Ia memiliki rambut ikal berwarna lembayung sepanjang punggungnya yang ia tata dengan rapi. Matanya yang keemasan selalu menatap kosong dan seolah jiwa-nya sudah hilang lama berselang: tidak ada sinar kehidupan pada kedalamannya.
Ia tinggal di kamar teratas yang terdapat di dalam puri milik keluarganya, bersama dengan keempat bola api miliknya.
Keempat bola api itu merupakan representasi dari hal-hal yang membuatnya tetap 'hidup': Oranye melambangkan keluarga, biru melambangkan pengajar-pengajarnya, kuning untuk teman-temannya dan merah untuk bangsanya.
Kalian pasti bertanya, hanya itu saja?
Ya. Karena dia selalu yakin bahwa di dunia ini, hanya keempat hal itulah yang peduli dan menyayanginya. Mereka (manusia) yang benar-benar peduli padanya.
Dan ia sadar betul, seiring dengan berjalannya waktu, bola api-bola api magis miliknya semakin mengecil.
Apa yang terjadi jika keempatnya hilang?
Otomatis, dia akan mati.
Karena jantung artifisial yang selama ini bersemayam dalam tubuhnya...hidup dengan bahan bakar keempat bola api itu.
Dulunya dia adalah magus biasa, seorang gadis yang penuh dengan semangat dan juga senyuman.
Namun segala sesuatunya berubah dan perlahan, esensi kehidupan yang berada di jantungnya mulai menghilang.
Pernah suatu ketika temannya bertanya, "Tidakkah ada seseorang yang kau sukai?"
Magus itu hanya memberi tatapan penuh tanya (yang nampaknya seperti tatapan sinis) sebelum berkata, "Tidak,"jawabnya singkat.
"Mengapa tidak?"
Untuk pertama kalinya, temannya melihat magus itu menunjukkan emosi: dia memutar bola matanya.
"Akan kukatakan satu hal: mereka menyukaimu hanya karena kamu cantik dan menarik. Itu saja. Tapi begitu kecantikan tersebut mulai hilang, aku ragu bila mereka akan tetap tinggal"
"Tapi kamu kan cantik..."
"Memangnya kamu pernah melihat wajah dibalik topeng ini?"
Magus itu...selama lima tahun belakangan ini selalu memakai topeng diwajahnya. Tipe topeng yang biasa dipakai pada saat pesta dansa.
"Well...tidak sih..."kata temannya. "Tapi aku yakin kalau kamu cantik,"kata pemuda itu dengan optimis.
Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi. Tapi si magus berucap pelan, "terima kasih"
"Sebetulnya... bola api-mu itu ada lima kan?"tanya pemuda itu seraya mengayunkan kakinya. Ia sibuk menatap bayangan sahabatnya itu di tepi danau; mengamati komunikasi nonverbal-nya.
"Oh ya?"tanya si magus
"Aku cuma seorang inventor sih...tapi coba pikirkan...masak kamu cuma punya keluarga, teman, pengajar, dan negara yang begitu kamu cintai ini. Maksudku...masa sih ga ada seseorang spesial yang begitu kamu sayangi?"
"Apakah kamu punya teori?"
Si magus menelengkan kepalanya.
"Aku selalu mendengar kisah tentangmu, Rowena. Kisah seorang Putri baik hati yang selalu menyamar dengan tudung hitamnya dan menolong orang-orang yang membutuhkan,"ia memulai.
"Sayangnya, dia terlalu baik hati. Saking baik hatinya...dia sampai memberikan bola api putih miliknya - lambang kasih - kepada..."
"Wah menarik. Kamu belajar mengarang dari siapa, Arne?"
Pemuda itu bisa melihat dengan jelas senyum samar yang menghiasi wajah si magus.
"Tentang bola api putih itu...hmm...dia memudar...lalu meledak. Hahaha..."tawanya getir.
"S-sungguhkah?!"
Magus itu mengangguk santai. "Apiku tinggal empat, kudekap erat-erat~"
"Lagipula, aku hanya punya empat bola api ini sedari lahir. Bola api putih itu adalah bagian dari jantung artifisial buatan keluargaku,"katanya. "Mereka berharap sekali aku akan menemukan seseorang yang aku sukai...bukan. Aku sayangi. Seseorang untuk dilindungi. Orang yang melindungiku. Tapi...Itu harapan yang utopis sekali. Iya kan, Arne?"
Arne hanya terdiam. Ia tidak menyangka kalau Rowena berpikir demikian.
"Yah kendati demikian, aku harus tetap bersyukur. Bukankah begitu, tuan inventor?"
Arne bersumpah bahwa ia melihat mata keemasan Rowena menggenang.
Air matanya meleleh,
Jatuh ke atas rerumputan dan alang-alang yang tertiup angin.
0 komentar:
Posting Komentar