Selasa, 15 November 2016

Sasmitha dan Alunan Kidung Bulan



Fiksi one-shot ini didedikasikan untuk sahabat saya yang berulang tahun pada 4 November ini, Mitha \(^o^)/
Disclaimer: Naruto dan seluruh karakter yang ada di dalamnya adalah milik Masashi Kishimoto. Disini, author hanya punya OC (original character) dan jalan cerita saja.
Lagu Lir-ilir adalah milik Sunan Kalijaga
Pairing: OC (Sasmitha) x Otsutsuki Toneri
Genre: Romance
A/N: Semoga Mitha suka yaa sama fanfiksi buatan saya~
 

Malam itu, entah sudah keberapa kalinya, Sasmitha memandangi bulan keperakan yang bersinar dengan indah di langit malam. Bagi gadis itu, menatap bulan adalah rutinitas yang tidak boleh ia lewatkan setiap harinya.
“Hanya dengan memandanginya, hatiku menjadi tenang dan segala penat yang ada dalam pikiran pun mereda”, kata gadis itu setiap kali sahabat dan teman-temannya bertanya mengapa ia begitu menyukai bulan.
Bulan yang tengah ia pandangi kala itu tiba-tiba berpendar. Gadis itu lalu mengusap kedua matanya. Mata hitamnya menatap serius. Aku tidak mungkin salah lihat, pikirnya.
Ia lalu mengerling ke arah meja belajarnya. Jam meja menyala-dalam-gelap miliknya menunjukkan pukul 23.00.
Gadis itu lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Tanpa ia ketahui, sesosok bayangan menyeruak masuk dari jendela kamar yang ia biarkan terbuka. Sosok itu menaruh sesuatu di ambang jendela.
Sasmitha pun kembali ke kamarnya.
“Eeh? Apa?”
Ia menemukan sebuah wayang golek yang berdiri manis di ambang jendelanya. Ia tidak begitu awam dengan karakter pada wayang golek, tapi dari pakaian yang dipakai, ia pasti tokoh putri raja atau bidadari.
“Oh, mbak Sasmitha sudah selesai?”tanya sebuah suara merdu.
Sasmitha kaget sekali. WAYANG GOLEKNYA BISA BICARA.
Sasmitha memandang wayang itu sesaat. Nampaknya ia tidak jahat. Ia lalu menjawab sopan, “Um...iya...begitulah...maaf sebelumnya...siapa namamu?”
Wayang itu berdiri anggun lalu berkata, “Aku Sitaresmi. Senang sekali rasanya bisa kembali ke Bumi. Aku ditugaskan oleh Pangeran Bulan untuk menjemputmu”
Gadis itu menelengkan kepalanya.
“Tapi...hari sudah malam...”
            Kepala kayu wayang itu menggeleng. “Tapi pangeran benar-benar ingin bertemu denganmu. Karena...dia tahu...dua jam lagi usiamu bertambah”
            Sasmitha takjub mendengarnya. “Bagaimana ia bisa tahu?”
            “Oh, Pangeran tahu banyak hal,”tawa Sitaresmi. “Dan seperti halnya dirimu, ia suka sekali memandangi Bumi di saat yang sama denganmu. Ayo, Sasmitha...kita harus bergegas”
            “Ah...oke...tapi beri aku waktu lima menit saja untuk berganti pakaian”
            “Baiklah,”kata Sitaresmi ceria.
            Usai berganti pakaian (dan juga berdandan), Sitaresmi lalu menuntun Sasmitha menuju ke hutan yang ada di dekat perkampungan Sasmitha. Entah ia salah lihat atau bagaimana, berkali-kali Sasmitha melihat Sitaresmi mengumpulkan cahaya bulan yang selanjutnya ia gunakan untuk menerangi jalan.
            “Sitaresmi...bisa memanipulasi cahaya?”
            “Semua boneka yang dikendalikan Pangeran bisa melakukannya,”katanya bangga. “Ah, kita hampir sampai...”
            Sasmitha dan Sitaresmi tiba di lapangan terbuka yang ada di tengah-tengah hutan. Dan tepat di tengahnya, berdiri sebuah pohon tua yang menjulang tinggi.
