdirkan

Mira dan Senandung Senja
Written by Sinta Alexandria N.

Bagian 1: Pertemuan yang Sudah Ditakdirkan


Pemandangan hutan tropis yang indah dan sunyi menghiasi sekeliling Mira. Udaranya segar dan juga lembab. Kabut tipis menggantung di udara pagi itu.
Mau tak mau, gadis itu tersenyum sendiri. Hutan dan gunung adalah tempat favoritnya, jauh melebihi rasa sukanya kepada pantai dan laut. Meskipun demikian, dia tak dapat dikatakan sebagai seorang introvert hanya karena dia tidak menyukai pantai.

Mira tahu pemandangan yang dilihatnya ini adalah mimpi semata. Ia sering sekali mengalami mimpi seperti ini-sebuah mimpi dimana semua halnya sulit untuk dibedakan dengan kenyataan karena terasa terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi.

Namun ada satu hal pasti yang diketahui Mira: Dalam mimpi, hal-hal paling konyol atau irasional lebih sering terjadi di dunia ini dibandingkan dengan dunia nyata.

Segala sesuatunya penuh warna dalam mimpi-mimpi Mira, dan begitu hidup hingga ia tenggelam di dalamnya.

Kresek, kresek!

Suara dedaunan di belakangnya membuat gadis itu secara refleks memutar badannya ke sumber suara.

Gadis itu membeku di tempatnya, tak mampu bergerak.
Buat apa sembunyi, toh ini kan mimpi?

Seseorang keluar dari semak-semak.
Ekspresinya bingung.

"Kamu sedang apa disini?"

Mira sangat terkejut saat ia melihat seorang gadis berambut cokelat tiba-tiba saja melongokkan kepalanya.

"Aku ga tahu-tiba-tiba saja aku ada disini..."

Gadis itu tertawa.

"Kamu ini aneh ya. Hahaha"

"Kamu sendiri kenapa sembunyi di semak-semak begitu, Dik?"

Mira ikutan bersembunyi di sampingnya.

"Aku sedang sembunyi dari kakakku-dia sedang mengumpulkan dedaunan untuk dibuat herbarium"

"Waah...aku juga suka buat herbarium!"

Gadis itu mengernyit.

"Kamu ini pribumi atau keturunan eropa sih? Untuk ukuran pribumi, kamu tahu banyak ya"

Mira mengernyitkan dahinya. Anak ini kurang ajar sekali sih? Memangnya kenapa kalau pribumi tahu banyak hal? Masalah?

Tunggu...
Pribumi atau keturunan eropa?

Mira kini baru sadar bahwa gadis itu memakai gaun dari tahun 1800-an.

"Mein Gott bajumu vintage sekali!"seru gadis itu.

"Kupikir bajumu yang aneh! Ini sedang tren tahu. Sekali-sekali kamu harus mengikuti perkembangan fashion"

Mira tertegun.
Ini mirip mimpi sih...tapi jangan-jangan...akunya sendiri yang jadi time traveller?

Gadis itu merinding. Wajahnya memucat.
A-aku...time traveller? Bagaimana bisa?

Gadis di sampingnya tengah asyik mengintai seseorang. Rambutnya dikepang dua dan ia terlalu nyata untuk disebut sebagai hantu.

"Lihat-kakakku sedang mencariku"kata gadis itu.
"Oh ya. Siapa namamu? Aku Matilda"katanya ramah.
"Mira"jawab Mira sambil menjabat tangan Matilda.

"Mana sih kakakmu? Dari sini aku tak bisa melihatnya"
"Itu loh"

Deg

A-anak...bukan. Pemuda itu!
Aku sering melihatnya dalam mimpi.
Apa dia akan mengenalku?
Jantung Mira berpacu dengan kencang. Ini semua terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi!

Rambut cokelat ikal yang sama.
Pipinya merona dan napasnya terengah-engah.
"Matilda! Kamu dimana?"

"Itu...Jan kan?"tanya Mira ragu.
"Loh? Kamu mengenal Jan?"Matilda bertanya balik.
"Well gimana ya...kenal bukan kata yang tepat..."

"Loh-Matilda kamu sedang demam ya!"
Semburat merah di pipinya terlalu samar untuk dilihat. Dan Mira baru saja mengetahui hal ini.

Cepat-cepat gadis itu melepas jaketnya dan memakaikannya ke Matilda.

Gadis itu lalu berdiri, dan berteriak "Sebelah sini, Jan!"

Jan tertegun. Ia sendiri sering melihat Mira dalam mimpi-mimpinya. Ia mengira bahwa matanya telah mengelabuinya.

"Ayolah, Jan! Gerak cepat dong-adikmu demam nih!"Mira mengomel.

Pemuda itu bergegas menghampiri  mereka berdua.

"Matilda, berapa kali sudah kubilang jangan bersembunyi seperti itu! Lain kali aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi ke hutan"

Jan menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi adiknya. Demamnya tinggi.

"Aku cuma mau main sama kamu, Jan!"
"Iya kita main di rumah saja, ya. Jangan main di hutan dulu, demammu belum turun"

Ia lalu berbicara dengan Mira.

