Jumat, 24 Juli 2015

My First Ever C-Rank Mission!

Halo, jumpa lagi dengan Sinta teman-teman semua!

Kali ini, masih membahas topik yang sama, relationship. Sinta akan membahas mengenai misi kelas C yang diberikan oleh nenek saya (aih, kayak apaan aja si Sinta. Misi, katanya :v).

Berawal dari perubahan yang ada pada Bang Bastian, lama kelamaan nenek pun jadi curiga. Ada yang berbeda. Biasa pulang tepat waktu, lah ini nelatnya pake banget. Tugas jadi tambah banyak, ditambah dengan alasan absurd yang dibuat oleh si abang.

Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah tertidur kecuali saya dan nenek, kami mendiskusikan hal ini.

"Abang kamu sering nerima telepon dari anak cewek, Neng"
"Oh,"kataku manggut-manggut, sambil membaca buku Sosiologi (kebiasaan buruk zaman SMA. Jangan ditiru).
"Neng punya petunjuk?"
Perlu dicatat disini bahwa nenekku suka sekali dengan cerita detektif. Hihihi.
Aku mengatupkan buku pelajaran sambil menggeleng.
"Kalau begitu, tolong coba bukain hape abangmu ini dong. Nenek ga bisa buka"

Aku sweat drop saat nenek menyerahkan smartphone itu padaku. Wah nenek hebat juga ya! Padahal itu gadget ga pernah jauh dari saku celananya.
Terdengar dengkur keras dari kamar si abang.
"Buruan, Neng. Nanti abang bangun lagi"
Begitu aku nyalakan...
Loh! Smartphonenya aja dikasih pengaman. Tunggu. Selalu ada cara lain, kan?

Jadi aku berhati-hati supaya tanganku ini tidak menyentuh layarnya. Benar saja. Ada pola yang terlihat di layar yang berminyak itu. Setelah memastikan bahwa apa yang aku lihat itu benar, langsung saja aku buka polanya.

Cling!
Berhasil.
Oke, saatnya melakukan pengecekan.
"Dapat!"kataku.
Jadi aku mencatat nomor anak itu, nomor teman dekat si abang, dan melakukan pengecekan terhadap SMSnya.
'Wah kamvret juga ni bocah ngebohongin orangtua,'pikirku. Selama ini si abang selalu beralibi kalau dia main ke rumah teman dekatnya apabila pulang terlambat.

Oke. Lagi-lagi, sifat protektifku bangkit karena sadar ada yang engga beres disini.
"Oke deh Nek. Saya sudah dapat data target (apaan sih si Sinta). Selanjutnya tinggal melakukan penelusuran lebih lanjut"
Teknologi sudah semakin canggih. Nggak sulit kok nyari anak cewek itu di sosmed.
"Loh? Ini kan laptop abang...bukannya anak ini beda jurusan sama abang ya?"
Oke, langkah selanjutnya adalah melakukan pengecekan pada laptop. 'Lah? Kok memorinya penuh buat Drama Korea? Abang kan kagak suka...'
Setelah melakukan pengamatan, barulah aku sadar kalau selama ini abang aku dimanfaatkan sama anak cewek itu.
Nganterin pulang ke rumahnya (yang jaraknya 10 km dari sekolah si abang), beliin makanan buat dia (terutama oleh-oleh khas dari kotaku), ngerjain tugas dia (padahal beda jurusan. Demi apa. Kapan pinternya?), sampe minjemin laptop dan beliin handphone (yakali bro lu pikir cari duit gampang? Kepala gue aja sampe panas dingin...).
Kesal dengan fakta yang kuperoleh, jadi aku melakukan pengecekan akhir di handphonenya.
Fyuh. Untung sandinya belum diganti.

Aku dapat informasi yang lebih parah lagi.
Anak itu cerita dengan santainya kalo dia habis ditembak sama cowok lain.

Singkat kata, abang aku putus sama anak itu. Dan beberapa hari kemudian, aku dapat informasi kalau dia sekarang pacaran dengan teman baik abang, yang selama ini udah dianggep saudara sama abang aku.

'Ya ampun...anak ini nyebelin banget sih...'
Untungnya semua itu sudah berakhir. Mission accomplished. Ini buat kebaikan abang juga. Tenang aja, Bang. Banyak cewek diluar sana yang jauh lebih baik dari mantan abang. Case closed.

Nenek senang sekali dengan hasil kerjaku (?) dan memintaku untuk selalu menjaganya. Well...ga usah dibilangpun, aku selalu menjaga dan mengawasi saudara-saudaraku, kok.
***
Lalu tibalah masa liburan dimana keluargaku dari luar kota bertandang ke Surakarta Hadiningrat. Seperti biasa, kakekku yang usil mulai membahas tentang 'pasukan inti' dan 'pasukan cadangan'.
Lelah dengan pertanyaan bertubi-tubi dari kakekku yang usil, aku pun menjawab. "Jangankan pasukan cadangan, Kek. Pasukan inti aja engga punya. Saya ini unit tunggal".
Kakek tertawa mendengar jawaban dan melihat ekspresiku yang aneh, campuran antara malu dan sebal.
"Hohoho. Begitu ya?"kata kakekku. Matanya berkilat usil. Beliau pasti menyangsikan ucapanku.
"Huf, terserah kakek saja deh"kataku lelah.
***
Jadi, kalau ada teman-teman dekatku yang menelepon (Rosyid, Alex, Adi, Otong, Denis, dan lainnya) aku melakukan dua opsi: 1. Lari secepat mungkin ke tempat tersembunyi (gudang, loteng...hahaha dasar aneh) tanpa ada yang melihat atau 2. Mengabaikan panggilan itu, lalu membalasnya dengan pesan singkat sambil menjelaskan situasi.
Rasanya jadi tidak enak saja, apalagi melihat abang yang mengawasiku dengan inosensnya (apanya yang inosens, hah? Hahaha :p)

Demikian cerita mengenai misi yang diberikan oleh nenek saya. Setidaknya teman-teman yang saya sebutkan tadi di atas bisa mengerti dan memahami situasi saya :")

Salam! :)
Semoga harimu menyenangkan. Terima kasih atas kunjungan dan juga waktunya :D

0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design