Kemarin sore, Sinta hang out bareng bersama dengan Amelia dan Tami, salah seorang sahabat baik Sinta. Kami dulu berkenalan saat mengikuti lomba yang sama, dan masih saling kontak satu dengan yang lainnya sampai dengan sekarang.
"Tami, bisa nonbar ga sore ini?"
Tanyaku via LINE. Mumpung di Semarang, pengen banget main ke tempatnya Tami atau sekedar hang out bareng-entah di rumah kakek/nenek ataupun diluar.
Omong-omong soal Kakek, beliau sudah sehat dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kini ayah dan mama yang menjaga beliau di rumah.
"Sore jam berapa, Ta? Aku baru pulang jam lima sore"
Karena durasi filmnya 97 menit dan aku dan Tami ga diperbolehkan pulang malam, jadi aku jawab "Yah...kayaknya ga bisa nonton bareng deh...bisa engga kalo kita makan bareng aja?"lalu aku menjelaskan situasi kami.
"Okedeh engga apa-apa, Ta :D"jawabnya
"Alrightie! See you there, ma bestfriend!"kataku, disertai emotikon peluk.
Aku dan Amelia menonton film The Boy waktu itu. (Jangan lanjut baca tulisan selanjutnya, please! Aku sudah memperingatkan, loh)
(Btw Sinta sayang dengan jantungnya. Jadi sekiranya kalau ada adegan yg otw buat saya kaget, saya langsung mengalihkan pandangan hahaha).
Amelia duduk di samping kanan, menjerit kaget sembari mencengkeram pergelangan tangan kanan atas erat-erat.
"Hiyaa! Apaan itu mbaa!"
"Amelia, sakit tau"kataku.
Tiba di suatu scene
"Mereka ngapain, mba?"
"Mau bunuh diri"
"Kok mba bisa tau? Udah baca sinopsisnya?"
"Belum"
"Tapi kok tau?"
Jadi aku menjelaskan padanya.
"Batu itu buat pemberat. Pasti mau menenggelamkan diri. Amelia tau sendiri kan aku aja yang ga bisa berenang bisa mengapung di atas permukaan air?"
"Ooh...iya juga ya Mba..."
Lalu kami pun memutuskan tempat mana yang akan kami kunjungi selanjutnya untuk ketemuan bareng.
"Tami, kita ketemuan di *piip* ya :D ada di lantai tiga. Jadi dari toko *piip* kamu tinggal lurus aja"
Yay! Dan bertemulah kami dengan Tami.
Ya Allah, bener-bener deh-kita berdua udah dua tahun ga ketemu. Ahahaha.
"Ya Allah, masih aja sok manis kayak biasanya haha"
Lalu dia berkenalan dengan Amelia.
Karena anaknya ramah, menyenangkan, dan mudah bergaul, jadi dengan mudahnya dia berteman juga dengan Amelia.
Kami bercerita panjang lebar, sesekali tertawa juga. Sampai dia bertanya:
"Ahahaha, umurmu udah 19 loh, Sinta. Yah, walaupun mukamu kayak anak umur 16, tapi dandananmu emak-emak-able hahaha. Seenggaknya ada kan orang yang kamu taksir?"
Aku cuma mengangguk sambil nyengir lebar. "Mau liat orangnya?"
Amelia dan Tami jadi penasaran. Lalu dengan kilat aku mengetikkan kata sandi untuk tabku sebelum masuk ke galeri.
"Ini dia orangnya...hehehe"
Mereka berdua mendekatkan kepala ke layar untuk melihat.
"Loh...ini kan..."
Lagi, aku cuma pasang tampang bodoh sambil ketawa, "Hehehe"
Seorang senior dari sekolah lama,
Yang disukai sama Sinta sejak dua tahun lalu-
Hingga sekarang.
Keduanya facepalm.
