Sabtu, 06 Februari 2016

Bagian 1: Pertemuan yang Sudah Ditakdirkan

Mira dan Senandung Senja
Written by Sinta Alexandria N.

Bagian 1: Pertemuan yang Sudah Ditakdirkan


Pemandangan hutan tropis yang indah dan sunyi menghiasi sekeliling Mira. Udaranya segar dan juga lembab. Kabut tipis menggantung di udara pagi itu.
Mau tak mau, gadis itu tersenyum sendiri. Hutan dan gunung adalah tempat favoritnya, jauh melebihi rasa sukanya kepada pantai dan laut. Meskipun demikian, dia tak dapat dikatakan sebagai seorang introvert hanya karena dia tidak menyukai pantai.

Mira tahu pemandangan yang dilihatnya ini adalah mimpi semata. Ia sering sekali mengalami mimpi seperti ini-sebuah mimpi dimana semua halnya sulit untuk dibedakan dengan kenyataan karena terasa terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi.

Namun ada satu hal pasti yang diketahui Mira: Dalam mimpi, hal-hal paling konyol atau irasional lebih sering terjadi di dunia ini dibandingkan dengan dunia nyata.

Segala sesuatunya penuh warna dalam mimpi-mimpi Mira, dan begitu hidup hingga ia tenggelam di dalamnya.

Kresek, kresek!

Suara dedaunan di belakangnya membuat gadis itu secara refleks memutar badannya ke sumber suara.

Gadis itu membeku di tempatnya, tak mampu bergerak.
Buat apa sembunyi, toh ini kan mimpi?

Seseorang keluar dari semak-semak.
Ekspresinya bingung.

"Kamu sedang apa disini?"

Mira sangat terkejut saat ia melihat seorang gadis berambut cokelat tiba-tiba saja melongokkan kepalanya.

"Aku ga tahu-tiba-tiba saja aku ada disini..."

Gadis itu tertawa.

"Kamu ini aneh ya. Hahaha"

"Kamu sendiri kenapa sembunyi di semak-semak begitu, Dik?"

Mira ikutan bersembunyi di sampingnya.

"Aku sedang sembunyi dari kakakku-dia sedang mengumpulkan dedaunan untuk dibuat herbarium"

"Waah...aku juga suka buat herbarium!"

Gadis itu mengernyit.

"Kamu ini pribumi atau keturunan eropa sih? Untuk ukuran pribumi, kamu tahu banyak ya"

Mira mengernyitkan dahinya. Anak ini kurang ajar sekali sih? Memangnya kenapa kalau pribumi tahu banyak hal? Masalah?

Tunggu...
Pribumi atau keturunan eropa?

Mira kini baru sadar bahwa gadis itu memakai gaun dari tahun 1800-an.

"Mein Gott bajumu vintage sekali!"seru gadis itu.

"Kupikir bajumu yang aneh! Ini sedang tren tahu. Sekali-sekali kamu harus mengikuti perkembangan fashion"

Mira tertegun.
Ini mirip mimpi sih...tapi jangan-jangan...akunya sendiri yang jadi time traveller?

Gadis itu merinding. Wajahnya memucat.
A-aku...time traveller? Bagaimana bisa?

Gadis di sampingnya tengah asyik mengintai seseorang. Rambutnya dikepang dua dan ia terlalu nyata untuk disebut sebagai hantu.

"Lihat-kakakku sedang mencariku"kata gadis itu.
"Oh ya. Siapa namamu? Aku Matilda"katanya ramah.
"Mira"jawab Mira sambil menjabat tangan Matilda.

"Mana sih kakakmu? Dari sini aku tak bisa melihatnya"
"Itu loh"

Deg

A-anak...bukan. Pemuda itu!
Aku sering melihatnya dalam mimpi.
Apa dia akan mengenalku?
Jantung Mira berpacu dengan kencang. Ini semua terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi!

Rambut cokelat ikal yang sama.
Pipinya merona dan napasnya terengah-engah.
"Matilda! Kamu dimana?"

"Itu...Jan kan?"tanya Mira ragu.
"Loh? Kamu mengenal Jan?"Matilda bertanya balik.
"Well gimana ya...kenal bukan kata yang tepat..."

