Julian (dengan wajah sok cool) pernah berpesan kepadaku.
(Lokasi: Lapangan dekat rumah. Julian datang (tapi ga aku ajak ke rumah soalnya ga ada siapa-siapa) untuk bawain oleh-oleh. Jadi kita tukeran oleh-oleh gitu. Kurang kerjaan, kan?)
"Waa...oleh-oleh dari Dieng? Aku suka banget sama ini! Makasih banyak ya. Salam buat papa sama mama kamu!"seruku riang. Tapi Julian tidak menunjukkan tanda-tanda untuk beranjak dari tempat itu.
Rambut jabriknya melambai ditiup angin. Matanya yang sayu menatapku antara ngantuk, bosen, dan iba di saat yang sama. Tangan kanannya di atas pundak menggenggam jaketnya sementara tangannya satu lagi di dalam kantong.
"Lebay banget sih Julian,"kataku frontal, eneg ngeliat gayanya.
"Dek, abang kasih tau ya-"
"SEJAK KAPAN KAMU JADI ABANG AKU-NJZ!"
Dia menghela napasnya. "Dengar, Sinta"nada bicaranya serius.
"Baik"
Kini dia menatap serius.
"Aku baru dua tahun ini sih kenal sama kamu-itu pun gegara lomba yang mau kita ikutin dulu. Pas pertama ngeliat kamu, bawaannya pengen usil"
"Kalo boleh jujur, mukamu bullyable"tukasku sebal. "Makanya aku juga sering usil ke kamu"
Dia tertawa, lalu melanjutkan, "Aku tahu persis kamu. Apa yang paling membuat kamu bahagia, apa yang bikin kamu kecolongan, dan siapa yang kamu suka"katanya santai.
"What? S-siapa yang aku suka?"mukaku langsung memerah. Julian cuma bisa ketawa.
"Gue gitu loh"katanya.
"Inisialnya-"
"Aku engga suka-cuma respek aja!"
Melihat aku yang udah marah kayak anak kecil malah membuatnya tambah usil.
"Ooh respek yah. Yakin?"
Wah, Julian minta dikasih kecoa terbang nih.
"Julian cuma mau kasih tau adeknya satu, dua hal. Yang pertama, jangan terlalu mempercayai orang lain-bahkan yang udah akrab banget sama kamu sekalipun. Justru mereka-mereka inilah yang tahu kekurangan dan kelebihanmu sehingga dikhawatirkan dapat menjatuhkan kamu di masa mendatang. Yang kedua, don't fast fall in love. Jangan cepet suka sama seseorang. Kamu pasti tau peribahasa Jawa 'tresna jalaran saka kulina', kan?"
Ekspresi wajahnya serius. Sorot matanya seolah berkata, "camkan baik-baik".
Aku mengangguk. "Aku mengerti"
"Karena abang Julian ga mau kalo adeknya kenapa-napa, hikz"dia kembali ke sisi alaynya. Jijay deh.
"SEJAK KAPAN LU JADI ABANG GUE?!"
"Abang ga akan ngebiarin orang yang berusaha mempermainkan atau menyakiti Sinta"katanya, kembali ke serious mode.
"Karena abang sudah berjanji, untuk menjaga Sinta"
Deg!
Aku menatap kosong pada mata mengantuknya.
Angin berhembus di wajahku. Otakku merekam semuanya, menyimpannya baik-baik dalam memori.
"Nah. Abang pergi dulu ya, Dek. Bapak sama Mama udah nungguin nih,"katanya sembari mengecek arloji.
"Oh iya, Julian nih ada paketan dari ayah sama mama aku buat orangtua kamu"
"Makanan lagi, yes"dia nyengir lebar. "Udah dulu ya. Bye~"
"Tschüß. Eh, Julian! Wait..."
"Apa?"
Wajahku memerah karena senang. Aku menarik napas sebelum berkata, "Terima kasih banyak! Terima kasih juga karena sudah mau menjagaku-aku pun akan menjagamu-dengan caraku sendiri"
Dia nyengir, lalu mengangguk.
"Iya. Saling jaga ya. Assalamualaikum"
"Hati-hati di jalan, ya. Waalaikumsalam"
Aku mengawasinya pulang hingga ia menghilang di balik kelokan.
Lalu, ada tetangga yang usil menanyakan, "Siapa Mbak Sinta? Pacarnya ya?"
"Bukan, Pak!"jawabku histeris sambil menggelengkan kepala sekuat tenaga. "Sahabat saya"
"Hmm..."bapak-bapak itu menyipitkan matanya.
"Saya pulang duluan ya, Pak. Assalamualaikum!"ujarku canggung. Cepat-cepat pamit supaya beliau ga nanya aneh-aneh.
Julian, you're da real MVP!
Mungkin kamu emang kakak-kandung-yang-engga-pernah-dilahirkan :"D
0 komentar:
Posting Komentar