Sabtu, 25 Juli 2015

Sang Pembaca Pikiran dan Muridnya: Cara untuk Melindungi Privasimu

Di suatu sore tepatnya dua tahun yang lalu, disaat Sinta dan kawan-kawan sedang menghabiskan waktu untuk menimba ilmu di tempat kursus, Guru Akuntansi kami, Pak Jo sedang mengawasi seseorang dari kelas kami dengan seksama. Saat diperhatikan, beliau tidak melepaskan kontak matanya sementara anak itu, Dina, tidak menyadari akan hal ini.

"Dina lagi ada masalah sama pacarnya ya? Bapak sarankan supaya kamu tidak terlalu posesif ya"

Seisi kelas yang dari tadi diam mendengarkan kini pun jadi heboh.

"Huaa! Bagaimana bapak bisa tahu?"

Pak Jo tertawa, gelagatnya penuh rahasia.

Teman sebangku saya, Kayla menulis sesuatu di bukunya dengan cepat, lalu memberikannya pada saya.
Isi pesan itu 'Jangan injakkan kakimu di permukaan lantai. Pikirkan sesuatu untuk menutup akses 'dia' ke pikiranmu. Jangan kontak mata. Beliau bisa membaca pikiran'.

Saya langsung bertukar pandang dengan Kayla. 'Kamu yakin?'
Anak itu mengangguk.
Wah, saya pun langsung waspada. Bahaya kalau beliau menceritakan informasi pribadi saya ke teman-teman di kelas ini.

Sekilas saya lalu teringat akan pelajaran Occlumency yang diberikan oleh Profesor Snape untuk Harry Potter dalam novel Harry Potter and the Order of the Phoenix karya J. K. Rowling.
'Wah...berarti ini semacam Legilimency dong ya?'
Oke, jadi yang harus saya lakukan adalah memikirkan sesuatu-atau banyak hal sekaligus, supaya beliau tidak berhasil membacanya. Opsi paling buruk adalah, membuat beliau salah dalam menginterpretasikan apa yang ada di dalam pikiran saya.

By the way, si Kayla ini indigo dan dia tenang-tenang saja dalam menghadapi hal ini. Lah saya!
Jantung mulai berpacu dengan cepat.
'Fokus', pikir saya saat itu. Cuma ini satu-satunya cara pertahanan yang bisa saya lakukan.

Yang menyebalkan adalah, semakin kamu ingin menutupinya, pikiran itu malah terus dan terus muncul.

"Nah, sekarang Sinta"kata Pak Jo dengan ceria.
Saya memberinya tatapan kesal 'sungguh-tidak-adil'.
Beliau tertawa. "Fuuh...capek juga mengeluarkan energi untuk membaca pikiran beberapa dari kalian"
Kata saya "Saya dilewati saja, Pak"
Eh, teman-teman satu kelas malah menyemangati beliau untuk membaca pikiran saya.
'Dasar jahat. Ngga ada solid-solidnya sama sekali'

Beliau tampak sedang berkonsentrasi. Yang aku lakukan?
Bersenandung pelan lagu 'Nightmare' milik Avenged Sevenfold sambil mengingat hal tentang Legilimency.

Beberapa saat kemudian...
"Hm...Sinta mau melanjutkan studi ke akademi ya?"
Anak-anak satu kelas langsung bersorak ricuh.
"Keren!"
"Terbaik!"
"Hebat!"
Saya cuma bisa menghela napas, "Bisa ya, bisa tidak" jawab saya dengan datarnya.
Diam-diam, Kayla mengacungkan kedua jempolnya untuk saya.

"Akademi apa, Sinta, persisnya?"
Bagus, ini berarti interpretasi beliau meleset jauh dari informasi aslinya. Tapi tetap saja saya harus waspada.
"Akademi kan ada banyak macamnya, Pak. Nggak seru dong kalau saya cerita sekarang. Ini buat kejutan"
Terdengar desahan kecewa dari teman-teman. Mereka kepo banget sih! Hahaha =D

Tapi tidak cukup sampai hari itu saja. Beliau masih berusaha untuk mengorek keterangan dari saya.
"Yah Pak, kalau yang namanya kejutan ya tidak untuk didiskusikan dong"kilahku dengan santainya.
Beliau tampak kecewa. "Baiklah kalau ini merupakan privasi buatmu. Bapak tidak akan menanyakannya lagi. Kalau Sinta sudah sukses di masa depan, kabari Bapak, ya"
"Hehehe, pasti"

Di dalam hati, saya menjerit senang. Akhirnya lepas juga saya dari hal ini. Menegangkan sekali!

Yang saya ceritakan tersebut di atas adalah nyata adanya. Dan semoga apa yang saya lakukan untuk pertahanan diri (?) dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

What an unusual experience.

Plot twist-he isn't a muggle-he's a wizard in disguise xD hahaha.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design