Pernahkah Sinta membahas mengenai shaman-wanna-be?
Belum?
Baiklah. Kini saya akan membahasnya. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Case 1:
Beberapa tahun yang lalu, saat Ayah masih berdinas di salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah, beliau memiliki anak buah, sebut saja namanya Fulan (29). Fulan ini mengklaim bahwa dia termasuk dalam kategori 'orang pintar'.
Catatan tambahan, usia Sinta 20 tahun bulan Mei ini dan ayah Sinta baru memeluk Islam selama 21 tahun jadi bisa dikatakan masih kurang dalam pengetahuan agamanya.
Dan si Fulan ini...sesat sekali.
Bisa dibilang dia tidak pernah sholat (maaf, bukan ngumbar kejelekan orang). Yang bikin ilfil itu pernyataannya "Dosa itu urusan belakangan, Pak" jawabnya selalu setiap kali ayah menegurnya untuk menunaikan ibadah solat wajib.
"Saya sih solatnya di Mekkah, Pak"kata Fulan.
Demi Allah, ngedenger dia ngomong gitu aja aku ilfil -_-
Oke, kenapa saya memanggil Fulan dengan sebutan shaman-wanna-be?
Karena dia itu sok banget. Jigana mah bapak diubaran ku si eta (sepertinya sih ayah saya 'diobatin' sama dia).
Ayah ketergantungan banget, apa-apa Fulan terus yang diberi kepercayaan.
Dari awal aku sudah tidak suka sama Fulan itu, seolah-olah dia diberi privilege lebih. Dia juga engga punya watak yang baik. Kalau di pewayangan, dia itu mirip dengan buta (raksasa) karena rakus, licik, dan manipulatif.
Di proyek yang baru ini, aku kaget luar biasa karena orang sesat ini turut diajak. Parahnya lagi, aku menerima informasi dari para informan (rahasia lah siapa aja mereka) kalau si Fulan kerap menggelapkan anggaran kantor dan tidak pernah mengumpulkan laporannya tepat waktu.
Aku tambah muntab. "Kenapa orang seperti itu masih diberdayakan sih, Yah?"tanyaku pedas. "Kan SDM yang lebih handal juga banyak" (A/N: Kalo aku udah kayak gini bisa kebayang kan gimana parahnya dia?)
Yang buat kesal adalah jawaban ayah "Hahaha...tenang aja, nduk. Ada waktunya. Belum sekarang"
Kesimpulan: Fix. Si bapak teh diubaran ku si shaman.
Lalu di suatu malam, Fulan dan adiknya (yang sama engga sopannya) datang ke rumah. Aku pasang muka datar dan bilang kalau ayah tidak ada di rumah (aku ga mau dia ketemu ayahku :v)
"Ada siapa, Nduk?"tanya ayah
"Shaman-wanna-be, Dad"jawabku kesal sembari memutar bola mata. Aku menaruh bungkus plastik berisikan apel yang ia bawakan untuk ayahku.
"Kok ditaruh di lantai?"
"Saya mau matahin sihirnya"ujarku.
Lalu aku melangkahi bungkusan itu sebanyak 7x sembari membaca ayat kursi dengan niatan untuk menghapuskan sihir yang ada di dalamnya.
Dan benar saja. Semenjak saat itu, ayah mulai bersikap tegas pada orang itu.
Selain kinerjanya yang buruk dan merugikan kolega maupun perusahaan tempatnya bekerja, si shaman ini juga bawa pengaruh buruk, khususnya dalam hal kepercayaan bagi orang-orang di sekitarnya.
"Pak Prayoga mah bisa apa? Kalau tidak ada saya, dia ga bisa apa-apa!"kata Fulan.
Saya dapat informasi itu dari informan, lalu saya sampaikan ke ayah. Sombong banget kan?
Pak Prayoga cuma ketawa aja. Subhanallah. Bisa gitu, ya? :v
Pada akhirnya, Fulan pun dibebastugaskan dari proyek ini.
Syukur deh...
Case 2:
Alkisah puluhan tahun yang lalu pada masa awal-awal kemerdekaan Indonesia, tinggallah dua orang kakak-beradik di daerah Gadog, Jawa Barat yang terkenal akan kecantikannya. Beliau berdua adalah nenek saya dari pihak ibu dan juga anduang, adik nenek.
Ada begitu banyak orang yang ingin mempersunting mereka berdua, tetapi uyut saya selalu jadi yang paling depan dalam hal menyeleksi (agama islamnya kuat apa engga).
Karena tingginya KKM yang uyut berikan (apaan sih Sin, KKM wkwk), maka tidak sedikit pula yang melakukan cara-cara curang. Salah satunya adalah dengan pelet.
Pelet, iya pelet. Guna-guna supaya orang yang dikenai pelet akan nempel dengan si pengirim.
Suatu ketika, T (21) mengirimkan kue tart (yang sudah diisi pelet) ke kediaman Keluarga S.
Yang nerima uyut putri wkwk duuh ngakak. Peletnya salah sasaran. Yang makan kue itu uyut putri (saat itu usianya 41) soalnya hahaha xD (Itu karena nenek tidak suka kue tart jadinya nyentuh pun tidak)
Uyut Putri (dibawah pengaruh pelet) sampai ngebelain bertandang ke kediaman T. Disitu ada plang "Awas anjing galak". Kebetulan uyut juga membawa serta salah satu putrinya. Hahaha. Tau apa yang selanjutnya terjadi? Keduany digegel (digigit) sama anjing galak yang dipelihara oleh T xD si pengirim pelet juga kaget luar biasa karena sasarannya meleset jauh.
Pencegahan: Langkahin dulu kue tartnya 7x
Kalau kemakan gimana?
Kata ayahnya uyut putri sih-maaf-cuci muka pakai air senimu sendiri :" (ew!)
Percaya deh...kalau Harry Potter punya amortentia atau ramuan cinta, Indonesia punya pelet. wkwkw. Hati-hati ya.
Selalu waspada! Karena kita ga tau apa yang akan kita hadapi xD (masih ngakak gegara cerita di case nomor 2)
0 komentar:
Posting Komentar