Kakek, selamat ulang tahun yang ke-78 :")
Sembilan bulan telah berlalu semenjak kepergian kakek-tapi rasanya waktu itu berlalu amat lama.
Ingatan akan kakek selalu hadir dalam pikiran.
Masih ingat dengan firasat yang dirasakan sembilan bulan lalu, saat tingkat kesehatan kakek mulai menurun...
Dan beberapa jam sebelum kakek berpulang menghadap Allah, seakan sesuatu memberi tahu Sinta untuk tidak mengikuti perkuliahan hari itu-untuk menemani kakek pada menit-menitnya...
Air mata terus dan terus mengalir dari kedua onyx ini sementara tangan bergerak cekatan mengirimkan e-mail berisikan tugas paper mengenai hukum penggunaan kijing dalam Islam dan korelasinya dengan perda di Kota Solo kepada seorang sahabat...
Dan tak lama kemudian, Sinta menerima telepon dari nenek-bilang kalau kakek sudah berpulang.
Sesampainya disana, Sinta menemui nenek yang tengah kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dan juga jasad kakek yang seakan tengah tertidur lelap.
Kakek masih hangat sewaktu Sinta tiba disana-seakan kakek tengah tertidur nyenyak pagi itu.
Sinta yang tengah terjaga dini hari tadi, seketika teringat akan kakek...
Bulan ramadan tahun ini tanpa kakek-rasanya sepi sekali...
Biasanya kakek bangun pukul setengah tiga pagi, membangunkan seluruh penghuni rumah dengan cerianya "Dinosaur! Dinosaur!"
(Dino sahur (jawa)-(literally) sahur in Bahasa Indonesia)
Dengan bunyi tongkatnya yang sengaja dihentakkan ke lantai sehingga menimbulkan kesan berisik-sehingga seisi rumah pun terbangun dan bergegas mempersiapkan hidangan untuk sahur.
Kakek,
Air mata ini tidak pernah berhenti mengalir semenjak kepergianmu-bukan karena kami tidak rela karena kakek pergi begitu cepat-hanya...karena kami belum sempat membuat kakek bangga memiliki kami dan menjadi saksi atas pencapaian-pencapaian kami...dan kami merasa kalau kami memiliki waktu yang terlalu sedikit untuk bisa dihabiskan bersama kakek.
Kadang, kalau tak ada yang melihat...
Sinta kerap kali duduk menyendiri di kamar kakek, menceritakan hal-hal yang biasa ingin kakek dengar dari Sinta: berharap kalau kakek dapat mendengar mengenai kisah harian Sinta. Yang walau pada akhirnya Sinta akan kembali menangis dan membasuh wajah untuk menutupi jejak air mata.
Kakek, Sinta rindu sekali...
Sinta suka sekali bercerita dengan kakek-walaupun Sinta harus bercerita agak keras supaya kakek bisa mendengarnya
Dan kakek juga suka mendengar cerita-cerita Sinta. Kadang bertutur pula mengenai pewayangan, kisah-kisah perjuangan-dan hal menarik lainnya.
Kini, tak ada lagi telepon masuk dari kakek saat Sinta sedang ada kelas di Kampus-menanyakan kapan Sinta akan datang berkunjung.
Kini tak ada lagi jabat erat yang tidak merelakan kepulangan Sinta ke rumah.
Tidak ada lagi kisah-kisah seru tentang petualangan kakek dan tauladan dari tokoh-tokoh pewayangan...
Tak ada lagi kidung-kidung jawa dan belanda yang suka kakek lantunkan...
Kakek, diulang tahun kakek yang ke-78 ini,
Sinta hanya bisa menghadiahkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan juga doa-doa kebaikan untuk kakek.
Wilujeng ambal warsa, Eyangkung.
Eyangkung beristirahat yang tenang, ya...
Semoga kita semua disatukan kembali kelak, di jannah-Nya Allah yang telah dijanjikan.
Aamiin yaa Rabbal Alamiin...
Peluk rindu untuk kakek tersayang,
Almarhum B. Djuhana
Dari cucu pertamanya,
Sinta Alexandria N.

0 komentar:
Posting Komentar