            “Kita harus menyanyikan lagu daerah tentang bulan...”
            “Apa?”
            “Begitu cara mainnya...para tetua yang mengatur hal ini. Sasmitha tahu, kan?”
            “Tentu saja”
            Sasmitha menarik napas dan mulai menyanyi:
            Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.
Dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir,
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore,
Mumpung padhang rembulane mumpung gedhe kalangane.
Yo surako...surak iyo...
            Begitu Sasmitha selesai menyanyi, sulur-sulur yang menutupi celah yang ada di pohon itu mulai membuka. Batang kayunya berbunyi krek pelan begitu Sitaresmi meniupkan bola cahaya terakhir yang ia miliki.
            “Ayo masuk, Sasmitha...”
            “Baiklah...”
            Dan...pemandangan yang luar biasa pun menyambut Sasmitha.
            “Wah...”
            Sebuah istana megah berdiri menjulang di hadapannya. Beberapa boneka bahkan menyambut kedatangannya.
            “Selamat datang di Bulan, Sasmitha-sama. Toneri-sama sudah menunggu anda”
            Sasmitha merasa gugup. Sesekali ia mengerling ke arah Sitaresmi, yang terus menerus menyemangatinya. Langkah kaki mereka menggema di ruangan. Ia tahu kalau Toneri tinggal bersama dengan boneka-bonekanya di istana ini. Rasanya pasti sepi sekali.
“Selamat datang, Sasmitha...atau..bagaimana kalau aku panggil Mitha saja?”sambut sebuah suara yang menenangkan.
            Pemuda itu memiliki rambut putih yang amat indah. Mata byakugan-nya menyorot dengan ramah. Seketika, Sasmitha menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Adek ga kuat, bang, pikirnya panik. Manis banget!
            “Mitha pasti bertanya-tanya...apa yang membuatku datang mengundangmu kesini,”Toneri bertutur setelah ia mempersilahkan tamunya duduk.
            “Pertama, sebagai ucapan terima kasihku karena telah menyelamatkan Sitaresmi, dua tahun yang lalu”
            “Eeh...Sitaresmi?”
            Ia mengangguk ceria. “Waktu itu aku hendak pulang ke istana Pangeran, tapi entah mengapa energinya tiba-tiba habis...aku pun terjatuh ke kubangan air di tepi jalan menuju ke hutan dekat rumah Sasmitha...lalu kamu memungutku dan membersihkanku...begitu tubuhku disinari kembali oleh cahaya bulan, aku pun dapat kembali ke rumah. Aah...terima kasih banyak pokoknya!”
            Toneri tersenyum. “Sitaresmi adalah wayang golek pemberian leluhurmu, ratusan tahun silam, Mitha. Klanku dan juga bangsamu saling bekerja sama dalam beragam hal. Kami memulai kerjasama ini semenjak zaman Majapahit, lama berselang. Sitaresmi-lah yang bertugas sebagai duta bangsamu untuk klanku”
            “Lalu yang kedua, karena kesukaanmu dalam memandangi bulan di waktu malam hari”
            “Eh? Bagaimana Toneri bisa tahu?”
            “Aku tahu begitu saja, Mitha...”katanya. “Seolah-olah selama ini, kita berdua saling berkomunikasi satu sama lain...dengan hati kita”
Byakugan Toneri dan mata hitam kelam Sasmitha bertemu. Seketika Sasmitha menundukkan pandangannya.
            “K-Kupikir juga demikian, Toneri. Kau tahu, aku selalu merasa tenang dan damai ketika memandangi indahnya bulan di langit pada malam hari. Dan...aku selalu mendengar lantunan musik misterius nan indah-yang seolah-olah berasal dari tempat yang sangat jauh...”katanya malu-malu.
            “Oh...kau menyukainya? Syukurlah...”
            “Itu karena...aku memaninkannya untukmu”
            Bluuush...
            Lagi, Sasmitha merona.
            “Apakah kamu menyukainya?”
            Ia mengangguk. Sangat, pikirnya.
