Sinta tergelak saat melihat foto sahabatnya itu.
Tunggu dulu. Sahabat? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?
Ia berusaha untuk mengingat.
Mereka pernah bertemu, lama berselang, dan menghabiskan waktu yang cukup lama pula. Bersama-sama berbagi suka dan duka. Berjuang untuk mencapai impian yang sama.
Ia tahu betul bahwa ia sangat senang berada bersama dengan mereka-bagaimana si gadis yang merupakan figur kakak selalu saja membuat kelompok remaja itu tertawa dan bagaimana si pemuda selalu saja menjahilinya.
Namun hanya itu yang diketahuinya. Bukan diingatnya.
Hingga muncul pertanyaan, pernahkah ia bertemu dengan mereka? Kapan persisnya? dan apa benar dia pernah bersekolah disana? Hebat sekali rasanya ya...
Sinta selalu berusaha untuk mengontak mereka semua, tapi usahanya itu tidak akan bertahan lama. Mereka terkesan menghindari Sinta akan suatu hal. Kesibukan kah? Atau hal lainnya?
Hanya ada satu yang masih berkomunikasi dengannya-si pemuda usil itu. Kapanpun gadis iu berusaha mengontaknya, pemuda itu selalu saja menemukan cara untuk menjahilinya. Misalnya, pada Idul Adha yang lalu.
"Cie yang tahun ini qurban perasaan"katanya. Sinta tertawa miris. Di bawahnya ada tulisan, "Umur sembilan belas dan ga pernah pacaran? Jomblo (perawan tua) abadi nih ye. Hahaha"
Bayangan akan anak gadis di masa sebelum kemerdekaan berusia 19 tahun yang belum menikah tebayang di benak Sinta. Ia ingat betul bagaimana buyutnya menyiramkan air kembang ke salah satu neneknya pada tengah malam supaya tidak menjomblo. Macam mana...
Jadi ia protes mengenai arti jomblo yang sesungguhnya adalah perawan tua dan bagaimana anak muda sekarang menggunakannya untuk arti yang sangat jauh dari itu. Ia menambahkan kalau yang demikian tidak diperbolehkan di dalam agama mereka. Pemuda itu pun terdiam. Ia sadar kalau bercandanya sudah kelewat batas.
Mereka berdua adalah dua orang sahabat yang dipisahkan oleh jarak-satu di Barat dan satu lagi di Timur. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang sekarang ini, jarak bukan lagi halangan dalam berkomunikasi.
Celakanya, Satria yang memang short tempered dari lahir, melirik sekilas layar smartphone kakaknya.
"ENAK AJA LU KATA KAKAK GUE JOMBLO ABADI-KENA OMONGAN SENDIRI TAU RASA LU C*EG!"katanya dengan wajah merah padam. Sinta menenangkan adiknya itu, berkata kalau temannya itu kalau bercanda suka kelewat batas.
Jadi, yang dilakukan Sinta hanyalah mendoakan sahabat-sahabatnya itu. Ia yakin sekali kalau mereka memiliki alasan khusus dibalik itu semua. Demi kebaikan mereka bersama. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia bisa merasakan bahwa mereka juga merindukannya.
Gadis itu berbisik lembut seraya menatap ke langit malam yang bertabur bintang:
Jika pada malam-malam sunyi kalian merasa sedih karena kalian berpikir bahwa tidak ada yang pernah memikirkan atau bahkan merindukan kalian selain keluarga dan orang terdekat...percayalah akan satu hal. Bahwa diluar sana, ada seorang sahabat lamamu yang selalu mendoakan dan merindukanmu.
Semoga di masa depan nanti, kita semua dipertemukan kembali oleh Allah SWT. Aamiin yaa Rabbal alamiin.
Salam,
Sinta Alexandria.
0 komentar:
Posting Komentar