Jumat, 29 April 2016

Petrikor

(n)aroma yang menguar di udara ketika tanah bertemu dengan tetesan-tetesan hujan pertama di akhir kemarau

Hujan mulai turun kala itu-suatu hal yang amat dinantikan oleh para pluviophile.
Dimana yang lainnya pasti akan teringat kembali akan kenangan-kenangan indah mereka di masa yang telah lalu.
Dimana aroma magis petrikor seolah menghidupkan kembali alam imajinasi yang mengajakmu untuk berkarya.
Hari itu, nampaknya para pecinta hujan tengah merayakan hari awal tibanya musim hujan di bulan itu-dengan cara mereka masing-masing.
Salah satunya adalah dia.
Ia tersenyum sembari memandang ke kejauhan-kepada halimun yang mulai turun-kepada semua bayangan kelabu yang menghiasi pemandangan. Ia terhanyut dalam dunianya.
Ia sendiri bahkan sudah tidak memiliki warna. Sama halnya dengan apa yang tengah dilihatnya di kejauhan.
Matanya menerawang jauh hingga ke pegunungan nun di sana. Ia bahkan tidak repot-repot mengacuhkan suasana di sekitarnya.
Ada rindu dan juga kesedihan dalam pandangannya. Seulas senyum getir pada bibirnya.
Karena petrikor dan rintik hujan-mengiringi perpisahan antara ia dan juga dunianya, lama berselang.
Ia menyadari tatapan seseorang yang selama ini mengamatinya.
Ia tersenyum ramah-lalu menghilang. Seiring dengan berhentinya hujan.


Bogor, Mei 2014.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design