Untuk semuanya.
Jangan pernah percaya sama orang yang belum kamu kenal sama sekali!
Jangankan orang asing. Mereka yang kamu kenal aja belum tentu dapat dipercaya -.-
Jangan ngasal minjemin sertifikat sama ID Card kamu juga! (Intinya jangan minjemin surat-surat berharga, uang, atau perhiasan!)
Sering banget orang-orang asing datang ke rumah sini karena ulah seseorang (si pelaku!). Beragam : Mulai dari penegak hukum, pihak bank, sampai korban penipuan dari si pelaku.
"Mas,"kataku lelah. "Ini rumah almarhum kakek saya, bukan rumah dia. Mas salah alamat. Siapa yang ngerujuk alamat sini?"
Sebuah pertanyaan retoris, yang aku sendiri sebenernya udah tau jawabannya.
"Bapak *menyebutkan nama*"
Aku mengepalkan tanganku. Ngeselin banget sih tu orang?
"Dilaporkan saja ke pihak berwajib, Pak"saranku.
"Boleh kami masuk sebentar untuk menjelaskan kronologi kami, Mbak? Kami datang jauh-jauh dari *menyebutkan nama tempat*. Kami mau menyelesaikan ini dengan cara kekeluargaan"
"Baik"
Aku dan keluargaku ga ada hubungan sama sekali dengan masalah ini. Karena kasihan beliau berdua udah usaha dateng jauh-jauh, makanya aku persilahkan mampir. Seenggaknya ada informasi penting yang dapat berguna buat mereka.
"First of all, we have nothing to do with him, Pak. Rumah ini, adalah rumah almarhum kakek saya. Dan rumah dibalik tembok pemisah itu, adalah rumahnya. Selalu saja ada orang yang mencarinya, saya sendiri sampe capek pak njelasin ke semua orang kalau rumahnya itu yang sebelah sana. Bukan sini"tegasku.
Lalu kedua bapak itu menjelaskan kronologi kejadiannya.
Pelaku merupakan orang baik dan taat agama, kata beliau. "Itu mah kedok, Pak. Bapak bisa lihat kok dari wajah dia: gampangnya sih, mukanya bragajul apa kagak. Dari wajah bisa keliatan gimana aslinya orang itu"
"Ya namanya kami juga orang awam, Mbak. Kami tertipu dengan kebaikan dan juga ketaatannya. Bapak *nyebut nama* sudah tinggal di rumah saya sejak empat bulan lalu"
"Hmm..." (jadi inget sesuatu)
Aku menanyakan keberadaan si pelaku dan njelasin kalo banyak orang yang salah alamat hingga datang ke tempat yang salah.
Keterangan yang kudapatkan dari informan-yang notabene adalah orang dekat si pelaku saat melayat ke pemakaman kakekku adalah "ga tau pergi kemana lagi. Ceritanya panjang"
Ga tau apa pura-pura gatau, nih? -,-
"Lompatin aja pagernya, Pak. Saya yakin keluarga pelaku (yang sama-sama liars-nya) ada di dalam"kataku sebal. "Bapak sekalian bisa berunding dengan mereka"
"Bapak bisa melaporkan dia ke pihak berwajib, Pak. Kan ada alat pelacak sinyal"terangku. "Jadi nanti bisa ketauan lokasinya dimana"
"Tapi jangan percaya sama so-called pelacak sinyal yang dijual di internet, Pak. Itu sama-sama ga dapet dipercaya"
"Baiklah, Mbak...terima kasih atas informasinya. Kami pamit dulu"
"Yang sabar ya, Pak. Semoga pelakunya cepat tertangkap dan bapak diberi kekuatan oleh Allah dalam menghadapi cobaan ini"
"Terima kasih, Mbak. Mari"
Kasian kedua bapak itu jauh-jauh dateng kemari.
Tadi aku berusaha ngecek wifinya (wifi di kediaman pelaku-red), siapa tau mereka lupa matiin. Kudengar Macbook bisa dijadiin hotspot Wi-Fi, dan aku pernah liat mereka pake itu (pake Macbook-red). Logikanya, kalo nyala, berarti mereka dirumah. Oh, emang ga ada ternyata.
Gyah, hectic deh...
Kan bener.
Selang setengah jam, WiFi mereka kedeteksi sama hpku.
Tetep waspada ya gaes...
0 komentar:
Posting Komentar