            Toneri lalu menepukkan tangannya dan sekumpulan boneka pun mulai memainkan lagu yang mereka bicarakan.
“Mari berdansa denganku,”kata Toneri seraya mengulurkan tangannya. Dengan malu-malu, Sasmitha pun menyambutnya.
Mereka berdansa mengitari ballroom itu. Sitaresmi dan boneka-boneka lainnya pun mengikuti keduanya.
“Selamat ulang tahun, hime,”kata Toneri. “Aku telah menyiapkan sesuatu untukmu”
Begitu alunan musiknya selesai, Toneri membuka kotak perhiasan yang dibawa oleh Sitaresmi dan temannya.
Kotak itu berisikan kalung bertahtakan moonstone yang sangat indah.
“Kemari, akan aku pakaikan...lihat, kalungnya cocok sekali denganmu”
“Terima kasih banyak, Bang Toneri”
“Eh? Bang?”
“Aa..t-tidak...maafkan aku...”
“Pintu istana akan selalu terbuka untukmu, Mitha. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu disini,”ujar Toneri. Ada kerinduan dalam sorot matanya.
Sasmitha tersenyum, lalu mengangguk. “Tentu saja. Aku akan mengunjungimu selalu”
Sasmitha pun berpamitan, dan Toneri sendiri yang mengantarkannya sampai ke pohon yang ada di tengah hutan itu.
Sasmitha belum pernah merasakan hal ini seumur hidupnya: jantungnya terus dan terus berdegup dengan kencang.
“Apakah aku...s-suka padanya?”
Wajahnya merona lagi. Ia lalu menggelengkan kepalanya keras-keras untuk megusir pikiran itu.
Dan semenjak hari itu, Sasmitha kerap mengunjungi Toneri. Ia hadir dan mewarnai hari-hari sang Pangeran dan melepaskannya dari takdir kelam keluarga cabang Klan Otsutsuki.
OMAKE
Toneri Otsutsuki terus memandangi Bumi dengan kerinduan yang tersirat dalam byakugannya. Sang putri majapahit telah mencuri hatinya.
Mana dia tahu, kalau separuh hatinya dilahirkan milenium setelah ia dilahirkan?
Sitaresmi asyik berbisik dengan boneka lainnya.
“Nampaknya Pangeran telah...jatuh...hati pada Sasmitha”
“Kau benar, Sita! Setidaknya kini akan ada Sasmitha-sama di sisinya. Kau tahu, dia jadi lebih ceria semenjak gadis itu pertama kali datang kesini”
“Sita telah melakukan kerja yang bagus!”
“Itu karena aku tidak tega pada Pangeran...”
“Kira-kira...kapan ya, Toneri-sama melamar Sasmitha-sama?”
“Wah, entahlah...tapi aku harap sih, secepatnya!”
Toneri yang selama ini mendengar dengan jelas percakapan boneka-boneka itu, mulai merona merah.
“Aah...apa sih yang kalian bicarakan? Aku baru saja bertemu dengannya selama seminggu ini! Dia pasti akan ketakutan bila tiba-tiba aku melamarnya...lagipula...setelah pernikahanku yang batal dulu itu...”
“Tenanglah, Tuan...semua akan baik-baik saja! Kami lihat kok, kalau Sasmitha-sama juga menyukai Tuan!”
Toneri tersenyum. Wajah eloknya penuh akan kasih. “Aku tahu”
“Kalau begitu, tidak ada yang perlu Tuan khawatirkan. Segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan sangat baik,”kata Sitaresmi memberi semangat.
Sitaresmi memandang Bumi. Dari atas sini, ia bisa melihat kepulauan Indonesia: rumahnya dan juga rumah Sasmitha.
“Kakek, Sasmitha baik-baik saja. Ia tumbuh menjadi gadis yang baik hati, cerdas, dan pemberani. Aku telah melakukan permintaan terakhirmu, Kek...yakni untuk memperkenalkan cucu keturunanmu, seorang gadis bernama Sasmitha, dengan Pangeran Toneri. Karena anda tahu, mereka berdua saling terikat dengan benang merah takdir yang tidak terlihat”

0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design