"Terima kasih banyak, ya. Matilda ini memang nakal dan keras kepala. Siapa namamu?"

"Mira"jawab gadis itu dengan gugup. Ia selalu gugup jika harus bicara dengan laki-laki yang seusia dengannya.

Ia terus saja memandangi sepatu botnya.

"Kita sering bertemu, kan di dalam mimpi"Jan nyengir lebar.
"Aku Pieter Jansen. Kamu bisa memanggilku Jan"

"Senang sekali bisa bertemu denganmu, Jan. Benar kan? Kupikir hanya aku saja yang bermimpi seperti itu"

Dia tertawa. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu ya, Mira"

Ditakdirkan?

Dia tersenyum pada Mira. Gadis itu merona merah.

"Jan kamu ini ngapain sih-tuh Mira jadi ikutan demam kan?"

Maksud Matilda adalah supaya kakaknya menyudahi pembicaraan karena udara disini dingin sekali. 

"Kita kan bisa mengajaknya main ke rumah"

Jan tampak menimbang sejenak.

"Aku tidak yakin apakah Mama dan Papa akan mengizinkannya..."

"Begitu ya,"kata Mira. Ia tersenyum kecut.
Lagipula, ini kan zaman penjajahan Belanda.
"Tidak apa-apa, Kok. Oh ya, adakah kiranya pemukiman pribumi terdekat di sekitar sini, Jan?"

"Mira tinggal ikuti jalan ini saja lalu belok ke kanan. Disitu ada sebuah pemukiman besar"katanya.
"Aku bisa mengantarmu kesana-"

Mata Mira melebar ketakutan.
"Sungguh tidak apa kok, Jan. Aku bisa sendiri"
"Hutan ini banyak gerombolannya loh. Yakin?"
"Aku ini master bela diri. Aku bisa mencari jejak pula. Tidak usah khawatir"dia tersenyum.
"Tapi aku khawatir kalau Mira kenapa-napa"
Matilda memicingkan matanya. Jan suka sama Mira kah?
"Lebih baik Jan membawa Matilda pulang. Kasihan dia. Aku bisa diandalkan kok!"

Dengan berat hati Jan meninggalkannya.
"Baiklah kalau begitu, Mira. Hati-hati, ya"
Gadis itu mengangguk, lalu berbalik.

Saat itu juga ia terbangun dari tidurnya.

"Hah? Yang barusan itu mimpi? Kenapa nyata sekali!"
Ia berusaha sebaik mungkin mengatur napasnya. Tubuhnya terasa lelah sekali.

Pada akhirnya, ia bisa bercakap-cakap dengan Jan.
Ia sering sekali bertemu dengan pemuda itu dalam mimpi-mimpinya, begitu pula dengan Jan.
Biasanya, mereka saling melempar senyuman tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dalam hati, Mira masih bertanya-tanya, hal apakah kiranya yang harus ia pecahkan?
Adakah kiranya permintaan terakhir dari Jan atau Matilda yang belum terlaksanakan?

Gadis itu berguling ke kiri sembari mengintip langit malam dari celah tirainya.
Pesan apakah yang hendak kau sampaikan padaku, Jan?


Jumat, 05 Februari 2016

Jana's Music Project

Lagi having some girl's talk sama Jana nih ceritanya hahaha.

Beberapa hari lalu, Jana memintaku untuk membuat lirik lagu mengenai seseorang yang datang di hidup kita dan membuat hari-hari kita lebih berwarna

(Ya Allah kok aku ngeblush gini sih?)

Dan aku pun bercerita padanya mengenai suatu hal, tetapi sebelumnya memintanya berjanji untuk tidak menceritakan hal ini ke anak-anak KMB lainnya (walaupun Ayu dan Fiona sudah tau soal ini-tapi Rahadian dan Menir bakal meledekku habis-habisan)

Jana ini pandai menyanyi loh. Dia punya suara emas yang enak didengar. Dan kali ini, dia hendak menyusun susunan nada untuk lagu-lagu buatan teman-temannya.

Ini lagu yang aku sumbang untuk projectnya Jana. Hehehe:

I still remember how we meet for the very first time
You greeted me with such a warm and friendly smile

Gazing into your kind onyx eyes
Suddenly I feel like I have already know you, long time ago

Your smile shine the brightest
You love to talk to me all the time
And while you talk, I will gaze into your eyes,
Asking to myself why them sparkling with a kind of happiness I've never seen before

Although now we separated by distance, it seems the distance itself makes us closer than before

You will call me and talk the way we used to
Usually about random things, mostly about life

Your eyes remain the same, it lit with something that I don't know.
Then you said to me that you like my voice.
I blushed a little, unable to look at the screen. Murmured a 'thank you' for your compliment

I wish it wasn't a videocall so you don't have to look at my embarassed expression.

I smiled happily when you ended the call.
I never have this kind of feeling before.
It's happiness, I know

But somehow, it warms my heart
Is it what they call as love?
I don't know
Since I always suppress my feelings for a reason.

I thanked God for His blessings.
I never feel this happy before
You make my day more colorful than before
And warmed my heart with your kindness

Thank you for showing up :)

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design