Melihat pertanyaan yang hendak mereka lontarkan, aku cuma jawab, "Oh, foto itu dikirimkan oleh temanku, Julian namanya"
Lalu aku menceritakan Julian yang mengirimkan satu album foto yang isinya kenangan saat aku masih ada disana.
"Kamu sering kontakan sama dia?"
"Enggak"
"Terakhir ngomong?"tanya Amelia
"Dua tahun lalu"
"Kenapa ga tanya sama Julian? Minta ID LINEnya atau apa"saran Tami
"Engga ah"
"Jadi suka dalam diam gitu?"
"Kurang lebih begitu"
Mereka berdua memberi pandangan takjub.
"Ajaib ya, bisa suka dengan orang yang sama dalam waktu yang lama"
"Hehehe"aku cuma bisa tertawa.
"Go for it!"seru mereka memberi semangat.
"He won't like me back. I'm just a normal girl who doesn't even know how to make myself prettier (read: how to apply make up). I doubt that there's a single soul out there who likes me"
"Don't be pessimistic like that, Sis"kata Amelia.
"Yeah. It's just some self-fulfilling prophecy"kata Tami.
"'Cause you're beautiful, just the way you are~"kata Amelia sambil menyanyi.
"Plot twist: You're the one who created some space between you and someone's who interested in you"
"You're correct, Tami. I am"
Keduanya facepalm. Lalu mereka lanjut ngecek galeriku.
"Yang ini siapa?"
"Kakak kelas, setahun diatas kita-yang seragamnya aku pakai dan engga sengaja aku rusak-parah banget aku ini-aku harus ngirim sesuatu dan ngirim surat berisi permintaan maaf buat dia T..T"
Tapi kayaknya kedua cewek itu ga ngegubris omonganku.
"Omg! Cakep banget!"
"Manis!"
Dan aku dengan poker face berkata "Am I the only one around here who found him cute but not that attracted just like you two?"
Mereka tertawa.
"Kenalin kita ke dia, dong"
"Aku aja ga punya kontaknya"jawabku.
"Tanya temenmu, si Julian, kalo gitu!"
Aku memutar bola mataku.
"Cewek macam apa yang minta-minta kontak cowok yang sama sekali ga dikenalnya. Plus si konyol Julian bakal ember ke teman-temannya disana dan mereka bakal usil lagi sama aku"
Lalu aku menambahkan.
"Don't you guys dare to google him or stalk him. He's my senior. Ahahaha. Over my dead body, guys"
Aura mencekam menguar, cukup membuat keduanya berjanji untuk tidak melakukannya.
Sister complex mode: On
(Kenapa sister? Karena aku menganggap semua yang disana sebagai saudara-saudaraku :D)
Kenapa aku memperingatkan mereka?
Karena ada remaja yang suka banget ngestalk akun sosmed punya orang, ngesave fotonya, dan bilang ke semua orang yang mau dengar kalo dia sedang in relationship dengan orang yang fotonya dia ambil.
Padahal engga. *nepuk jidat*
"Y-yakali, Sinta kita cuma becanda aja kok"
"Mbak serem banget loh-coba ngaca deh-orang yang ga tau bakal ngira mba kesurupan atau semacamnya"
Aku tertawa sama perkataan mereka.
"Udah deh hahaha kalian ini loh bikin ketawa aja hahaha"
Amelia lagi-lagi melirik es alpukatku.
"Kalo mau ambil aja, Mel. Hahaha"
Udah kebiasaan Amelia buat minum minuman yang aku pesan hahaha xD
Dan kami pulang bareng pakai taksi, nganter Tami dulu tapi.
Asik banget deh, bisa kumpul bareng sama dua remaja cewek-dua sahabat yang paling dekat denganmu >w<
Semoga tahun depan kita bisa kumpul bareng lagi, ya :D
Kamis, 28 Januari 2016
Hanging out with Amelia and Tami \(^o^)/
Label:
Author's Note,
friendship,
Keluarga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar