Senin, 22 Juni 2015

Puchiko: Kisah Seekor Kucing yang Manis dan Baik Hati


Halo, kakak-kakak semuanya. Saya Puchiko. Saya memiliki seekor adik yang bernama Hachi. Kami keturunan angora dan domestik. Kami suka sekali bermain bersama, menangkap belalang/cicak/kecoa, dan main kejar-kejaran. Namun sayang, Hachi pergi mendahului saya saat usia kami baru satu setengah tahun. Puchiko tidak pernah keberatan kalau Hachi ikut makan makanan milik Puchi...tapi sekarang tanpa kehadiran Hachi, rasanya sepi. Hachi yang lembut, manis, dan jarang mengeong. Yang suka dia lakukan adalah mengelilingi kaki Kak Sinta saat ia sedang memberinya makanan.
Puchiko suka sekali menemani Kak Sinta belajar hingga larut malam. Kakak suka belajar di ruang tamu dimana dia akan menggelar buku-buku teks maupun catatan dan juga fotokopian miliknya. Puchi suka menunggui kakak belajar sampai terlelap. Kakak begitu bersemangat. Katanya pada Puchi, ini semua ia lakukan supaya ia dapat lulus dan diterima di sekolah impiannya. Ia ingin membuat keluarganya bangga, katanya. Tapi dengan diterimanya dia disana, berarti Puchi pun akan jarang bertemu dengan Kak Sinta.
Puchi suka memberi ‘hadiah’ pada Kak Sinta dan juga keluarganya. Hadiah itu berupa kadal, tikus, kecoak, dan jugs cicak. Tapi Nenek dan Mama akan menjerit karenanya. Pernah suatu hari saat Keluarga Puchi pulang dari pemancingan dan membawa ikan segar dalam jumlah yang banyak. Ikan-ikan itu ditaruh di dalam ember. Penasaran, Puchi menengok apa yang ada di dalam ember itu.
‘Wah...ikannya banyak sekali ya, Miaw! Kalau aku menangkapnya lalu membagikannya pada semua orang, pasti mereka suka...’
Jadi, Puchi membagikannya ke semua orang yang ada di rumah. Kak Bastian, Kak Sinta, dan Kak Satria sampai tertawa karenanya.
“Dasar klepto,”kata Kak Sinta.
“Kamu ini loh, Chi,”tawa Kak Bastian.
Kak Satria hanya tertawa sambil menepuk-nepuk kepalaku.
Puchi tidak hanya suka menemani Kak Sinta belajar, tapi juga menemani kakak-kakakku yang lainnya. Aku suka ikut menonton saat Kak Bastian dan Kak Satria bermain game bersama, ikut duduk di samping Kak Sinta sambil membaca komik Naruto kesukaannya, menemani Nenek berkebun, dan sebagainya. Puchi juga suka membangunkan kakak-kakak Puchi yang heavy sleeper untuk solat subuh. Hehehe...
Jumat lalu, tanggal 19 Juni, Puchi dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dalam usia 5 tahun, karena sakit. Keluargaku sangat sedih karenanya. Puchi dimakamkan di kebun, tempat favorit Puchi untuk bermain semasa hidup.
Istirahat yang tenang ya, Puchiko...salam untuk Hachi. Kami semua selalu menyayangimu :”)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Starry Nights' Thoughts Template by Ipietoon Cute Blog Design