Minggu, 26 Juni 2016

Permintaan Terakhir Nenek

Dari Nenek,

Untuk cucu-cucunya, sepuluh-hingga dua puluh tahun yang akan datang.

Sore itu, dia menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah lama yang terletak di jantung kota.

Rumah dimana dia disayangi dan tumbuh besar.

Sebuah pohon tua menaungi halaman depannya, telah berdiri disana sedari masa kerajaan, ratusan tahun yang lalu.

Pohon yang sengaja ditanam sebagai simbol dari suatu pesan rahasia-dipakai oleh para pejuang pada masa perang nan kelam.

Nenek itu membuka pintu rumahnya. Matahari kecilnya tengah berdiri di depan pintunya-lengkap dengan bungkus makanan super besar di tangan.

Katanya, anak itu hendak buka puasa bersama dengan neneknya.

Dan seketika, nenek itu menangis.

Kata beliau, semenjak kematian kakek, nenek selalu merasa kesepian.

Beliau sering sekali kesulitan untuk tidur di malam hari.

Karena insomnianya itu, segala hal-hal kelam yang pernah beliau alami di masa lalu pun menghantuinya.

Si Matahari kecil menenangkan neneknya. Karena bahaya sekali, kan...kesedihan dapat menurunkan tingkat kesehatan beliau dan bahkan bisa menimbulkan depresi.

Matahari membawa makanan-makanan lezat kesukaan neneknya.

Si manis yang hangat dan ceria telah menentramkan hati tua neneknya.

"Nak, jika telah tiba masanya nanti, nenek pergi meninggalkan dunia...ada satu hal yang nenek minta. Tolong sedekahkan al-fatihah setiap selesai shalat, untuk nenek dan kakek"

Mendengarnya, air mata si matahari mulai meleleh dari kedua mata cokelatnya.

Selama ini, nenek selalu kesepian.
Dan sibuknya rutinitas membuatnya hanya mampu mengunjungi nenek seminggu atau dua minggu sekali.

Jadi dia menangis seraya memeluk neneknya dan meminta maaf karena salahnya-lah hingga beliau kesepian seperti ini.

Karena sebetulnya, kesibukan dan rutinitas harian bukanlah alasan untuk tidak mengunjungi beliau.

Kamis, 02 Juni 2016

Sitaresmi dan Lintang saling bertukar pandang. Tatapan mereka tertuju pada seorang anak manusia dengan langkah pelan nun di sana.

"Dua tahun sudah berlalu,"terang Lintang.
"Aku tak menyangka waktu akan beranjak secepat itu, Kak"

Sitaresmi mengangguk setuju. Ia tengah asyik mengamati manusia itu.

"Kalau kau lihat baik-baik, kamu akan melihat kesedihan di raut wajahnya yang datar itu"
"Tapi bahkan matanya hampa tanpa ekspresi,"tukas Lintang.

Lintang berpendar terang sesaat. "Kau benar-ada kesedihan yang samar bahkan dalam sorot matanya"

Jauh dari dua kaka beradik itu, seorang manusia tengah berdiri di depan pintu rumahnya.

Tubuh tegapnya tampak lelah dan ia pun menghela napasnya.

"Aku pulang!"serunya seraya membuka pintu.

Selamat datang!
Kakak tumben baru pulang jam segini. Sibuk kah?
Kak, Ibu ingin dengar kisahmu tentang kegiatanmu seharian tadi-
Kakek juga mau dengar...hehehe...
Pasti capek, ya? Nenek sudah buatkan teh untukmu
Mandi dulu, Nak-jangan makan dulu baru mandi nanti kamu sakit-
Bibi dan Ibumu membuat masakan kesukaanmu sore ini-
Paman habis menemukan spesies hewan baru, lho...kamu mau lihat fotonya? Makan dulu ya, tapi...

Alih-alih jawaban yang biasa ia terima dari keluarganya...
Kegelapan total-lah yang menyambutnya.

Tempat ini besar dan nyaman-tapi tidak ada kehangatan yang diberikan oleh keluarga di dalamnya.

Wajah itu tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Tetapi Sitaresmi dan Lintang yakin sekali bahwa mereka melihat kilau air mata yang membasahi pipinya tepat sebelum ia masuk ke dalam rumah.

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design