"Loh-Matilda kamu sedang demam ya!"
Semburat merah di pipinya terlalu samar untuk dilihat. Dan Mira baru saja mengetahui hal ini.

Cepat-cepat gadis itu melepas jaketnya dan memakaikannya ke Matilda.

Gadis itu lalu berdiri, dan berteriak "Sebelah sini, Jan!"

Jan tertegun. Ia sendiri sering melihat Mira dalam mimpi-mimpinya. Ia mengira bahwa matanya telah mengelabuinya.

"Ayolah, Jan! Gerak cepat dong-adikmu demam nih!"Mira mengomel.

Pemuda itu bergegas menghampiri  mereka berdua.

"Matilda, berapa kali sudah kubilang jangan bersembunyi seperti itu! Lain kali aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi ke hutan"

Jan menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi adiknya. Demamnya tinggi.

"Aku cuma mau main sama kamu, Jan!"
"Iya kita main di rumah saja, ya. Jangan main di hutan dulu, demammu belum turun"

Ia lalu berbicara dengan Mira.

"Terima kasih banyak, ya. Matilda ini memang nakal dan keras kepala. Siapa namamu?"

"Mira"jawab gadis itu dengan gugup. Ia selalu gugup jika harus bicara dengan laki-laki yang seusia dengannya.

Ia terus saja memandangi sepatu botnya.

"Kita sering bertemu, kan di dalam mimpi"Jan nyengir lebar.
"Aku Pieter Jansen. Kamu bisa memanggilku Jan"

"Senang sekali bisa bertemu denganmu, Jan. Benar kan? Kupikir hanya aku saja yang bermimpi seperti itu"

Dia tertawa. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu ya, Mira"

Ditakdirkan?

Dia tersenyum pada Mira. Gadis itu merona merah.

"Jan kamu ini ngapain sih-tuh Mira jadi ikutan demam kan?"

Maksud Matilda adalah supaya kakaknya menyudahi pembicaraan karena udara disini dingin sekali. 

"Kita kan bisa mengajaknya main ke rumah"

Jan tampak menimbang sejenak.

"Aku tidak yakin apakah Mama dan Papa akan mengizinkannya..."

"Begitu ya,"kata Mira. Ia tersenyum kecut.
Lagipula, ini kan zaman penjajahan Belanda.
"Tidak apa-apa, Kok. Oh ya, adakah kiranya pemukiman pribumi terdekat di sekitar sini, Jan?"

"Mira tinggal ikuti jalan ini saja lalu belok ke kanan. Disitu ada sebuah pemukiman besar"katanya.
"Aku bisa mengantarmu kesana-"

Mata Mira melebar ketakutan.
"Sungguh tidak apa kok, Jan. Aku bisa sendiri"
"Hutan ini banyak gerombolannya loh. Yakin?"
"Aku ini master bela diri. Aku bisa mencari jejak pula. Tidak usah khawatir"dia tersenyum.
"Tapi aku khawatir kalau Mira kenapa-napa"
Matilda memicingkan matanya. Jan suka sama Mira kah?
"Lebih baik Jan membawa Matilda pulang. Kasihan dia. Aku bisa diandalkan kok!"

Dengan berat hati Jan meninggalkannya.
"Baiklah kalau begitu, Mira. Hati-hati, ya"
Gadis itu mengangguk, lalu berbalik.

Saat itu juga ia terbangun dari tidurnya.

"Hah? Yang barusan itu mimpi? Kenapa nyata sekali!"
Ia berusaha sebaik mungkin mengatur napasnya. Tubuhnya terasa lelah sekali.

Pada akhirnya, ia bisa bercakap-cakap dengan Jan.
Ia sering sekali bertemu dengan pemuda itu dalam mimpi-mimpinya, begitu pula dengan Jan.
Biasanya, mereka saling melempar senyuman tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dalam hati, Mira masih bertanya-tanya, hal apakah kiranya yang harus ia pecahkan?
Adakah kiranya permintaan terakhir dari Jan atau Matilda yang belum terlaksanakan?

Gadis itu berguling ke kiri sembari mengintip langit malam dari celah tirainya.
Pesan apakah yang hendak kau sampaikan padaku, Jan?


0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design